DIA PUTRI KU

DIA PUTRI KU
Kejanggalan


__ADS_3

Dokter siya keluar dari ruang UGD, ibu dan ayah fani segera menghampiri untuk mencari tahu kabar putrinya, dokter siya memberi tahu orang tua fani.


"Bagaimana keadaannya". Ibu fani.


"Untuk sementara ini dia belum sadarkan diri, keadaannya masih belum stabil dan dia dibantu dengan alat ventilator untuk membantunya bernapas". Dokter siya.


"Tapi kaka baik-baik aja kan dok". Doni.


"Ya, dia baik-baik aja". Dokter siya.


"Boleh saya bicara sebentar dengan kalian berdua, ada ingin saya sampaikan". Dokter siya.


"Silahkan duduk". Dokter siya.


"Ada apa dok". Ibu fani.


"Saya ingin memberi tahu kalian berdua tentang keadaan fani, saat ini hasil tes sudah keluar dan dalam hasil tes tersebut menyatakan bahwa fani mengidap penyakit jantung koroner". Dokter siya.


Ibu dan ayahnya fani hanya diam, mereka tidak terkejut mendengarnya dan membuat dokter siya bertanya.


"Ada apa dengan kalian". Dokter siya bertanya.

__ADS_1


Dengan yakin ibu fani mengatakan sebenarnya.


"Kami sudah mengetahuinya". Ibu fani.


"Mengapa kalian tidak bilang saat kejadian itu, dan menghalanginya untuk dibawa kerumah sakit". Dokter siya.


"Kami hanya tidak ingin fani mengetahui semuanya tentang penyakit yang dideritanya". Ibu fani.


"Apa kalian sudah gila, dia hampir sekarat karena kalian, orang tua macam apa kalian". Dokter siya memarahinya.


"Sejak kapan dia mempunyai penyakit ini". Dokter siya kembali bertanya.


Ibu fani bingung untuk menjawab pertanyaan dokter siya dan memandangi suaminya.


"Kami mohon kepada dokter untuk tidak memberi tahunya tentang penyakitnya, kami takut dia akan hancur hatinya mendengarnya". Ayah fani.


"Bagaimana dengan luka yang ada dibelakang tubuhnya". Dokter siya.


"Waktu dia umur 5 tahun dia sedang memanjat pohon yang tinggi dan membuatnya terjatuh mengenai ranting pohon, ini semua kelalaian kami tidak menjaganya saat itu". Ibu fani.


"Baiklah, kalian bisa keluar". Dokter siya.

__ADS_1


Mereka keluar, dokter siya masih tidak percaya dengan ucapan mereka berdua, saat mereka menjelaskannya ada sedikit tidak nyambung mereka seperti orang ketakutan, dokter siya merasa ada kejanggalan diantara mereka, ada yang disembunyikan mereka darinya.


Disisi lain ana masih menangani pria itu, dan pria itu mulai sadarkan diri berusaha ingin kabur, dengan kejeniusan ana membuat pria itu tidak bisa kabur ke keluar sebelumnya ana sudah mengunci pintunya lebih dulu sebelum dia sadarkan diri.


"Cepat buka pintunya".


"Saya tidak akan membukanya, lagian ngapain kamu disitu cepat kemari luka di punggung kamu itu harus cepat ditangani, nanti pendarahan semakin banyak keluar". Ana dengan santai menghadapinya tidak ada rasa takut.


Pria itu dengan cepat mengambil gunting yang ada dimeja segera mengancamnya untuk membuka pintunya, ana tidak menghiraukannya dan membiarkan pintunya tetap tertutup. Ana segera menelpon polisi agar cepat kemari, pria itu terus mengancam dan mendekatinya agar dia memberikan kuncinya, ana tetap bertahan diposisi yang sama agar dia tidak membuat kesalahan sedikit pun. Pria itu mulai prustasi dan mendorongnya ketepi, hal hasil membuat ana terjatuh dan terbentur meja yang ada didekatnya dan kunci itu pun terjatuh dari sakunya dan membuat pria itu dapat membuka pintu nya, tetapi dia telah terlambat polisi telah menghadangnya di depan pintu pria itu segera ditakap.


Dokter siya mendengar semuanya, segera bergegas menghampiri anaknya diruang ...


"Sayang kamu baik-baik saja kan". Ibu.


"Iya ibu! Aku baik-baik saja hanya sedikit memar di bagian dahi ku". Ana.


Dokter siya segera memeluk nya


"Ibu ada apa, aku baik saja". Ana.


"Biarkan ibu memeluk kamu". Ibu

__ADS_1


Ana membiarkannya memeluknya dia tahu perasaan ibu yang panik terhadap anaknya dan ana memeluknya dengan erat.


__ADS_2