
Setelah menyadari kalau saat ini Putri sedang ditangkap oleh Rafin ketika ia hampir saja terjatuh, dengan cepat ia berdiri dan melepaskan kontak mata mereka yang berlangsung beberapa detik namun cukup menegangkan. Banyak siswa dan siswi memperhatikan adegan romantis tersebut.
Dan tidak sedikit pula yang menatap sinis mereka dan mengata-ngatai Putri. Sheren yang melihat itu sangat sebal, karena ia juga salah satu dari penggemar Rafin yang kecentilan minta ampun.
Sheren merupakan sisiwi yang tercantik di SMAN 1, banyak lelaki yang menyukai dia namun Sheren tidak menghiraukan mereka. Malahan jika ada seseorang yang berani menyatakan perasaannya kepada Sheren, ia tidak segan-segan menolak dan menghina mereka. Sebab Sheren mencintai Rafin jadi ia tidak mau yang lain kalau bukan bersama Rafin.
Putri tersenyum kikuk ke arah Rafin, ia jadi salah tingkah dan malu kepada siswa yang lain dan tengah memperhatikannya terutama juga tentunya dengan Rafin.
"Ck. Dasar orang modus, sengaja ya jatuhnya ke arah Rafin!!" Sheren menatap Putri dengan tatapan sinis dan jijik. Kedua tangannya dilipat dan satu kakinya berdiri dengan lurus dan satunya lagi agak bengkok.
Putri menunduk, ia takut gara-gara ia acara perpisahan ini jadi berantakan apalagi ia mendengar perkataan Shren yang merendahkan dirinya. Padahal ia lah yang menyenggol Putri namun dengan tega-teganya ia menyebut Putri sengaja melakukan itu.
"Sheren diam lo, pening gue dengar mulut lu ngoceh terus!" bentak Rafin kepada Sheren karena ia kasihan melihat Putri yang menunduk ketakutan akibat ulah Sheren yang tak berperikemanusiaan.
Sebenarnya juga Rafin tau jika Sheren lah yang menyenggol Putri tadi dengan sengaja.
"Lo gak papa kan?" Rafin menatap lembut ke arah Putri den memperhatikan Putri. Ia tersenyum melihat Putri yang ia rasa tidak ada terjadi hal yang serius yang Putri alami.
Putri menganggukkan kepalanya ketika Rafin menanyakan keadaan dirinya setelah disenggol Sheren.
"Gue gak papa ko Fin."
"Bagus deh kalau gitu."
"Iya, Makasih Fin."
Rafin tersenyum, "sama-sama."
Riyan berdahem ke arah Rafin dan Putri, "akhem akhem... serasa dunia milik berdua," ujar Riyan yang sengaja menatap ke arah lain seolah-olah ia tidak bertanggung jawab dengan ucapan yang ia lontarkan.
"Iya juga ya Yan, berasa jadi obat nyamuk kita." Irvan juga ikut meledek mereka.
Cintisa memutar bola mata malas melihat mereka.
"Kalian berdua ni apaan sih."
"Apaan, apanya?" tanya Irvan tak mengerti.
"Lo cemburu yaa?" ledek Irvan kepada Cintisa.
Spontan Cintisa langsung mempelototi Irvan. Kenapa juga ia cemburu, "enak aja lo ngatain gue cemburu!"
Irvan dan Riyan tergelak mendengar perkataan Cintisa. Cintisa memalingkan wajahnya angkuh dari mereka dan menatap Putri dan Rafin yamg sedang menonton pertengkaran mereka.
"Apa?" tanya Cintisa karena ia menatap sahabatnya tersebut senyum-senyum ke arah dirinya.
Ia segera menghampiri Putri, "lo gak apa-apa, kan" Cintisa memperhatikan seluruh tubuh Putri kalau-kalau ada bagian yang lecet. Serasa Putri baik-baik saja Cintisa melirik ke arah Seheren, " ini semua gara-gara lo," ucap Cintisa sisnis.
"Guys cabut yuk," seru Sheren kepada gengnya.
"Syukurin tu nenek Lampir pergi juga kan Akhirnya" Cintisa muak melihat mereka yang sok berkuasa di sekolah ini.
"Nanti pulang sekolah gue anter ya?" Rafin menawarkan tumpangan untuk Putri agar ia bisa pulang bersama dirinya.
Putri bingung harus menjawab apa. Cintisa menyenggol Putri dan memberi kode agar Putri menerima tawaran Rafin. Kan lumayan pulang bareng orang cakep, pakai mobil mewah lagi.
__ADS_1
"Yeleh pakai acara bingung lagi ni anak, terima aja ngapa Put! Fin anter aja Putri pulang, kan kasian dia gak ada tumpangan pulang nanti." Mata Putri terbelalak mendengar jawaban Cintisa yang seenak jidatnya saja. Yang ikut siapa yang jawab siapa.
"Cintisaaa!!" Putri mencubit lengan Cintisa, karena berani-beraninya ia memutuskan sendiri tanpa meminta pendapat dari Putri terlebih dahulu.
"Awww, sakit tau " Cintisa meringis kesakitan saat mendapatkan hadiah cubitan dari sahabat sialannya.
"Jadi gimana mau gak?"
"Eh- iya deh, gue mau."
"Yaudah nanti gue tunggu lo di parkiran."
"Iya."
"Gue cabut duluan."
Putri mengangguk memberikan isyarat bahwa ia membolehkan Rafin pergi.
Putri melirik ke arah Cintisa yang memberikan senyuman jahil ke arah dirinya.
"Apa?"
"Cieh yang bakalan diantarin pulang sama cogan."
"Biasa aja." Putri meninggalkan Cintisa sendirian di tempat itu.
"Oi Putri, tungguin gue ngapa!" teriak Cintisa sambil berlari ke arah Putri yang lumayan jauh.
******
Ia tak sabar lagi ingin melihat wajah Ardi, apakah masih imut seperti dahulu atau tidak. Ia juga tak sabaran lagi ingin melihat ekspresi Ardi saat mereka bertemu nanti.
Membayangkan itu membuat dirinya semakin merindukan sosok Ardi. Putri memberikan senyuman saat orang-orang yang berpas-pasan dengan dia menyapa Dirinya.
Putri pun sampai di parkiran. Di situ ia melihat Rafin yang sedang menunggu dirinya tengah duduk di mobil bagian depan dan telapak kaki kiri di tempelkan nya di mobil sambil bermain handphone.
"Rafin!!" Putri melambaikan tangannya ke arah Rafin. Rafin yang mendengar sapaan tersebut menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum melihat Putri yang berjalan ke arah dirinya.
Rafin membuka kan pintu mobilnya dan membiarkan Putri masuk ke dalam mobil Sedan milik Rafin. Rafin mengitari mobil tersebut dan duduk di bagian kemudi di samping Putri.
Putri melirik ke arah Rafin dan tersenyum.
Rafin melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan sekolah.
"Put kita mampir ke cafe yuk," ajak Rafin. Ia melirik ke arah Putri agar ia lebih leluasa lagi berbincang kepada Putri.
Putri mengangguk setuju.
******
Akhirnya mereka sampai juga di salah satu Cafe di Jakarta.
"Lo mau pesan apa?" Rafin memberikan daftar menu kepada Putri.
Putri mengambil daftar menu tersebut. Mata Putri terbelalak dan menelan salivanya saat melihat daftar menu tersebut, yang mana daftar harga makanan itu tertera di situ ditambah dengan harga yang lumayan menjelit.
__ADS_1
Bagaimana tidak sedangkan air putih saja harganya Rp.5000. Kalau seperti ini Putri lebih baik bawa air dari rumah. Belum lagi menu yang lain, ada yang mencapai ratusan bahkan jutaan.
'Gila, ni makanan apa emas, makanan kok mahal amat harganya. Duh gue jadi bingung, gimana gue bayarnya kalau segini harganya. Duet gua mah mana cukup,' batin Putri. Putri menjadi gelisah sendiri, ia mendongak kearah Rafin dan tersenyum kecut.
Rafin yang melihat ekspresi Putri rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak saat ini juga. Putri sangat menggemaskan jika ia sedang khawatir bagi Rafin.
"Pesan aja yang lo mau."
Putri langsung mendongak dan menatap Rafin tak percaya.
"Lo seriusan, ni mahal banget loh!"
Akhirnya lepas juga tawa Rafin yang sedari tadi ia tahan. Putri mengernyit bingung, kenapa Rafin ketawa padahal tidak ada yang lucu di sini.
"Lo kok ketawa Fin?" tanya Putri polos.
"Gue ketawa gara-gara ngeliat ekspresi lo."
"Maksud lo apaan? Gue gak ngerti."
"Pesan aja yang lo mau, duit gue gak akan habis untuk traktir lo. Jadi tenang aja," tutur Rafin dengan sombong. Putri berdecak sebal melihat Rafin yang menyombongkan diri. Dia tahu tau saja jika mencari uang sangatlah susah.
"Gue ini aja," tunjuk Putri ke arah air putih dan Nasi goreng. Karena menurutnya itu yang lebih murah dari pada yang lain.
"Lo seriusan mau yang itu?" tanya Rafin meyakinkan.
"Iya Rafinnn!!"
"Yaudah mbak pesan Nasi goreng, KFC, dan minumnya jus jeruk dan air putih," ucap Rafin kepada pelayan Cafe. Pelayan tersebut beranjak meninggalkan mereka untuk menyiapkan pesanan Rafin dan Putri.
"Put, perasaan gue kemarin ke rumah lo cuman liat nyokap lo, bokap lo kemana?" Mendengar pertanyaan Rafin mendadak Putri menjadi lesu dan sedih. Rafin yang melihat itu menjadi gelagapan sendiri. "Eh- kalau gak bisa jawab gak apa ko. Abaikan aja."
Putri tersenyum miris ke arah Rafin dan menundukkan kepalanya kemudian ia mengangkat kembali menatap mata Rafin.
"Bokap gue udah meninggal sejak gue dalam kandungan," lirih Putri.
"Put maafin gue."
"Gak apa ko Fin"
"Serius lo gak papa?" tanaya Rafin memastikan.
Putri hanya mengangguk.
"Gimana dengan cinta pertama lo, masih mau perjuangin dia. Apalagi lo dapet bea siswa kuliah di New Zeland?" tanya Rafin basa-basi.
"Iya," jawab Putri dengan penuh semangat.
Entah mengapa Rafin yang mendengar itu ada rasa sakit di hatinya. Ia hanya bisa tersenyum kecut melihat tanggapan Putri yang penuh dengan semangat.
Tak lama makanan mereka datang. Mereka makan dengan penuh hikmat dan tawa.
*********
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.