
Mentari pagi terus menyinari ke segala penjuru dunia dan memberikan hangat ke seluruh alam semesta, memberi semangat untuk mengawali hari yang penuh arti.
Seperti biasa pagi-pagi Putri berangkat kerja bareng Tri sahabatnya, wajah ceria terpancar penuh pesona, semangat, dan enerjik.
Di sepanjang jalan menuju kantornya Putri menyapa dengan senyum ceria kepada semua orang yang ia hampiri, baik kenal ataupun tidak. Dia memang gadis yang sangat ramah, dia juga tidak pernah membatasi dirinya dengan siapa harus berteman, semua orang dia anggap temannya walaupun banyak juga orang yang tidak suka padanya.
Bagaimana tidak, Putri baru bekerja di kantor 3 bulan lebih, atasannya sangat dekat dan perhatian padanya bahkan atasannya itu hampir setiap pagi membawakan sarapan untuk nya, walau terkadang Putri sudah sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor Putri langsung menarik Siska dia sudah tak sabar ingin bercerita kejadian kemarin saat pria tampan itu menyatakan perasaannya dan mereka menjadi sepasang kekasih kekasih.
"Sis sini dong gue mau cerita" ujarnya seraya menarik Siska ke meja kerjanya itu.
"Ada berita apa sih heboh bener" sahut Siska.
"Gue kemrin udah ketemuan sama Putra dan loe tau nggak? dia bawa gue ke tempat yang indah dan romantis banget yang ada di Jakarta, terus disana dia menyatakan cinta sama gue." ujarnya bercerita.
"Sriyus loe, Trus loe langsung terima?" tanya Siska.
"Iyalah, gue terima langsung, abisnya dia ganteng banget sih putih, tinggi, mulus pokoknya perfeck sumpah. Satu lagi dia kaya raya banget Sis, rumahnya udah kaya istana di negri dongeng dan nyokapnya juga super baik, tapi bokapnya sudah meninggal satu tahun yang lalu, terus kakak iparnya itu ternyata Presdir bank swasta, dia hanya dua bersaudara kakak nya cewek di bawa suaminya itu, terus nyokapnya bilang rumah ini sudah di wariskan ke Putra anak bungsunya itu.
"Sriyus loe Put dia sekaya itu" sahut Siska kaget mendengar penjelasan Putri tentang Pria Tampan itu.
"Sumpah aja gue nggak bohong, loe tahu Bokap nya itu siapa?, dia itu Pengacara terkenal Ambrianto Suseno" tambahnya lagi.
"Apa? Dia anak pengacara terkenal itu, Oh my god loe keren banget Put sumpah" ujar Siska memuji. karena sahabatnya mempunyai kekasih yang kaya raya dan tampan.
"Ahh loe Sis bisa aja.."
"Yaudah yuk kita kerja dulu nanti kita lanjutin lagi ceritanya" Ajak Putri kepada sahabatnya itu.
Seperti biasa Putri Bekerja dengan penuh semangat, apalagi dia sekarang ada penyemangat dalam hidupnya.
Waktu di kantor seperti nya terasa lebih cepat dan waktu pulang pun tiba.
"Akhirnya pulang juga" gumam Putri.
"Ayo Sis kita pulang," ajak Putri kepada Siska.
"Yuukk,," sahut Siska.
__ADS_1
Mereka pun berjalan keluar dari kantor dan di perjalanan pulang Putri dan Siska melanjutkan pembahasan tadi pagi yang belum kelar itu.
°°°°°
Dikost-an
Dari kejauhan Putri melihat Angga sedang duduk di balkon Rumah nya yang dekat dengan kamar kost Putri.
"Put loe udh pulang" sapa Angga.
"Hmmm" sahutnya singkat seraya membuka kunci kamar nya.
"Ga gue mau mandi dulu ya nanti gue kesitu" ujarnya.
"Iya Put" sahut Angga.
Putri pun bergegas mandi, di kamar manildi Putri selalu bernyanyi riang dan sedikit terdengar sampai ke luar.
Angga merasa kok Putri seperti nya agak beda biasanya dia manja banget sama Angga sahabatnya itu bahkan sampai hal kecil pun dia berceloteh menceritakannya, tapi kok ini beda. "Putri kenapa yah?" gumam Angga.
Setelah selesai mandi Putri bergegas menghampiri Angga yang sedari tadi sudah berada di balkon rumahnya. Putri langsung duduk di samping sahabatnya itu. Lalu bercerita tentang kejadian saat dia bersama kekasih barunya.
"Udah dong loe gak lihat gue udah cantik gini" sahutnya.
"Iya,, cantik" Ucap Angga seraya mencubit hidung gadis itu.
"Gue tuh lagi seneng banget tau Ga, Gue baru jadian hari Minggu kemarin dengan orang Jakarta.
"Apaa!" Angga melontarkan pertanyaan itu dengan sedikit berteriak. Angga begitu syok mendengar cerita sahabatnya itu, dimana dia yang sangat berharap gadis di hadapannya itu jadi kekasihnya. Tapi, ternyata Putri sudah menjadi milik orang lain. Terasa begitu sesak di dada pria itu, begitu mendengar pernyataan gadis yang ia cintainya itu.
"Ya Tuhan mengapa sakit sekali hati ini padahal aku bukanlah kekasihnya tapi, aku sangat mengharapkan Putri jadi pasangan ku, ternyata dia selama ini tidak pernah berfikir kalau aku suka padanya" batinnya kecewa.
"Anggaaa,,," teriak Putri. "Kok loe bengong sih, kenapa?."
Angga masih bengong dengan tatapan kosong menatap wajah gadis itu, dia merasa ini tidak benar.
"Angga.." teriak Putri lalu mencubit pipinya , "Aww,,, sakit" Angga pun meringis kesakitan.
"lagian kamu bengong aja kenapa sih??"
__ADS_1
"Hmm, gak apa-apa" jawabnya singkat. Angga menggelengkan kepalanya dan tertunduk, saat ini dia tidak mau menatap wajah gadis di hadapannya itu.
'Angga kok aneh yah, apa ada yang salah dengan omongan gue GK biasa nya dia seperti ini, biasanya dia selalu cerewet menanyakan aktifitas harian gue tapi ini nggak, malah diam aja?' batinnya.
"Put gue masuk ke rumah dulu yah" Angga pergi dari hadapan gadis itu dengan mata berkaca-kaca, Angga masuk ke kamar nya dan mengunci pintu. Lalu Angga melempar semua barang yang ada di hadapannya dan menonjol tembok dengan keras dan penuh emosi.
Praaannggg! terdengar suara pecahan itu sampai ke luar ruangan rumah nya.
"Suara apa itu Ga?" teriak Mama Bela dari luar kamar, "kamu kenapa Nak?" mama Bela penasaran dan bergegas ke kamar Angga tapi kamarnya dikunci dari dalam.
"Angga kenapa nak buka pintunya sayang Mama mau masuk" ujar Mama Bela memohon agar Angga membukakan pintu untuknya.
Angga sama sekali tidak menyahuti Mamanya dan Mama Bela terus menerus gedor-gedor pintu kamar putranya itu.
"Sayang ayo dong buka, kamu kenapa dan ada masalah apa, cerita sama Mama."
Terlihat sekali Mama Bela bagitu khawatir dengan putra semata wayangnya itu.
"Kenapa dengan anakku?, apa dia sedang ada masalah?" gerutu Mama Bela sambil menerka apa sebenarnya maslah putranya itu.
"Kenapa loe tidak pernah peka sih Put, dengan perhatian lebih dari gue, loe ternyata sedikit pun tidak pernah punya perasaan suka sama gue, rasanya patah hati ini, sakit sekali hati ini" batinnya.
Angga menangis di atas kasur sambil tengkurap dan memukul-mukul kasur dengan keras.
"Ahhh,,, ini nggak adil" teriak Angga terdengar sampai ke dalam ruangan tempat mama Bela duduk.
*
*
*
*
**Masih penasaran kan Readers dengan cerita nya?
Yuk lanjutkan membaca tapi jangan lupa like ya, Terimaksih 🙏🙏
Happy Reading 😍
__ADS_1