DIA PUTRI KU

DIA PUTRI KU
Persidangan


__ADS_3

Siya yang tertidur lelap bermimpi buruk tentang putrinya, siya melihat putrinya sangat kesakitan dengan luka dibagian tubuh belakangnya, siya mendekati putrinya tetapi putrinya menjauhinya dan marah.


"Ibu mengapa kamu menyiksa diriku disini, ibu aku sangat kedinginan".


Siya pun terbangun dari tidurnya penuh dengan peluh, siya yang tidak dapat menahan dirinya akhirnya menangis, bram yang mendengar suara tangisan terbangun.


"Ada apa, mengapa kamu menangis". Bram.


"Bram, dia sangat marah kepada diri ku". Siya.


"Siapa". Bram.


"Vina". Siya


"Apa kamu bermimpi lagi, aku sudah bilang berapa kali kepada kamu, lupakan tentang vina". Bram.


"Bram! Bagaimana aku bisa melupakan semua tentang vina, aku ini ibunya bagaimana mana aku bisa melupakan putri ku bahkan dia juga putri mu sendiri". Siya.


"Siya! apa kamu lupa vina sudah meninggal 18 tahun yang lalu". Bram.


"Bram, kita tidak tau dengan itu bisa saja dia masih hidup". Siya.


"Siya sudahlah, aku tidak ingin bertengkar tentang hal ini, ayo tidur". Bram merasa kesal.


Siya yang merasa bersalah kepada putrinya terus saja menyalahkan dirinya. Siya sangat yakin bahwa putrinya masih hidup, tetapi bram terus saja menyakinkan dirinya bahwa putrinya telah meninggal.


Bram yang terus saja melihat siya menangis mulai menenangkannya.


"Bram, bolehkah aku tidur bersama ana, aku ingin tidur bersamanya". Siya.


"Mengapa". Bram bertanya.


"Aku hanya ingin tidur bersamanya". Siya.


"Baiklah". Bram.


Sebelum meninggalkan kamar bram melontarkan perkataannya.


"Siya ku mohon lupakan tentang dia". Bram dengan penuh keyakinan.


Siya yang mendengarnya hanya bisa menuruti suaminya walaupun ada rasa pedih didalam hatinya. Siya pun pergi menuju kamar ana.


Siya mulai membuka pintu kamar ana, siya melihat ana sedang tertidur pulas, siya mulai mendekati putrinya itu dan membaringkan tubuhnya di dekat ana, siya memeluk ana dan menciumnya, siya berusaha menahan diri agar tidak menangis. Tak lama siya pun tertidur memeluk ana.


.


.


.


Pagi pun telah tiba, ana terbangun dari tidurnya karena pantulan cahaya matahari menyinari nya, ana yang terbangun pun tidak sengaja melihat ibunya dikamarnya. Ana bingung mengapa ibunya ada disini, ana tidak ingin mengganggu ibunya yang sedang tidur, ana pun pergi ke kamar mandi.


Tak lama ana keluar dari kamar mandi, ana yang melihat ibunya masih tertidur dengan berlahan membangunkan ibunya.


"Ibu! Ibu..". Ana.


Akhirnya siya terbangun dari tidurnya. Siya yang melihat ana segera memeluk dengan erat.


"Ibu ada apa". Ana.


"Ana biarkan ibu memeluk mu sebentar, ibu sangat mencintai mu dan zec". Siya.


"Ibu aku juga mencintaimu". Ana.


Tak lama suara ketukan pintu kamar terdengar.


"Ana, apa kamu sudah bangun". Bram.


"Iya ayah, buka saja pintunya ayah". Ana.

__ADS_1


Bram membuka pintunya, bram melihat mereka berdua berpelukan segera menghampiri mereka.


"Wahhh, mengapa kalian berpelukan". Bram.


"Bram! apakah aku tidak boleh memeluk anak ku sendiri". Siya.


"Baiklah, kalau begitu ayah juga mau memeluk kalian berdua". Bram.


"Ayah ku mencintaimu". Ana.


"Ayah juga mencintaimu sayang". Bram.


Zec pun datang.


"Ayah". Zec.


"Zec, anak jagoan ayah, ayo kemari". Bram.


Mereka berempat pun saling berpelukan.


.


.


.


Doni yang terkejut mendengar suara barang jatuh di dapur segera melihatnya, dan ternyata itu adalah ayahnya, ayahnya telah menjatuhkan gelas yang berisi air hangat hal hasil membuat ayahnya terluka dibagian kakinya.


"Ayah! Apa yang sedang ayah lakukan disini". Doni.


"Ayah ingin membuatkan air hangat untuk ibu mu, ibu mu sedang sakit". Ayah.


"Ayah tidak bercandakan". Doni.


"Ayah tidak bercanda, ibu kamu benar-benar sakit". Ayah.


"Ayah, biar aku saja nanti yang pergi ke persidangan, ayah dirumah saja jaga ibu, aku tidak ingin ibu kenapa-napa". Doni.


"Baiklah, sebenarnya ayah juga ingin ikut bersama kamu dipersidangan hari ini, tetapi dengan keadaan ibu kamu sakit, ayah juga tidak tega meninggalkan ibu mu sendiri, kalau begitu kamu saja yang pergi ke persidangan, ayah akan tunggu kabar dari kamu, sampaikan salam ayah dan ibu kepada fani". Ayah.


"Baik ayah". Doni.


Doni pun segera bersiap-siap dan pergi menuju ke persidangan.


.


.


.


"Ana apa kamu sudah siap sayang". Siya.


"Belum ibu". Ana.


"Baiklah kalau begitu ibu dan ayah menunggu kamu di bawah ya". Siya.


"Iya ibu, aku akan segera kebawah". Ana.


Ana yang merasa dirinya sangat gugup dan berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak gugup lagi, selesai menenangkan dirinya, ana pun keluar dari kamarnya dan pergi kebawah.


"Ahh itu dia, dia sudah turun". Bram.


"Ana, apa kamu sudah siap". Bram.


"Iya ayah, aku sudah siap". Ana.


Ketika ingin keluar dari rumah, ana lupa membawa kalung fani.


"Ayah, aku lupa membawa kalung itu, ayah dan ibu tunggu sebentar disini, aku ingin mengambil kalung itu dulu dikamar". Ana.

__ADS_1


Ana pun pergi dan mengambilnya.


"Kalung apa". Bram.


"Aku juga tidak tau". Siya.


Tak lama ana pun datang.


"Ayo ayah kita berangkat". Ana.


"Ayo". Bram.


.


.


.


Doni sampai di depan ruang persidangan segera masuk kedalamnya, doni melihat david sudah ada diruang itu sedang duduk bersama pengacaranya didepan. Melihat itu doni kembali keluar dari ruangan tersebut dan mendudukkan dirinya dikursi luar dan menunggu sampai persidangan dimulai.


Bram, siya dan ana pun sampai segera keluar dari mobil dan pergi menuju ruang persidangan, di depan ruang persidangan siya melihat doni sedang duduk seperti memikirkan sesuatu.


"Bram! Kamu duluan saja masuk bersama ana nanti aku akan nyusul masuk kedalam". Siya.


"Baiklah". Bram.


Siya mulai menghampiri doni.


"Doni". Siya.


Doni terkejut adanya dokter siya didepannya.


"Dokter siya, kapan dokter siya dini". Doni.


"Barusan, ada apa". Siya.


"Tidak ada apa-apa". Doni.


"Dimana ayah dan ibu kamu". Siya.


"Ibu sedang sakit, sedangkan ayah menjaga ibu dirumah jadi mereka berdua tidak bisa datang dipersidangan kaka". Doni.


"Apa fani tau mereka tidak datang". Siya.


"Tidak, aku akan memberi tahunya nanti". Doni.


"Baiklah, ayo kita masuk kedalam". Siya.


"Dokter siya masuk aja duluan, aku ingin menunggu kaka disini". Doni.


"Baik, kalau begitu saya duluan masuk". Siya.


Doni menganggukkan kepalanya.


Lima menit kemudian doni melihat kakanya telah datang, doni segera menghampirinya.


"Kaka". Doni.


"Doni, dimana ibu dan ayah". Fani.


"Kaka, ibu sedang sakit sekarang ayah menjaga nya dirumah, mereka berdua tidak bisa datang hanya aku saja yang datang". Doni.


"Sejak kapan ibu sakit". fani merasa khawatir.


"Sudah cukup, nanti saja kalian bicaranya". Polisi.


Doni mempersilahkan polisi membawa kakanya masuk kedalam. Doni pun juga masuk dan mendudukkan dirinya dikursi.


Persidangan dimulai, selama persidangan dimulai david merasa tidak sabar lagi dengan keputusan hakim nanti.

__ADS_1


__ADS_2