
Hari pun mulai memburu pagi dan menunjukkan eksistensinya yang cerah di mana saat ini tepatnya di Indonesia sedang jam 4:20 WIB yang tentunya banyak orang yang masih dalam tidur nyenyak mereka.
Tapi tidak dengan Putri, wanita itu di saat jam seperti ini sudah bangun dan menjadi rutinitasnya setiap hari karena ia akan membantu ibunya untuk membuat gorengan.
"Pagi Ma!" seru Putri menghampiri sang ibunda yang tengah membuat adonan empek-empek. Kemudian ia pun mencium pipi Narni.
"Pagi juga sayang," jawab Narni tanpa melirik ke arah sang anak yang baru saja bangun dari mimpi indah.
"Ma, Putri harus ngapain?" tanya Putri yang belum tau apa yang harus dilakukan untuk membantu ibunya karena semuanya tampak sudah diselesaikan oleh Narni. Narni memberi adonan empek-empek yang masih tersisa kepada Putri dengan maksud Putri menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Dengan senang hati Putri mengambil adonan tersebut dari tangan Narni. Sebelum menggoreng empek-empek, Putri berjalan ke arah Tv dan dan menyalakannya. Paling enak jika membuat adonan sambil menonton tv. Ia dengan cekatan mencari chanel yang menayangkan Berita, baik berita dalam negeri maupun Luar negri.
Setelah mendapatkan tayangan yang menarik, Putri langsung beranjak dari situ dan berjalan ke arah dapur. Ia mulai menggoreng satu persatu adonan tersebut dengan lincah.
Setelah selesai menggoreng, Putri pun mencuci piring yang bertumpuk di Wastafel. Ia mencuci dengan hati-hati dan memperhatikan betul setiap inci piring yang ia cuci agar tidak ada lagi bakteri yang melengket di piring yang ia cuci.
Putri mengambil piring terakhir yang merupakan piring yang terbuat dari kaca. Dirinya juga turut mengambil spon yang digunakan sebagai alat perantaranya mencuci dan dan ditumpahkannya Mama Lemon di spon tersebut kemudian spon dilap ke piring yang hendak di cuci tadi.
Dengan penuh hati-hati ia melakukannya, namun tiba-tiba perasaanya menjadi gelisah tak menentu, ia merasakan khawatir tapi tidak tahu apa yang sedang ia Khawatirkan. Tanpa Putri sadari saking gelisahnya ia melupakan piring yang sedang ia cuci sehingga piring yang masih berada di tangannya yang penuh dengan sabun pun jatuh ke lantai mengenai keramik akibat licinnya sabun.
PRANGGGG
Putri terkejut mendengar suara kaca yang jatuh.Ia baru sadar jikalau sedang mencuci piring. Putri langsung berjongkok ingin membersihkan beling, namun naas tangannya yang ingin memungut beling tersebut tertusuk tajamnya beling tersebut.
Ia meringis kesakitan melihat darah keluar dari jari telunjuk. Dengan cepat Putri mengelap darah tersebut ke sisi bajunya untuk memberhentikan pendarahan. Kemudian ia meniup-niup jari telunjuknya dengan pelan-pelan.
Tv yang sedari tadi menyala dan menampilkan berita membuat lamunan Putri buyar saat mendengar hal yang akan dibahas oleh pembawa acara tersebut.
"Balik lagi bersama saya Nuri Rencika. Di sini saya akan menyampaikan tentang kecelakaan maut di New Zeland. Dimana sebuah mobil SUV dan Truk pengangkut minyak tanah bertabrakan, polisi menjelaskan bahwa mobil dan Truk melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan sehingga mobil maupun truk tidak menyadari jika ada mobil di depan mereka. Dan informasi yang kami dapatkan juga adalah bahwa yang mana pengendara mobil sedang dalam emosi. Mobil dan juga Truk terbakar, sedangkan supir truk meninggal di tempat dan pengendara mobil dalam keadaan koma. Yang mengejutkan lagi pemirsa ternyata korban kecelakaan maut ini salah satu dari pewaris kekayan MEN------" ucapan pembawa acara tersebut seterusnya tidak didengar Putri karena dengan tiba-tiba Narni memanggil Putri.
"Apa yang terjadi Put?" Tanya Narni yang baru saja dari toilet. Ia keluar saat mendengar suara kaca yang terjatuh dari dapur jadi dengan cepat ia menghampiri ke dapaur.
"Gak ada kok ma. Cuman piring aja yang jatuh karena tangan Putri yang licin"
Narni menghela napas lega, dikiranya tadi sedang terjadi sesuatu dengan anaknya, toh ternyata cuman piring saja yang jatuh.
"Lain kali hati hati."
"Iya Ma."
__ADS_1
Putri pun membereskan beling bekas pecahan piring ke tempat sampah. Setelah semuanya beres ia masuk ke kamar mandi yang terletak di luar kamar di dekat dapur.
Putri membilas mukanya sebentar dan menggosok gigi. Setelah kegiatan kecil membersihkan badan sudah ia lakukan, kemudian ia langsung menanggalkan pakaiannya dan mandi menggunakan cebok.
Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian sekolah yang sudah ia siapkan saat ia bangun tidur tadi. Putri melirik ke arah tubuhnya apakah ia sudah rapi. serasa rapi, Putri memutar knop pintu kamar mandi dan melenggang ke arah kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Putri melirik ke arah jam dinding yang berada di pojok ruangan.
"Huftt, masih jam 5:30 WIB," lirihnya yang terus menatap ke arah jam.
Entah mengapa tiba-tiba Putri kepikiran Ardi, yaitu orang yang berhasil memporak porandakan hatinya selama ini. Tak tersadar air mata berhasil lolos dari mata indah Putri, ia sangat merindukan ArdiĀ saat ini tapi apakah Ardi juga merasakan hal yang sama dengannya? Dan ini lah yang masih menjadi tanda tanya bagi Putri.
Ia merebahkan badannya ke kasur dan menatap lurus ke atas dengan tatapan kosong. Lagi-lagi ia memikirkan Ardi yang belum tentu juga memikirkannya.
Jika mengingat hal itu sungguh membuat dada Putri sesak. Ia memegang dadanya bagian kiri sambil terisak-isak.
"Apakah aku harus menyusul mu ke New Zeland Ar?" Putri bermonolog.
*******
'Pippp' dan layar monitor tersebut menampilkan garis vertikal.
Angelina berteriak histeris mendengar layar monitor yang berhenti mengeluarkan suara "Tidak..tidak! tidak mungkin ini semua pasti bohong, hiks hiks ini bohong kan sayang?" tanya Angelina karena Ia berpikir pasti semua ini bohong.
Salah satu suster menyuruh mereka agar keluar dari UGD agar penanganan pasien lebih efisien. Angelina memberontak saat suster tersebut menyuruh ia keluar dari ruangan.
"Tidak, tidak! Saya tidak akan keluar. Saya ingin melihat anak saya Sus hiks~hiks~hiks." Anthoni dengan terpaksa membawa Angelina keluar.
Angelina memberontak saat Anthoni menyeret paksa ketika ia ingin melihat anaknya yang sedang berjuang, ia ingin merasakan juga apa yang dirasakan Ardi. Tentu seorang ibu tidak akan pernah tega melihat anaknya terluka.
"Pa, Ardi pa, hiks," lirih Angelina terisak-isak.
Mengapa harus Ardi yang merasakan ini? Ia tidak akan pernah rela jika ada terjadi sesuatu dengan Ardi. "Iya aku tau Lina."
Sedangkan di dalam UGD Ardi sedang berjuang untuk mempertahankan hidup. Dokter dan suster sedang kalang kabut menangani Ardi saat melihat layar monitor menampilkan garis vertikal.
Dokter dengan cepat mengambil alat untuk memompa jantung yaitu Defibillator. Dokter tersebut membuka kancing baju pasien Ardi dan menempelkannya ke dada bidang Ardi.
Berkali-kali Dokter menekankan Defibillator ke dada Ardi sehingga badan Ardi melambung mengikuti Defibillator saat diangkat namun sampai sekarang belum membuahkan hasil. Ardi masih menutup matanya dan layar monitor juga belum menampilkan garis zigzag.
__ADS_1
Dokter hampir putus asa menangani Ardi, namun dokter ingin mencoba sekali lagi. Dokter tersebut menarik napas dalam dan menggumamkan doa-doa sebelum akhirnya memompa jantung Ardi.
Namun hasilnya tetap Nihil, belum ada tanda-tanda kehidupan pada Ardi. Dokter tersebut menghela napas putus asa dan menggelengkan kepalanya kepada suster yang berada di situ.
Dokter tersebut yang tak lain adalah Lican keluar dari ruangan tersebut untuk menemui Angelina dan Anthoni menyampaikan berita duka kepada mereka.
Angelina yang melihat Lican keluar dengan cepat berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Lican dan menanyakan bagaimana keadaan anaknya.
Angelina merasa ada sesuatu saat melihat wajah Lican yang muram dan sedih, Angelina menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir tidak henti-hentinya dan menggoyangkan badan Lican dengan kuat namun Lican tetap diam.
Anthoni yang merasa jengah melihat Lican yang belum juga membuka suara pun membentak Lican keras sehingga orang yang sedang berada di sana menolehkan matanya ke arah mereka.
"BAGAIMANA DENGAN KEADAAN ANAK SAYA?,JANGAN DIAM SAJA SEPERTI PATUNG!"
Lican menarik napas sebelum memulai pembicaraan, "maaf." Lican tertunduk dan melanjutkan kata katanya, "maafkan saya___." belum sempat Lican melanjutkan kata katanya tapi Angelina memotong perkataannya.
"Saya tidak ingin mendengar kata maaf mu sialan, cepat katakan bagaimana keadaan anak saya hiks." Ia memukul dada bidang Lican yang keras.
Saat Angelina ingin memukul dada Lican sekali lagi namun tangan Anthoni menghentikan aksinya. "Lina sudah, biarkan Lican menjelaskannya."
Di bawanya Angelina ke dalam pelukannya, dan ditatapnya Lican.
"Dan kamu cepat katakan," tunjuk Anthoni menggunakan dagu.
"Ardi tidak bisa diselamatkan," jawab Lican to the point.
Tidak bisa dipungkiri Angelina sangat sakit mendengar berita yang memilukan. Ia menyesal telah menyetujui perjodohan itu yang mengakibatkan anaknya seperti ini.
Anthoni yang jarang menangis pun akhirnya satu tetes lolos air mata lolos dari mata birunya ia juga sedih mendengar perkataan Lican.
Angelina yang ingin menampar Lican pun diurungkannya saat salah satu suster berlari cepat ke arah Lican dan mengatakan sesuatu yang membuat senyumnya terbit
"Dok, jantung pasien berdetak kembali!!" Seru suster tersebut.
*****
Tbc
By: Amanda
__ADS_1
Ig:amanaferina06
Follw kuy jika ingin tau informasi dari Author