
"Dok jantung pasien berdetak kembali!!" seru dokter tersebut.
Dengan cepat gesit bagaikan kilat, Lican langsung lari ke arah ruangan Ardi ditangani.
Anthoni dan Angelina juga berlari ke arah ruangan tersebut tapi ia tidak masuk ke dalam, ia hanya menyaksikan anaknya dari luar melalui kaca buram yang menjadi pembatas.
Sedangkan di dalam ruangan, Lican sedang memeriksa Keadaan Ardi. Sungguh ajaib Ardi bisa hidup kembali. Bukankah itu Anugerah?
Selesai memeriksa keadaan Ardi, Lican keluar untuk memberi informasi keadaan Ardi kepada Anthoni dan Angelina.
Angelina yang melihat Lican keluar dengan segera menghampiri Lican.
"Bagaimana keadaan Ardi?" tanya Angelina dengan penuh harap kepada Lican. Ia berharap dapat mendengar kata baik di telinganya bukan yang lain.
Sebelum berkata-kata, Lican tersenyum ke arah Angelina dan kemudian melirik Anthoni.
"Pasien baik-baik saja, sungguh keajaiban Ardi bisa hidup kembali tapi ia belum bisa dipastikan kapan Ardi sadar dari komanya," tutur Lican dengan wajah yang sedih saat mengucapkan hal itu di akhir kalimat.
Meskipun belum bisa dipastikan Kapan Ardi akan sadar, Angelina tetap bahagia mendengar kabar itu, yang penting baginya Ardi tidak jadi meninggalkan Angelina. Angelina tersenyum ke arah Lican dan mengucapkan kata-kata keramat sebagai bentuk tanda syukur. "Terimakasih!"
Lican mengangguk menandakan ia menerima ucapan terimakasih dari Angelina. Setelah serasa tidak ada lagi yang perlu dibahas Lican pamit undur diri.
"Ah, Mrs.Menako dan Mr.Menako saya pamit undur diri dahulu!"
Sebelum mengiyakan Angelina melayangkan sebuah pertanyaan yang dari tadi mengganjal.
"Jadi apakah kami bisa masuk menjenguk Ardi ke dalam?" tanya Angelina penuh harap.
"Bisa Mrs," jawab Lican dengan diiringi senyuman manis di bibirnya.
Tanpa babibu lagi Angelina dan Anthoni segera masuk ke dalam. Lican yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.
*******
1 tahun kemudian
Indonesia
(Jadi tanggal 3 Juli kemarin pas Putri ulang tahun ialah, Putri baru naik kelas XII).
Di SMA N 1 JAKARTA saat ini sedang mengadakan perpisahan untuk kelas XII tahun ini. Para siswa dianjurkan untuk memakai pakaian adat yang mereka sukai.
__ADS_1
Di pagi ini sangat membahagiakan bagi siswa yang berhasil Lolos dari sekolah, banyak siswa yang saat ini sedang berjoget ria saat mereka sudah mengetahui jika mereka telah lolos dari sekolah mereka.
Saatnya memberitahukan siapa lolosan terbaik di sekolah tersebut yaitu di SMAN 1.
"Baiklah saatnya kita mengumumkan siapa menjadi lolosan terbaik, bagi yang mendapatkan akan dapat bea Siswa ke New Zeland," ucap sang kepala sekolah yang sedang berada di atas mimbar.
Banyak para siswa yang penuh harap Namanya lah yang akan dipanggil. Yang tadinya riyuh kini telah menjadi sunyi lau yang ada hanyalah suara bisikan dari para siswa. Ini salah satu alasan Putri belajar tekun agar dia bisa ke New Zeland.
"Wah siapa nih yang berhasil mendapatkannya, kalau gue sih yakin Sheren yang bakalan dapat."
Sheren merupakan murid terpintar dan juga yang sering menjadi juara Umum. Ia bersaing dengan Putri, kadang-kadang Putri yang mendapatkan juara Umum tapi tetap Sheren yang lebih sering dapat juara.
"Gue juga nebak pasti Sheren yang dapat."
"Ngak, kalu gue yang dapat pasti Putri."
"Apaan Putri, pintar juga Sheren lagi."
Begitulah bisik-bisik para siswa. Mereka selalu bertengkar hanya karena tebakan yang belum tentu betul. Kenapa mereka tidak menyebut dirinya saja yang mendapatkan juara Umum, tapi malahan membicarakan orang lain yang belum tahu kebenarannya, bukan kah itu aneh?
Tidak luput dari gadis yang sedang memakai pakaian baju kebaya ia sedang menunggu dengan cemas Dia berharap namanya lah yang akan mendapatkan, dengan begitu ia dapat mencari sang pujaan hati di New Zeland.
"Semoga." Mereka berdua tersenyum dengan penuh harap dan berpelukan.
"Eh siapa nih yang kepedean banget, yah jelas bos kita yang dapat juara. Ia gak guys?"
Putri yang sedang berpelukan dengan Cintisa sontak langsung melepaskan pelukan tersebut. Ia menatap ke arah Luna yang merupakan salah satu sahabat Sheren.
"Iya dong," jawab Rara yang berada di samping Luna.
Putri yang melihat itu hanya bisa tersenyum ke arah mereka. Sebenarnya ia juga tidak yakin untuk dapat bea siswa karena Sheren memang lebih pintar ketimbang dirinya.
"Tuh kalian dengar sendiri kan banyak murid-murid yang nebak kalau gue yang bakalan dapat, jadi lo gak usah kepedean!"
Sheren melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh dan melayangkan tatapan mengejek ke arah Putri dan Cintisa.
Mendengar ucapan Sheren membuat Cintisa terbawa emosi. "Maksud lo apa ha? Hey you!! Asal lo tau ya roda kehidupan tu berputar jadi lo jangan ke geerran juga kale. Lagian Pak Andre belum umumkan juga!"
"Cin sudah." Putri menenangkan Cintisa.
Cintisa melirik ke arah Putri dengan napas yang memburu akibat membentak Sheren dan kawan-kawan.
__ADS_1
"Lo mau aja Put direndahin gitu, dia tu harus di beri pelajaran.dan Put j.aal.ang kaya gitu gak usah di belain."
Sheren yang mendengar ocehan Cintisa tidak bisa lagi menahan amarahnya yang memuncak.
"Maksud lo apa ha nyebut gue kaya gitu??" bentak Sheren. Sheren mengangkat tangan kanannya dan berniat melayangkan sebuah tamparan kepada Cintisa, Cintisa yang melihat itu langsung menutup matanya. Sebelum mengenai wajah Cintisa, tangan Sheren sudah dicekal oleh Putri.
Putri menghempaskan tangan Sheren ke bawah dengan kasar dan melirik Sheren dengan tatapan sinis.
"Cin mendingan kita pergi aja dari sini, gak ada untung nya juga kita ladanin orang gak tau diri" sambil menarik tangan Cintisa untuk menjauh dari Sheren dan gengnya."
"Untuk yang mendapatkan juara umum pada tahun ini adalah FITRIA NOVRIYANI, kepada nama yang disebut agar dapat naik ke atas pentas," ucap Pak Andre mengumumkan yang mendapat juara.
Putri yang tadinya sedang menarik tangan Cintisa untuk menjauh dari Sheren pun langsung menampilkan ekspresi kaget saat namanyalah yang disebut Pak Andre. Banyak siswa yang tercengang mendengar nama Putri lah yang diucapkan Pak Andre bukan Sheren yang mereka pikirkan tadi.
Cintisa yang mendengar itu langsung memeluk Putri erat. "Selamat Put, apa kata gue elo yang dapat juaranya bukan nenek Lampir itu."
Putri melihat ke arah Cintisa yang berada di samping kanan Putri. "Makasih Cin," lirih Putri dengan air mata berlinangan yaitu air mata bahagia. Putri segera naik ke atas pentas.
Pak Andre selaku kepala sekolah menyerahkan Piagam, Mendali, dan Pila kepada Putri dan memasangkan Mendali ke leher Putri.
Putri berdiri di depan microfon dan memberikan senyum manis nya sebelum mengucapakan ungkapan Putri.
"Sebelumnya terimakasih kepada Pak Andre beserta majelis Guru yang lain, karena kalian Putri bisa menjadi begini dan dapat berdiri di atas sini." Putri mengusap air matanya menggunakan jempol dan melanjutkan ungkapannya, "dan buat teman teman terimakasih. Putri gak nyangka kalau Putri yang bakalan dapatkan bea siswa ke New Zeland, Putri berharap kalau Putri dapat menjadi lebih baik dari pada sekarang."
Setelah mengucapkan itu Putri menatap ke arah semua para siswa.
Di situ ia melihat Sheren menatap dirinya dengan ekspresi jengkel dan juga kesal, kelihatan sekali jikalau Sheren sedang mengumpati dirinya. Ia hanya bisa tersenyum ke arah Sheren dan kawan-kawan.
Kemudian Putri turun dari pentas dan berjalan ke arah Cintisa yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arah Cintisa.
Cintisa merentangkan tangan ke arah Putri, Putri dengan sedikit berlari dan juga merentangkan tangan dan mereka berpelukan dengan haru. Cintisa dan Putri sama sama menitikan air mata.
Mereka menyudahi berpelukan dan saling melemparkan senyum. Sheren dengan sengaja menyenggol Putri saat ingin melewati Putri, sehingga Putri terhuyng ke belakang degan tangan yang masih memegang penghargaan.
"Putriiii!!!" Pekik Cintisa kaget.
Tapi untung saja ada yang menangkap Putri dan mata mereka bertemu saling tatap tatapan.
******
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1