
Fani menyerahkan pelakunya ke kepolisian dan menjelaskan apa yang sudah terjadi, tak lama setelah selesai berurusan dengan polisi. Fani dengan ayahnya segera pulang, ketika ingin pulang Fani dan ayahnya di cegat oleh polisi.
"Bukankah kamu orang nya". Pak polisi.
"Iya saya orang nya, saya yang telah membawa pelaku itu ke sini". Fanii.
"Bukan itu maksud saya". Pak polisi.
"Lalu (bingung)". Fanii.
Pak polisi mencoba menjelaskan semuanya kepada fani dan ayahnya, membuat ayahnya terkejut mendengar penjelasan dari polisi.
"Bagaimana keadaan wanita itu". Ayah fanii.
"Dia baik-baik saja, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit". Pak polisi.
"Syukurlah (lega)". Ayah fanii.
"Kami lagi memijak lanjuti kasus ini. Disaat ingin melakukan penyidikan kami menemukan banyak bekas luka di bagian tubuhnya, dan kami masih menunggu kabar dari dokter untuk hasil visumnya". Pak polisi memberi tahu.
Pak polisi mencoba berbicara kepada fanii agar dia memberitahu, apa dia melihat seseorang yang mencurigakan disaat kejadian tersebut karena dia orang pertama yang melihat wanita ini ingin bunuh diri. Polisi meminta fani untuk memberi kesaksian terhadap kejadian tersebut.
Fanii merasa dirinya tidak perlu memberikan kesaksian dihadapan polisi karena dia tidak tahu apa-apa bahkan dia tidak melihat orang yang mencurigakan, dan dia tidak ingin berurusan dengan kejadian itu lagi. Fani berusaha menolak ajakan kepolisian.
Fani dan ayahnya segera pulang.
__ADS_1
"Malang sekali wanita itu, mengapa ada orang ingin menyakiti wanita yang sedang hamil". Ayah Fani.
"Ayah sudah hentikan". Fani.
"Apa kamu benar-benar tidak melihat orang yang mencurigakan". Ayah Fani.
"Tidak, sudahlah sangat terlalu dipikirkan". Fani.
"Ayah buruan nanti keburu gelap harinya, ibu akan khawatir dengan kita". Fani.
Malam telah datang menghampiri hidupnya, fanii hanya bisa meratapi langit yang begitu gelap, dan ini membuat jantung nya kembali sakit mengingat masa lalunya.
"Nenek (memeluknya dan menciumnya)". Ana.
"Nona, sarapan sudah siap diruang makan". Emba Lis (pembantu).
"Ayo (mengajak makan bersama), kamu tau nenek sangat merindukan kamu, cucu nenek". Nenek Ana tidak mau lepas dari ana.
Makan malam berlangsung membuat satu keluarga bahagia.
"Siya, ibu dengar wanita itu di rumah sakit yoscar". ibu bram (yola).
Siya merasa ibunya sudah mengetahuinya "Ibu kita sedang makan, tidak baik membicarakan orang saat makan". Siya.
"Ibu, siya benar kita sedang makan tidak baik membicarakan orang". Bram suami siya.
__ADS_1
"Bram, ibu hanya ingin tahu aja, dan ibu juga bertanya bukan hal aneh kepada siya". ibu bram (yola).
"Nenek, boleh aku menginap disini". Ana mencoba mengalihkan pembicaraan dan dia mencoba mengerti perasaan ibunya.
"Benarkah kamu ingin menginap disini, nenek sangat senang mendengarnya". Nenek yola.
"Iya benar (menganggukkan kepala)". Ana.
"Emba sri (memanggil)". Ibu yola.
"Iya nona, apa yang bisa saya dibantu". Emba sri.
"Segera kamu siapkan kamar untuk cucu saya ana, karena dia hari ini menginap di rumah ini". Ibu yola.
"Siap non, saya permisi dulu". Emba sri.
Sarapan pun selesai Siya dan Bram berpamitan untuk pulang ke rumah karena hari sudah larut malam. Sedangkan untuk malam ini ana menginap di rumah neneknya.
"Non ana, kamar sudah siap". Emba sri.
"Terima kasih mba sri". Ana.
Ana segera ke kamar dan tidur karena dia sangat lelah karena dia bekerja sepanjang hari di rumah sakit.
Disisi lain fani menatap malam yang dingin dan terus saja memandanginya sehingga membuat matanya lelah sehingga mengantuk dan tertidur lelap. Seketika ditengah malam fani bermimpi hal buruk tentang dirinya dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Fani mencoba menenangkan dirinya dengan menggenggam kalung yang ada di lehernya dan tak lama fani tertidur kembali.
__ADS_1