
Ibu melihat fani pulang kerumah.
"Fani mengapa kamu begitu cepat pulang, tidak biasanya, ada apa". Ibu.
"Tidak ada ibu, aku hanya ingin pulang saja. Aku merasa bosan berada disana". Fani.
"Ibu! Apa ibu butuh bantuan". Fani.
"Tidak! Lagian ibu juga mau selesai tinggal mengangkat sayuran ini ke dalam gudang". Ibu.
"Sini, biar aku yang mengangkatnya dan menaruhnya di gudang". Fani.
"Tidak usah, biar ibu yang mengangkatnya, ibu bisa sendiri melakukannya". Ibu.
"Fani bisakah kamu membantu ibu membawa masuk semua sapi kedalam kendangnya". Ibu.
"Baik ibu, aku akan membawanya ke dalam kandang". Fani.
Hari mulai sore siya dan bram membereskan semua barang dan memasukkan nya kembali ke dalam bagasi mobil, meraka kembali pulang ke rumah.
"Ayah aku sangat senang sekali, terima kasih ayah". Ana.
"Ayah kapan kita akan kembali lagi pantai ini". Zec.
"Ayah tidak tau, tapi ayah akan membawa kalian lagi ke pantai ini". Ayah.
"Benarkah ayah". Zec.
"Ya!". Ayah.
"Ayah aku mencintaimu". Ana.
"Ayah juga mencintaimu". Ayah.
"Apa kalian hanya mencintai ayah mu saja". Siya.
"Ibu aku mencintaimu". Ana menciumnya.
"Ibu aku juga mencintaimu". Zec juga menciumnya.
Fani sibuk mengurus sapinya.
Ibu tidak sengaja melihat banyak polisi berdatangan di depan rumahnya. Ibu segera mendatangi polisi tersebut dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ya pa".
"Apa anda yang bernama fani". Polisi.
"Saya ibunya fani, ada apa ya".
"Di mana dia sekarang". Polisi.
Fani mendengar ada suara seperti orang datang kerumahnya, dan segera keluar dari kandang sapi.
"Ibu, siapa yang datang". Fani.
"Ibu mengapa ada banyak polisi disini". Fani bingung.
"Apa kamu yang bernama fani". Polisi.
"Ya, saya bernama fani, ada apa mengapa anda mencari saya". Fani
"Cepat amankan dia". Polisi.
"Apa yang kamu lakukan kepada anak saya, apa salahnya lepaskan dia". Ibu.
"Kami harus segera membawa anak ibu ke kantor polisi". Polisi.
__ADS_1
"Ibu biarkan mereka membawa ku ke kantor polisi". Fani.
"Bagaimana ibu bisa membiarkan kamu dibawa ke kantor polisi, pa lepaskan anak saya, anak saya tidak melakukan kejahatan apapun". Ibu.
"Cepat bawa dia ke kantor polisi". Polisi.
Fani di bawa ke kantor polisi atas tuduhan melakukan kekerasan terhadap david, fani di amankan di ruang interogasi.
Ibu sangat ketakutan, ibu menunggu suaminya dan doni pulang. Tak lama Doni dan ayahnya pulang. Doni melihat ibunya menangis stres segera mendatangi ibunya.
"Ibu! Ada apa mengapa kamu menangis, dimana kaka". Doni.
"Don! Kaka kamu". Ibu.
"Ada apa dengan fani, dimana dia sekarang". Ayah.
"Dia ada di kantor polisi, dia dibawa paksa oleh polisi". Ibu.
"Bagaimana bisa ibu, apa yang telah kaka lakukan". Doni.
"Ibu juga tidak tau, mengapa mereka menangkap kaka kamu". Ibu.
"Apa lagi yang kalian pikirkan, ayo kita ke kantor polisi sekarang". Ayah.
"Ayo! Aku sangat khawatir dengan keadaan nya". Ibu.
Bram masih dalam perjalanan pulang, melihat siya dan anak-anak telah tertidur, berlahan memelankan mobilnya dia tidak ingin tidur istri dan anak-anak terganggu.
Tiba dirumah bram dengan berlahan membangunkan mereka.
"Sayang, ayo bangun kita sudah sampai di rumah". Bram.
Siya terbangun dari tidurnya dan segera membangunkan anak-anak. Mereka pun terbangun dari tidurnya dan segera keluar dari mobil. Saat ingin masuk ke dalam rumah, mereka mendengar bunyi mobil polisi menghampiri mereka. Ana sangat takut ada polisi di rumahnya.
"Ibu, mengapa ada polisi disini". Ana.
"Ana tenangkan diri mu". Siya.
"Siapa yang bernama ana disini". Polisi.
Ana sangat ketakutan mendengar namanya dipanggil polisi.
"Dia anak saya, ada apa bapak mencari anak saya". Siya.
"Kami ditugaskan untuk membawa ana ke kantor polisi". Polisi.
"Tunggu! anda tidak bisa membawanya begitu saja, saya perlu penjelasan mengapa anda ingin membawa anak saya ke kantor polisi". Siya.
"Emba, tolong bawa zec kedalam". Bram.
"Baik tuan".
"Anak anda telah melakukan kekerasan kepada korban bernama david". Polisi.
"Ibu aku tidak bersalah dia yang ingin melakukannya kepada ku". Ana.
"Ana! Dengarkan ibu, ibu tidak akan membiarkan mereka membawa mu ke kantor polisi". Siya.
Polisi memaksa ana agar di bawa ke kantor polisi, siya dan bram berusaha menghalang-halangi mereka agar mereka tidak membawa putrinya. Ana berhasil di amankan polisi dan di bawa ke kantor polisi, siya dan bram segera mengikutinya ke kantor polisi.
Sampai nya di kantor polisi, ana diamankan dan dibawa keruangan interogasi untuk memberikan kesaksian.
Bram dan siya menunggu putrinya keluar dari ruang interogasi. Siya sangat khawatir dengan keadaan anaknya didalam.
Bram pergi memberikan pembelaan kepada anaknya agar ana di bebaskan.
"Apa benar kamu yang melakukan kekerasan terhadap korban". Pa polisi.
__ADS_1
"Saya tidak melakukan apa-apa, dia yang melakukan kekerasan kepada saya". Ana.
"Mengapa anda tidak jujur saja".
"Saya mengatakan sebenarnya, dia yang telah berbohong". Ana.
"Apa kamu sekongkol sama dia, tidak ingin mengatakan apapun".
"Untuk apa saya melakukan itu! tunggu apa maksud anda barusan(ana baru menyadari), apa fani juga ada disini". Ana.
"Ya, dia ada diruang interogasi, sama seperti kamu".
"Cepat katakan semuanya".
Disisi lain fani terus saja dibentak oleh polisi karena dia hanya diam tidak memberikan jawaban satu pun.
Melihat polisi lain masuk kedalam ruangan dan memberikan informasi.
"Pelaku sudah mengakuinya bahwa dia yang melakukan semuanya, wanita ini tidak bersalah".
"Siapa maksud anda". Fani bertanya.
"Baiklah, kamu tidak terbukti melakukannya, kamu bisa keluar dari sini".
"Tunggu! siapa yang memberikan kesaksian itu, bukankah hanya saya saja yang kalian bawa ke kantor polisi ini". Fani.
"Tidak! Kami tidak hanya membawa mu kesini, tapi dia juga".
"Siapa!". Fani.
"Ana".
Mendengar semua itu fani dengan segera memberikan kesaksian.
"Dia tidak melakukan apapun, saya yang melakukannya, saya yang memukuli anak itu dan saya juga membuat nya tergeletak disana, kalian bisa menangkap saya, saya yang melakukan semuanya, wanita itu tidak bersalah". Fani.
"Apa itu benar (menyakinkan)".
"Ya, saya melakukan semuanya, wanita itu tidak bersalah, dia hanya wanita lugu, tidak mungkin dia yang melakukannya". Fani.
"Segera bawa dia ketahanan, karena dia telah mengakuinya".
Melihat ana keluar dari ruang interogasi, siya segera memeluknya.
"Apa kamu baik-baik saja, sayang". Siya.
"Ya ibu". Ana menangis di pelukan ibunya.
"Anda bisa membawa pulang anak kalian kerumah, dia dinyatakan tidak bersalah".
"Saya sudah bilang anak saya tidak bersalah, mengapa kalian tetap membawanya". Bram sangat marah.
"Maafkan kami, kami hanya mematuhi perintah dari atasan kami, dan kami juga sudah menemukan pelakunya".
Mendengar perkataan polisi, siya dengan cepat bertanya kepada polisi "Siapa pelakunya". Siya.
"Kalian bisa lihat disana".
Fani keluar dari pintu dengan tangan diborgol, siya melihatnya dia tidak percaya, siya terus memandanginya.
Ibu dan ayah fani sampai di kantor polisi, ibu dan ayahnya melihat anaknya diborgol segera mendatanginya.
"Apa yang kalian lakukan, mengapa kalian memborgol anak saya, lepaskan dia". Ibu.
"Ibu! Ku mohon ibu tenang, ibu aku baik-baik saja, ibu biarkan mereka membawa diri ku". Fani segera memeluk ibu dan ayahnya, doni pun ikut memeluknya.
Fani melihat david ada disana segera menghampirinya dan menghajarnya.
__ADS_1
"Dasar bajingan, pengecut". Fani meludah di hadapannya.
David hanya tersenyum sinis, Bram tidak tahan melihat tingkah laku david ikut memukulinya, bram dan fani pun diaman oleh polisi dan polisi segera membawa fani ketahanan.