
Doni baru datang di rumah dan doni melihat ibu dan ayahnya di depan rumah seperti orang aneh mundar mandir di depan pintu.
"Ibu, ada apa". Doni.
"Doni kamu sudah pulang, dimana kaka mu". Ibu.
"Ibu ada apa, aku tidak bersama kaka, dan kaka juga tidak bersama ku, bukankah kaka bersama ayah sejak pagi". Doni.
"Ini semua karena ayah kamu, andai ayah kamu tidak membawanya ke kota tidak akan terjadi seperti ini". Ibu.
"Aku juga tidak tahu akan seperti ini, andai aku tau, aku juga tidak mengajak nya untuk pergi ke kota". Ayah.
"Ada apa sebenarnya, aku tidak mengerti maksud ibu dan ayah, ada apa dengan kaka". Doni.
"Kaka kamu saat ini belum pulang kerumah, tadi sore kaka mu pulang bersama ayah, tatapi dia kehilangan kalung yang ada di lehernya dan dia kembali lagi ke kota sampai sekarang pun dia belum pulang". Ayah.
"Ibu ku mohon tenang dirimu ibu, aku yakin kaka pasti pulang. Mungkin kaka lagi dijalan". Doni.
"Yang dikatakan doni benar, dia pasti akan pulang". Ayah.
Ibu sangat khawatir dengan keadaan fani yang tak kunjung juga pulang hari sudah gelap.
Sampainya dirumah fani, siya membangunkannya.
"Fani! Fani". Siya membangunkannya dengan lembut.
Fani terbangun dari tidurnya, dia melihat dia sudah ada di depan rumahnya. Fani segera membuka pintunya.
"Terima kasih telah mengantarkan saya". Fani.
Siya menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam mobil. Fani mulai meninggalkan siya di mobil dan kembali kerumah. Sebelum berangkat siya memastikan fani benar-benar memasuki rumah.
Doni melihat kakanya pulang.
"Ibu! Ayah. Kaka sudah pulang lihat dia disana, aku sudah bilang kaka pasti akan pulang". Doni.
"Fani". Ibu berlari.
"Ada apa ibu, mengapa ibu menangis, ayah ada apa". Fani.
"Mengapa kamu tidak pulang juga, ibu sangat mengkhawatirkan kamu, ibu sangat takut kamu kenapa-napa dijalan". Ibu.
"Ibu! Aku baik-baik saja, aku sekarang sudah pulang, mengapa ibu menangis sudah hentikan ibu, aku tidak ingin melihat ibu menangis. Lihat sekarang tidak terjadi apa-apa kan kepada ku". Fani.
"Fani! Kamu kemana saja". Ayah.
"Ayah! Nanti saja aku ceritakan semuanya nya, aku sekarang sangat lelah sekali". Fani.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di kamar". Ayah.
Fani beristirahat di kamar karena dia sangat lelah sekali, dan besok dia akan kembali melanjutkan mencari kalung nya yang hilang.
__ADS_1
Sampainya dirumah, siya dengan cepat masuk kedalam dan meminta penjelasan kepada ana apa yang terjadi sebenarnya.
"Dimana ana". Siya.
"Dia sudah tidur di kamar". Bram.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada anak kita bram". Siya.
"Dia mengalami kekerasan, untung saja wanita itu dengan cepat menemukan anak kita ditaman dan segera menghajarnya, tapi ana tidak tau apakah lelaki itu masih ada ditaman atau tidak, dia hanya tau lelaki itu pingsan di taman dihajar oleh wanita itu". Bram.
"Apa kamu tau siapa namanya". Bram.
"Siapa". Siya.
"Wanita itu". Bram.
"Namanya fani!". Siya.
Siya merasa sangat menyesal tidak bisa melindungi anaknya, bram berusaha untuk menenangkan siya. Bram mengajaknya ke kamar untuk beristirahat karena bram tau istri sangat lelah. Bram memeluk siya dan mereka pun tertidur dengan lelap.
Pagi hari bram membangun siya, bram ingin mengajaknya piknik bersama anak-anak.
"Bram ada apa bukan kah ini hari minggu mengapa kamu membangunkan ku, aku sangat lelah". Siya.
"Ayo bangun, aku ingin mengajakmu dan anak-anak ke suatu tempat". Bram.
"Mau ngapain". Siya.
"Lagian kita sudah lama tidak melakukannya bersama anak-anak, aku yakin anak-anak akan senang". Bram
"Ayo cepat bangun". Bram dengan semangat.
"Baiklah, apa anak-anak sudah bangun". Siya.
"Belum, mereka masih tidur". Bram.
"Baiklah, biar aku yang membangun mereka". Siya.
"Baiklah". Bram mencium siya.
"Bram apa kamu akan terus mencium ku". Siya.
"Ya! Aku akan terus mencium mu karena kamu istriku". Bram.
"Ya aku istri mu, ayo buruan sana mandi". Siya.
Bram menganggukkan kepalanya.
Siya membangunkan ana terlebih dulu.
"Sayang bangun. Ana! ana". Siya.
__ADS_1
"Iya ibu, mengapa ibu membangunkan ku, bukan kah ini hari minggu". Ana.
"Iya! hari ini hari minggu, ayah kamu ingin mengajak kita pergi ke pantai". Siya.
"Benarkah ibu, ya sudah aku akan bersiap-siap". Ana.
"Baiklah kamu bersiap-siap dulu, ibu akan membangunkan zec". Siya.
Bram menyiapkan barang yang akan dibawa ke pantai, dan memasukkan nya di bagasi mobil, Siya, ana dan zec sudah siap dan masuk kedalam mobil, karena barang sudah dimasukkan di bagasi oleh bram, bram pun masuk kedalam mobil dan mereka pergi menuju pantai. Mereka menempuh perjalanan selama dua jam jarak pantai dan rumah mereka jauh.
Fani terbangun dari tidurnya dan dia melihat jam ternyata dia kesiangan, fani segera bergegas membersihkan diri dan pergi ke kota membantu ayahnya, tetapi ibu menghalanginya.
"Mau kemana kamu". Ibu.
"Ibu aku mau ke kota, membantu ayah". Fani.
"Fani! Kamu tidak boleh ke kota, ibu sudah menyuruh doni untuk menemani ayah kamu". Ibu.
"Tapi mengapa ibu, ibu ku harus ke kota dan aku juga ingin mencari kalung ku yang hilang, kemarin aku tidak menemukannya". Fani.
"Tidak! ibu tidak mengijinkan kamu ke kota, lagian ibu sudah menyuruh doni untuk mencari nya". Ibu.
"Ibu!". Fani.
"Fani! Ibu sudah bilang tidak ya tidak". Ibu.
Fani berbalik mengambil senapan dan pergi untuk berburu, fani merasa dirinya sangat marah kepada ibunya yang selalu melarangnya. Fani melampiaskan amarahnya dengan berburu hanya ini yang dapat membuatnya tenang. Ibunya tidak dapat menghalanginya untuk berburu dan membiarkan pergi.
Sampainya di pantai mereka sangat menikmati suasana yang cerah dan udara yang sejuk, bram mulai mengeluarkan barang bawaannya di bagasi, siya membantu bram mengangkat barang bawaannya, anak-anak berlari bermain pasir dipinggir pantai. Siya dan bram sangat bahagia melihat anak-anaknya begitu senang di ajak ke pantai. Siya segera menyiapkan makanan, dia tahu bram dan anak-anak pasti sangat lapar.
"Ana, zec ayo kemari, sarapan dulu". Siya.
"Baik bu". Ana.
Mereka makan bersama ditemani dengan pemandangan yang indah dan angin yang sejuk.
Fani terus berburu sampai dia mendapatkan mangsanya, fani tidak sengaja mendengar suara anjing hutan dan membuatnya merasa sangat takut dan gugup, fani berusaha menenangkan dirinya agar dia tidak takut dan dia tidak boleh merasa lemah kembali mengingat masa lalunya, fani terus berulang kali mengatur nafas agar tidak terjadi sesuatu pada dirinya yang tidak dia inginkan, fani merasa dadanya mulai sakit, dan fani berusaha untuk menangkannya, tak lama suara anjing hutan hilang dan membuat fani merasa lega. Fani pun kembali pulang.
Siya terus memandangi suaminya dan anak-anak bermain bersama di pantai membuatnya senang, di satu sisi membuat nya sedih mengingat kembali kepada anaknya yang hilang entah dimana dia.
Bram melihatnya segera menghampiri siya.
"Ada apa, apa yang kamu pikirkan". Bram.
"Bram! Aku memikirkan anak kita, aku tidak tahu dimana dia sekarang". Siya.
"Aku sudah bilang berapa kali kepada mu lupakan semua itu, lihat sekarang kita sudah bahagia, kita memiliki ana dan zec dan aku juga tidak tahu apa di masih hidup, aku rasa dia sudah (dihentikan siya)". Bram.
"Bram! Hentikan aku tidak ingin mendengarnya". Siya menangis.
Bram menenangkan siya dan mengajaknya bermain bersama dengan anak-anaknya. Bram tidak ingin istrinya mengingat semua itu lagi.
__ADS_1