Di Antara 2 Benua

Di Antara 2 Benua
Part 14


__ADS_3

*****


'BUGHH'


Mobil Ardi yang juga tak kalah cepatnya pun kemudian bertabrakan dengan sebuah truk pembawa minyak tanah.


Alhasil truk dan mobil SUV milik Ardi terbakar.


Kepala Ardi membentur stir mobil. Darah segar keluar dari kepala bagian depan dan juga kaca mobil tersebut pecah sehingga salah satu pecahan kaca tersebut menggores lengan Ardi dengan cukup dalam.


Keadaan Ardi saat ini sangat susah untuk dideskripsikan penampilannya jauh dari kata baik karena hodie putih yang Ardi kenakan penuh berlumuran darah, bahkan warna putih tidak terlihat lagi karena penuh dengan warna merah pekat.


Mobil Ardi juga ikut terbakar. Api mulai melalap mobil Ardi dengan perlahan di bagian belakang sedangkan Ardi masih berada dalam kondisi tak sadarkan diri.


Para pengguna jalan yang melihat kecelakaan itu pun langsung berkumpul untuk melihat lebih jelas. Salah satu warga berusaha untuk menyelamatkan Ardi yang masih berada di dalam mobil.


Warga akhirnya berhasil menyelamatkan Ardi dari api yang dengan gencarnya melalap habis mobil SUV Ardi. Setelah Ardi berhasil diselamatkan dan keluar dari Zona bahaya itu pun terjadi sebuah letusan dari mobil yang Ardi tumpangi.


DUARRRR


Itu adalah sebuah letusan yang berasal dari mobil Ardi.


Selang beberapa lama polisi dan pemadam kebakaran datang untuk mengevakuasi lebih lanjut.


Ardi dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diselamatkan dengan menggunakan salah satu mobil yang berada tak jauh dari tempat kejadian. Orang yang berada di bagian tempat duduk belakang mobil mencek pernapasan dan urat nadi Ardi.


"Nadi nya semakin lemah dan napasnya semakin berkurang," ucap orang yang bertugas menjaga Ardi.


Sang supir melirik Ardi melalui kaca mobil yang tergantung di depan. "Sepertinya saya mengenal siapa dia!" ucap sang supir yang merasa familiar dengan wajah Ardi.


Ramon yang merupakan menjaga Ardi di belakang pun memperhatikan wajah Ardi dengan seksama, ia juga merasa familiar dengan wajah ini.


"Bukan nya dia pewaris kekayaan Menako ya?" Tanya Ronze yang merupakan supir dari mobil itu. Ramon kaget bukan main dan melihatnya sekali lagi wajah Ardi yang berlumuran darah.

__ADS_1


"Iya, kamu benar Ron."


"Kita harus cepat sampai, dia bukan orang sembarangan."


Ramon menganggukkan kepalanya yang bertanda menyetujui ucapan Ronze. Ronze melajukan mobilnya kencang agar cepat sampai ke rumah sakit dan Ardi cepat ditangani oleh Dokter.


******


Angelina dan Anthoni dengan cepat menghampiri dokter yang menangani Ardi keluar dari ruangan UGD.


"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya Angelia dengan air mata yang berlinang.


Dokter tersebut menatap kedua orang tua Ardi dengan sendu yaitu tatapan yang mengisyaratkan bahwa ada hal buruk yang dialami Ardi. Angelina yang merasa bahwa Dokter tersebut lambat berbicara, ia membentak dokter laki-laki muda itu.


"CEPAT KATAKAN BAGAIMANA KEADAAN ANAK SAYA?!!" teriak Angelina dengan menekankan semua kata-kata yang ia ucapkan.


"Sayang sudah, jangan teriak lagi kasian dengan pasien yang lain." Anthoni menegur istrinya yang berteriak membentak dokter tersebut.


"Bagaimana aku mau tenang kalau anak aku dalam masa kritis?"


"Begini, pasien sedang dalam masa kritis ia mengalami koma untuk beberapa bulan ke depan, harapan hidup pasien sangat kecil semoga saja ada keajaiban dari Tuhan untuk pasien." Sebelum melanjutkan kata-katanya, Lican menarik napas dalam, "dan jika pasien selamat maka ia kan mengalmi Amnesia dan juga tangan pasien terluka parah karena ada pecahan kaca yang cukup besar menancap di tangan kanan pasien hingga mengalami infeksi."


Angelina tercekat mendengar penjelasan dari dokter, Ia semakin menangis kencang. Angelina memeluk Anthoni erat menumpahkan perasannya.


"Aku bilang hentikan Ardi, tapi kamu tidak mendengarkan ku sama sekali hiks hiks."


"Maafkan aku, andai saja aku tau kalau jadi begini aku pasti nurutin kamu." Ia menyesal tidak menghentikan anaknya. Tidak bisa dipungkiri jika Anthoni sangat mencemaskan Ardi.


Dokter Lican yang sedari tadi melihatkan aksi mereka pun membuka suara sehingga kedua insan pun tersadar bahwa mereka tidak hanya berdua di sana. "Saya mohon undur diri, dan jika kalian ingin menjenguk pasien bisa masuk sekarang juga."


Angelina dan Anthoni mengangguk bahwa mereka mengerti dan mempersilahkan dokter tersebut pergi dari situ.


Tidak menunggu lama Angelina dan Anthoni segera masuk ke ruangan UGD dengan mengenakan baju khusus berwarna hijau.

__ADS_1


Angelina menatap sedih anaknya. Ia melihat sang anak sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan mata tertutup.


Banyak sekali selang di badan Ardi saat ini. Di bagian samping barankar juga terdapat layar monitor yang menampilkan detak jantung Ardi yang lemah.


Angelina duduk di kursi yang berada di samping brankar ia menangis melihat anaknya yang seperti ini. Angelina meraih tangan Ardi dan menggenggam erat dengan pandangan yang tak lepas dari Ardi.


"Ar maafkan mama, hiks hiks kamu dengar mama, kan??? Mama tau kamu cuman mau bohongin mama karena kamu gak mau dijodohkan, Ar buka matamu tatap mama!!!" Racau Angelina dengan tak henti hentinya menangis. Satu tetes air mata Angelina jatuh mengenai tangan Ardi yang digenggam nya.


Namun sampai saat ini belum ada perubahan terhadap Ardi. Ia masih tetap setia menutup matanya. Angelina mengangkat tangan Ardi dan menaruh di pipi bagian kanan nya, ia terus menatapi sang anak dengan seksama.


Anthoni yang sedari tadi hanya melihat Ardi menghampiri sang istri dan memeluknya.  Anthoni mengusap punggung sang istri berharap dengan begitu Angelina bisa tenang.


Tangis Angelina semakin lemah dan reda ia tersenyum melihat Ardi dan tangannya ia gunakan untuk memegang luka yang berada di kepala ardi dan juga pelipis, kira-kira ada lima jahitan di kepala Ardi.


"Sayang kita doakan saja semoga Ardi diberikan keselamatan oleh Tuhan." Angelina mendongak menatap Anthoni yang tersenyum lebar setelah itu ia mengalihkan tatapannya ke Ardi dengan senyum getir.


Ia berdiri dari tempat duduk yang menjadi sanggaan bokongnya dan mencondongkan badannya ke arah wajah Ardi. Ia mengecup lama dahi Ardi.


Angelina beranjak dari situ dan digantikan dengan Anthoni yang mengambil alih posisi Angelina tadi. Ia juga sama melakukan apa yang Angelina lakukan barusan, ia mengecup dahi Ardi dan membisikan kata kata.


"Cepat sembuh, papa sayang kamu Ar. Maafkan papa, papa terpaksa melakukan itu." Setelah menggumamkan kata-kata, Anthoni beralih tempat ke arah sedikit jauh dari brankar.


Angelina dan Anthoni berencana ingin keluar dari ruang UGD namun ia urungkan saat melihat tubuh Ardi yang kejang-kejang.


Angelina dengan cepat menekan tombol darurat, ia semakin menangis kencang melihat Ardi yang seperti itu, "hiks hiks hiks Ardii!" teriak Angelina lirih.


Anthoni menahan tubuh Angelina yang ingin jatuh ke lantai dengan kedua tangan nya. Di peluk nya Angelina.


Tak lama sebuah pintu dibuka oleh Dokter yang menangani Ardi. Namun baru setelah masuk satu langkah terdengar suara dari layar monitor.


'Pippp' dan layar monitor tersebut menampilkan garis vertikal.


******

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2