DIA PUTRI KU

DIA PUTRI KU
Kelicikan David


__ADS_3

Selesai makan ana dan siya kembali ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


.


.


Fani terbangun dari tidurnya karena mendengar suara bunyi dan ternyata itu adalah polisi yang sedang membuka pintu jeruji besi tahanannya, polisi pun membawa fani keluar dari sana, fani merasa bingung mengapa dirinya dibawa keluar, fani hanya bisa menuruti perintah apa yang dilakukan polisi. Sampainya di suatu ruangan fani masuk kedalam dan dia melihat adanya david di ruangan tersebut.


"Pa, bisakah kamu membawa ku kembali keruang tahanan". Fani.


David yang mendengarnya segera mencegahnya.


"Bisakah kita bicara sebentar, mungkin ini akan menjadi hadiah untuk mu". David.


Fani tidak paham apa yang dibicarakan david barusan tentang hadiah yang dibicarakannya dan ini membuat fani penasaran dengan hadiah tersebut, fani pun meminta polisi untuk meninggalkan mereka.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan". Fani.


"Aku hanya ingin kamu diberi pelajaran dipenjara itu, karena apa yang telah kamu lakukan kepada ku malam itu". David dengan nada kecil.


Fani tersenyum kecil dan menatap mata david dengan tajam.


"Mengalah lah besok, jangan memberikan pembelaan apapun dipersidangan atau aku akan". David.


"Atau apa, apa kamu mengancam ku". Fani.


"Ya! aku mengancam mu". David.


"Baiklah kalau begitu". Fani.


Fani merasa tidak ada yang penting dari pembicaraan mereka berdua, fani memutuskan untuk pergi dari sana, tetapi dia dicegat oleh david.


"Bagaimana mana dengan adik mu itu doni, yang telah melakukan kekerasan terhadap orang yang sama yang mana kakanya juga lakukannya". David.


Fani berbalik dan dengan cepat menghampiri david lalu menghajarnya.


"Dasar biadab, bajingan dasar pengecut". Fani.


Polisi melihat adanya perkelahian didalam segera memisahkan mereka berdua. Fani pun dibawa pergi dari sana menuju tahanan.


Fani merasa dadanya mulai sakit, fani pun mulai mendudukkan dirinya dan menarik nafas dalam-dalam agar sakitnya hilang, fani dengan berlahan menenangkan dirinya agar dadanya tidak sakit lagi.


.


.


.


Sore pun telah tiba ana merasa tugasnya telah selesai segera menuju keruangan ibunya, tetapi ana tidak melihat ibunya didalam ruangan tersebut. Ana mulai masuk kedalam ruangan ibunya dan mendudukkan dirinya di kursi. Ana yang merasa bosan menunggu ibunya tak kunjung juga datang. Ana pun keluar dari ruangan tersebut, dan mencari ibunya tetapi ana bingung mencari ibunya kemana karena rumah sakit begitu besar dan ana kemudian mulai bertanya kepada salah satu suster, dan suster tersebut memberi tahu bahwa ibunya sedang berada di ruang operasi, ana hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ana memutuskan kembali ke ruangan ibunya untuk menunggunya.


.


.


.


Doni merasa dirinya harus segera menemui kakanya agar dia tidak kemalaman pulang nanti ayah nya curiga kepada dirinya.

__ADS_1


Doni berlari menuju kantor polisi tetapi ketika dirinya sampai didepan kantor polisi, doni tidak sengaja melihat david di kantor polisi. Doni dengan cepat bersembunyi agar dirinya tidak ketahuan oleh david.


"Apa yang sedang dia lakukan disini, bukankah besok hari persidangannya". Doni .


Doni terus bersembunyi dan menunggu david keluar dari sana.


Tak lama david keluar dari kantor polisi dan memasuki mobil lalu pergi, doni pun dengan cepat masuk kedalam. Doni pun meminta izin kepada polisi agar dia bisa menjenguk kakanya itu, polisi pun mengizinkan.


Doni yang melihat kakanya sedang duduk dilantai segera memanggilnya.


"Kaka!". Doni.


Fani pun menolehkan kepalanya ke arah doni.


"Doni, apa yang kamu lakukan disini, dimana ayah dan ibu apa mereka juga ada disini". Fani.


"Ayah dan ibu tidak ikut bersama ku ka, dan aku hanya ingin memberikan sesuatu kepada kaka". Doni.


"Apa". Fani.


Doni yang melihat kakanya seperti tidak baik-baik saja segera mempertahankan.


"Kaka apa yang terjadi, apa dada kaka sakit lagi". Doni.


"Kaka baik-baik saja jangan khawatir kaka". Fani.


"Baiklah. Kaka aku barusan melihat david ada disini, tapi dia sudah pergi, apa kaka tau mengapa dia kemari". Doni.


"Dia datang untuk berbicara kepada kaka". Fani.


"Apa yang dia bilang ka". Doni.


"Kaka ku mohon jangan pikirkan tentang hal itu, itu tidak akan terjadi ka". Doni.


"Bagaimana kamu bisa menjamin itu". Fani.


Doni dengan semangat pun memberikan flashdisk itu kepada fani, fani bingung apa yang diberikan doni kepadanya. Doni pun menceritakan semuanya kepada fani, mendengar semua itu fani merasa lega dan bahagia akhirnya dia tidak perlu lagi untuk berpikir.


"Kaka ku mohon jangan sampai ada yang tahu tentang flashdisk ini, karena kita tidak dapat mempercayai orang yang ada disini, kaka paham". Doni.


Fani menganggukkan kepalanya dengan semangat. Doni pun berpamitan kepada fani karena dia harus pergi agar nanti tidak kemalaman pulang kerumah.


Fani merasa sangat bahagia, fani terus saja memandangi flashdisk itu.


.


.


Siya yang telah selesai melakukan operasinya pergi ke ruangan ana, karena dia ingat dengan janji nya kepada ana bahwa dia akan menemani ana ke kantor polisi, tetapi sampai nya disana siya tidak menemukan ana di ruangannya, kemudian siya pergi keruangannya, siya yakin ana pasti menunggu nya disana, ternyata itu benar siya menemukan ana di ruangannya tetapi siya melihat ana sedang tertidur pulas di kursi, siya dengan berlahan membangunkan ana. Ana pun terbangun dari tidurnya.


"Ana bukankah kamu ingin menjenguk fani, ayo bersiap-siap, kita akan kesana". Siya.


"Ibu, bagaimana kita tunda saja untuk hari ini, ibu pasti sangat lelah dari ruang operasi, lebih baik kita pulang saja ibu, lagian besok kita akan kesana kan dihari persidangannya". Ana.


"Baiklah, ayo kita pulang". Siya.


Bram yang melihat istri dan anaknya pulang segera menyambutnya.

__ADS_1


"Akhirnya istri ku pulang". Bram mencium siya.


"Ibu aku pergi duluan keatas". Ana.


"Ya". Siya.


"Bram, apakah kamu akan mencium ku terus, dimana zec". Siya.


"Dia sedang nonton TV diruang keluarga". Bram.


"Baiklah kalau begitu aku ke kamar dulu aku ingin membersihkan diri". Siya.


Bram hanya menganggukkan kepalanya dan menunggunya diruang keluarga, siya pun pergi ke kamar nya untuk membersihkan diri dikamar mandi.


Tak lama bram melihat ana datang segera mengajaknya untuk duduk didekatnya.


"Ana dimana ibu mu". Bram.


"Mungkin masih dikamar ayah". Ana.


"Ayah bagaimana, apakah ayah menemukan buktinya untuk besok nanti". Ana.


"Ana maafkan ayah, ayah telah terlambat mendapatkannya". Bram.


Tak lama siya datang dan duduk di samping ana.


"Apa yang kalian bicarakan". Siya.


"Ibu, ayah tidak menemukan buktinya". Ana.


"Bram". Siya.


"Ya, aku telah terlambat mendapatkan bukti itu. Saat aku melihat ada cctv ditaman, aku langsung menghampiri tempat itu dan segera memeriksanya hal hasil bukti itu sudah tidak ada lagi, aku tidak tau siapa yang telah melakukan semua itu". Bram.


"Ayah apakah ini ada hubungannya dengan david, mungkin saja david yang melakukan semua ini". Ana.


"Ayah tidak tau". Bram.


Siya merasa dirinya tidak nyaman terhadap fani besok nanti, siya tidak tahu mengapa dirinya terus saja merasa hal ini.


"Bram apakah tidak ada jalan lain lagi selain bukti itu". Siya.


"Ada! tapi dia akan tetap mendapatkan hukuman karena bukti itu tidak ada". Bram.


"Apa ayah". Ana.


"Kamu dan fani harus menceritakan sebenar-benarnya tidak ada kebohongan diantara kalian nanti dan itu akan dapat meringankan hukuman fani dipersidangan nanti". Bram.


"Ana dengarkan ibu, ibu dan ayah akan selalu ada bersama kamu jangan pernah takut, apa kamu paham maksud ibu". Siya.


"Iya ibu". Ana.


.


.


.

__ADS_1


David yang tak sabar dengan persidangan besok membuatnya ingin sekali mempercepat waktu. David merasa dirinya sangat senang dan terus saja menikmati minumannya dan berjoget ditengah kerumunan banyak orang, david tidak memperdulikan tentang persidangan besok karena dia sangat yakin dirinya akan menang dipersidangan nanti karena bukti itu ada ditangannya yang dimana dia simpan dengan baik-baik, dan david merasa fani akan melakukan apa yang dia suruh barusan siang tadi.


__ADS_2