DIA PUTRI KU

DIA PUTRI KU
Terungkap


__ADS_3

Keesokan harinya hasil visum telah keluar dan terbukti bahwa wanita itu telah mengalami kekerasan terhadap dirinya, dokter siya memberi tau kepada kepolisian agar kasus ini ditindak lanjuti. Dokter siya berusaha untuk berbicara kepada wanita itu agar memberi tahunya siapa yang telah melakukan semua ini terhadap dirinya.


"Suster, bisakah sus tinggalkan kami berdua". Dokter siya.


"Iya dok". Suster sri.


Dokter siya mencoba mendekati wanita itu dan mencoba berbicara kepadanya.


"Apa saya bisa berbicara dengan ibu". Dokter siya.


Wanita itu kelihatan seperti orang ketakutan, dokter siya berusaha menenangkan wanita itu.


"Jangan takut (berusaha menenangkan), saya dokter siya, saya tidak akan menyakiti ibu tidak akan yang ada menyakiti ibu, banyak polisi berjaga-jaga disekitar rumah sakit ini". Dokter siya.


"Dan saya ingin ibu dapat menceritakan semuanya apa yang terjadi pada ibu". Dokter siya.


Wanita itu seketika menangis dan membuat dokter siya bingung, dokter siya berusaha menenangkannya dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Berlahan wanita mulai menceritakan semuanya apa yang telah terjadi kepada dirinya.


Wanita itu menceritakan bahwa dirinya disiksa oleh suaminya setiap hari karena wanita lain bukan hanya itu suaminya juga melakukan penjualan barang legal dan wanita itu juga memberi tau bahwa dia memiliki bukti. Tetapi wanita itu menarik tangan dokter siya agar tidak memberi tahu tentang bukti itu, bahwa didalam bukti itu ada ibunya dan dia tidak ingin ibunya dipenjara.


"Sekarang dimana bukti itu". Dokter siya.


"Sekarang bukti itu ditangan wanita itu". Maya.


"Kamu yakin". Dokter siya.


Maya hanya menganggukkan kepalanya.


Dokter siya segera memberi tahu polisi bahwa korban mengakui semua nya, dan pelakunya adalah suaminya dan tidak itu saya dokter siya juga memberi tahu bahwa pelaku tersebut melakukan penjualan barang legal yaitu sabu. Dokter siya tidak memberi tahu polisi tentang memori itu.


Polisi segera menuju kearah tempat tujuan dan menangkap pelaku tersebut. Sedangkan dokter siya izin sebentar keluar dari rumah sakit, ana tidak sengaja melihat ibunya berlari keluar tidak biasanya seperti itu.


"Ibu, mau kemana". Ana.


"Ana, ibu ada urusan sebentar, nanti ibu akan kembali lagi". Siya.


Ana sangat kebingungan dengan perilaku ibunya yang biasanya dia memberi tau dia akan pergi kemana tapi kali ini ibunya tidak memberitahunya sama sekali kemana dia pergi.


Fani sibuk mengurus sapinya bersama doni, ibu dan ayahnya pergi ke ladang untuk memetik sayuran untuk dijual ke pasar.


Doni berdehem agar dia tidak kaku dan mencoba berbicara kepada kakanya "Ka". Doni.


"Ya". Fani.

__ADS_1


"Apa kaka tidak bosan dengan pekerjaan ini". Doni.


Fani hanya diam tidak menanggapi pertanyaan adiknya dan mendiamkannya.


"Ka, apa kaka tidak ingin mencari sosok seorang pria, maksud ku (dengan terbata-bata) kekasih". Doni.


Fani hanya memberikan cangkul ke tangannya. "Cepat kerja (dengan wajah dingin)". Fani.


"Ka, mengapa kaka tidak mau menjawab pertanyaan ku, bukankah Kaka seorang perempuan, mana ada perempuan kerja seperti, maksud ku mana ada seorang perempuan mau membersihkan kotoran sapi, memeras susu sapi dan menjualnya nya". Doni.


Fani tidak tahan lagi dengan adiknya itu.


"Don, jangan membuat Kaka marah". Fani.


"Tapi itu benarkan". Doni tetap tidak ingin diam.


Fani pergi dan meninggalkannya, tetapi doni tetap saja mencari masalah kepada kakanya itu.


"Ka! Bagaimana mana dengan diri kaka, apakah Kaka tidak kasihan dengan diri kaka". Doni.


Fani berbalik "Maksudnya! Doni apa kamu tidak mengerti juga. Lihat ibu dan ayah disana do, apa kamu masih tidak mengerti juga, Kaka seperti ini kaka tidak ingin menyusahkan mereka, kaka tahu kepentingan Kaka, tapi kaka tidak menginginkan itu, kamu mengerti". Fani meninggalkan doni.


Doni merasa dirinya sangat bodoh mengapa dia menanyakan ini kepada kakanya, Doni merasa dirinya sangat bersalah.


Saat ingin pergi fani tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat dirinya terjatuh orang itu adalah dokter siya, doni bergegas ingin membantunya tetapi dia ingat bahwa kakanya lagi marah kepada dirinya. Dokter siya segera membantunya dan memberikan tangannya kepada fani. Disaat fani menggenggam tangannya, dokter siya merasakan ada getaran dihatinya yang sudah lama dia tidak merasakannya, dokter siya memandangi wajahnya.


Dokter siya hanya memandanginya


Fani bingung dengan wanita dihadapannya mengapa dia hanya diam ketika dirinya bertanya. Fani menepuk pundaknya sehingga wanita itu tersadar.


"Apa kamu engga papa". Fani.


"Iya, saya baik-baik saja". Dokter siya.


"Bolehkah saya bicara sebentar sama kamu, ada hal penting yang saya ingin bicarakan kepada kamu". Dokter siya.


"Baiklah". Fani.


Dokter siya menceritakan semuanya apa yang sudah terjadi dan membuat fani terkejut dia hanya berpikir bahwa wanita itu hanya ingin mengakhiri hidupnya saja.


"Sekarang dimana bukti itu". Fani.


"Bukti itu ada di kantong jaket kamu". Dokter siya memberi tahu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin, dimana kamu tau". Fani.


"Wanita itu yang memberi tau saya bahwa buktinya ada di kantong jaket kamu". Dokter siya.


Fani merasa bingung bagaimana bisa bukti itu ada di kantong jaketnya.


Dokter siya menjelaskan agar fani tidak kebingungan. "Sebenarnya disaat kamu menolongnya dan dia tersadar, dia bergegas untuk memasukkan bukti itu ke kantong jaket kamu mu, agar orang yang mengikutinya tidak mengambilnya.


sekarang fani mengerti dan ingin mengambil jaketnya untuk menyerahkan bukti itu, tetapi dia dicegat oleh seorang pria dengan menggunakan pestol. Dokter siya dan doni terkejut melihatnya dan mereka tidak tau siapa pria itu, fani mencoba berusaha tenang agar pria itu tidak gegabah menggunakan pestol nya.


"Sekarang serahkan bukti itu (dengan menyodorkan pestol kearah dada)".


"Bukti apa". Fani.


"Jangan berpura-pura, cepat serahkan".


Doni berusaha kabur agar dapat memberi tahu ibu dan ayahnya.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan dia". Dokter siya ketakutan.


"Diam kamu, cepat serahkan sebelum aku melakukannya (kearah fani)".


Fani kehabisan kesabaran dan mengambil pestol nya ditangan pria itu, ini sangat mudah baginya, saat mendapatkannya fani membuangnya ke tempat yang jauh, pria itu ingin mengambilnya tetapi dicegat oleh fani dan fani mulai memukulinya, fani dan pria itu saling memukul sehingga dokter siya sangat ketakutan, dokter siya mencoba mencari cara agar pria itu tidak memukuli fani. Dokter siya menemukan balok kayu dan memukulnya kearah belakang pria itu dan membuatnya pingsan. Fani terkejut tidak percaya apa yang dilakukan oleh dokter siya.


Saat ingin berdiri fani kembali teringat tentang masa lalunya dan ini membuatnya seperti orang aneh bukan itu saja dia juga merasakan sakit di dadanya dan membuatnya terjatuh ketanah. Dokter siya segera membantunya tetapi fani menghalanginya.


"Menjauh dari sini". Fani.


Dokter siya tidak mengerti maksud fani dan mencoba menolongnya lagi.


"Aku bilang menjauh lah dari sini". Fani.


Dokter siya memundurkan dirinya, dari kejauhan doni, ibu dan ayahnya datang.


ibu fani terkejut melihatnya dan berlari kearah fani.


"Sayang (memeluk), ibu mohon bertahanlah sayang". Ibu.


Fani dengan keadaan yang tidak memungkinkan, membuat ibu dan ayahnya sangat ketakutan. Doni merasa bersalah untuk kedua kalinya mengapa dia meninggalkan kakanya saat kejadian itu.


Dokter siya melihat keadaan fani yang tidak memungkinkan dengan keadaannya segera mendekatinya berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi pada fani. Dokter siya membaringkan fani di tanah dan memeriksanya.


"Apa yang kamu lakukan". Ibu fani tidak tau apa yang dibuat wanita itu.

__ADS_1


Dokter siya hanya mengabaikannya, karena fani perlu secepatnya ditolong dia tidak bernafas lagi, dokter siya mencoba memberikan nafas buatan dan kompresi dada karena dokter siya tidak membawa alat perlengkapan yang biasa dia bawa di jok mobil nya, dokter siya terus berusaha agar fani kembali bernafas lagi.


"Fani! Fani! fani". Dokter siya mencoba memanggil namanya.


__ADS_2