
Putri jadi malu sendiri kepada Rafin akibat kebodohannya yang makan sendirian. "Lo mau popcorn?" Putri menyodorkan Popcorn yang hanya tinggal setengah ke arah Rafin.
"Ceritanya nih baru sadar bahwa dari tadi makan sendirian tanpa menghiraukan orang yang di sebelah dan juga yang tukang bel?i"
Putri jadi tidak enak kepada Rafin, ini semua salahnya yang tidak tau diri sekali, siapa dia yang seenaknya memakan punya orangĀ tanpa membagi yang membeli.
"Maaf Fin, lo mau ya," ucap Putri. Ada nada penyesalan di kalimatnya. Namun permintaan Maaf Putri tidak digubris Rafin, ia hanya diam sambil menonton dan tidak menghiraukan pernyataan Maaf Putri seperti dia menganggap pernyataan tersebut hanya angin lalu.
"Lo marah ya?" Mata Putri mulai berkaca kaca melihat Rafin yang tidak memperdulikan maafnya. Rasa haus yang tadi sempat ia rasakan kini hilang begitu saja.
Rafin yang menatap mata Putri yang memerah menjadi tertawa terbahak bahak melihat perubahan Putri, sungguh ia tadi hanya berpura-pura merajuk. Banyak pasang mata yang menatap Rafin heran, Rafin yang menyadari itu langsung membekap mulutnya sendiri menghentikan tawanya. Putri yang melihat Rafin tertawa mengernyitkan alis bingung, padahal dirinya sebentar lagi ingin menangis tapi Rafin malah tertawa terbahak-bahak tanpa alasan. Ia terus menatap heran Rafin, apa jangan-jangan Rafin sudah gila ya?
"Gak usah mikir yang aneh-aneh," kilah Rafin kepada Putri yang sedang berfikiran aneh tentang dirinya.
Putri melongo tidak percaya kok bisa bisanya Rafin mengetahui ia yang sedang berfikiran aneh, duh kok jadi seram ya. Mana lagi suasananya horor. "Kok lo tau sih Fin?"
"Gue tau dari tatapan mata lo. Kenapa gue ketawa, karena tadi itu gue cuman bercanda merajuk."
Putri langsung mencubit lengan Rafin. Bisa-bisanya Rafin mempermainkan dirinya yang sebentar lagi akan menangis akibat ulah laki-laki itu.
"Dasar kamu ya." Putri mengerucutkan bibir kesal.
__ADS_1
"Eits- tapi bukan gue sudah maafin lo, gue belum maafin lo ya."
"Jadi gue harus gimana dapat maaf dari lo?"
Rafin menyeringai licik. "Ada syarat nya." Rafin menyodorkan pipi mulusnya kepada Putri dan menepuk-nepukan menggunakan jari telunjuk di pipinya. "Lo harus kiss gue dulu."
Putri menatap Rafin tidak percaya, tidak adakah syarat lain selain harus cium tu anak. Kan kalau ia penuhi yang ada ia malu sendiri jika ada yang melihat aksi panasnya.
"Gak ada syarat yang lain Fin, kok harus kiss sih." Putri menggerutu.
Rafin menggeleng bertanda tidak ada lagi syarat yang lain. "Gak ada. Jadi mau kiss atau gue gak maafin lo?"
Mereka terdiam dengan bibir yang masih saling menempel dan bertatapan beberapa detik, namun aksi mereka harus terhenti saat salah satu pengunjung Bioskop berdahem. "Akhem akhem." Putri langsung sadar dan cepat menjauhkan bibirnya dari bibir Rafin.
"Maaf," Putri langsung salah tingkah dan mukanya memerah merona. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya ia mencium Rafin dan apalagi di tempat umum. Hellow mau di mana mukanya diletakkan jika ada teman satu sekolahnya yang melihat. Ia menutup mukanya dengan kedua tangan agar orang tidak dapat melihat rona wajahnya.
Rafin masih diam hanya dengan sebuah kecupan singkat mampu membuat ia tidak bisa berkutik lagi, ia menjadi mati kutu karena dapat kecupan yang tiba tiba dari Putri. Rafin tersadar saat ada sebuah tangan yang melambai lambai di depan wajahnya, ia menoleh kearah samping dan ternyata orang yang melambaikan tangan adalah Putri.
"Kamu kenapa Fin?"
"Seharusnya gue yang nanya lo kenapa, kok muka lo merah?"
__ADS_1
"Gak papa malu aja," ucap Putri tanpa berbohong, Emang ia saat ini sangat malu.
"Kok lo yang malu sih, kan lo yang mulai. Atau lo mau lagi juga boleh." Ia memajukan bibirnya dan mendekatkan ke wajah Putri. Putri yang merasa sudah sangat malu langsung menabok bibir Rafin.
"Kok ditabok sih?"
Putri tidak menanggapi pernyataan Rafin yang konyol. Ia terus menatap kearah layar lebar.
"Kok gue dicuekin sih?" Rafin menatap kesal kearah Putri dan dengan sekali tarikan ia mengambil popcorn dari pangkuan Putri.
"Emang kenapa? Marah?"
"Apa yang telah kita lakukan tadi dan kamu menganggap aku hanya teman biasa?" tanya Rafin yang sok bersama.
Mereka akhirnya menonton dengan tenang dan tegang yang mereka rasakan, apalagi Putri yang sangat penakut harus di suguhkan pemandangan yang horor. Di tengah menonton ada sebuah tangan yang menggenggam tangan Putri erat. Putri langsung memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan genggaman Rafin. "Biarkan begini" entah angin mana yang membuat Putri mengangguk mengiyakan. Rafin yang mendapatkan persetujuan Putri, ia semakin kuat menggenggam tangan Putri. Dan begitulah dengan seterusnya, mereka nonton sepanjang film dengan tangan yang bergenggaman dan juga di selimuti rasa tegang dan takut.
******
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1