
Siya yang melihat fani diborgol dan dimasukkan kedalam tahanan tidak tega melihatnya, siya meminta bantuan kepada bram agar dapat membebaskan fani dari tahanan, bram pun membantu fani dan memanggil pengacaranya segera.
Ana merasa sangat bersalah karena dirinya fani di tahan oleh polisi, siya yang terus menenangkan ana, dan membawanya pulang kerumah agar lebih tenang, dan bram tetap berada di kantor polisi bersama orang tua fani menunggu pengacaranya datang.
Fani di dalam tahanan, dia merasa ada ke kosongan dalam dirinya dan dia tidak tau harus berbuat apa, dia hanya bisa menyenderkan dirinya di pinggir tembok.
Tak lama pa rian pengacara fani datang.
Pa rian segera memasuki ruang (kepala kepolisian) untuk memberikan pembelaan kepada fani. Bram melihat pa rian keluar dari ruangan tersebut segera menghampirinya.
"Bagaimana". Bram bersama orang tua fani.
"Fani dinyatakan bersalah dia telah melakukan kekerasan kepada korban, dua hari lagi adalah hari persidangan dia, dan saya harus segera menemui fani ada yang saya ingin bicarakan". Pa rian.
Ibu fani yang mendengarnya langsung menangis di pelukan suami nya.
"Ibu, ku mohon tenangkan diri ibu". Doni.
Bram yang tidak tahu harus berbuat apa lagi hanya bisa menenangkan ibu fani.
"Dan kita harus mencari bukti yang kuat nanti dipersidangan, agar fani bisa dibebaskan dari tahanan". Pa rian.
"Baiklah kalau begitu sebelum pulang saya ingin menemui fani dulu, ada yang ingin saya bicarakan kepada nya". Pa rian.
"Silahkan". Bram.
Pa rian menemui fani diruang sel tahanan. Fani melihat seseorang menjenguknya dan dia tidak tau siapa orang tersebut.
"Apa kamu fani". Pa rian.
"Ya". Fani.
__ADS_1
Pa rian memperkenalkan diri nya kepada fani dan mulai menjelaskan semua kepadanya bahwa dia adalah pengacaranya, selesai banyak berbicara untuk menjelaskan semuanya, fani pun menuruti apa kata pa rian. Pa rian pun pergi dari sana.
Di satu sisi siya merasa dirinya sangat tidak tenang dan terus memikirkan tentang keadaan fani. Di Satu sisi siya juga memikirkan tentang keadaan ana yang saat ini masih dalam keadaan trauma.
Tak lama bram pulang dan segera menemui siya di kamar, bram tidak menemukannya di kamar, dan bram pergi ke kamar ana untuk memastikan apakah siya berada dikamar ana, di kamar bram melihat siya tertidur bersama ana. Bram tidak ingin mengganggu mereka, dan bram pergi ke ruang kerja.
Hari mulai sore siya terbangun dari tidurnya, siya keluar dari kamar ana dan pergi ke ruang kerja bram untuk memastikan apakah bram sudah pulang.
Siya melihat bram yang hanya diam di kursi membuat siya mendekatinya.
"Bram". Siya.
Bram terkejut dengan adanya siya di ruangnya.
"Iya, ada apa". Bram.
"Bram, bagaimana dengan fani". Siya.
Bram yang tidak bisa apa-apa lagi hanya bisa diam dan mulai memikirkan sesuatu bagaimana pun dia harus mendapatkan bukti itu.
Malam telah tiba doni bersama orang tuanya pulang kerumah, ibu yang terus saja menangis memikirkan keadaan fani membuat doni memeluk ibunya yang tidak tega melihat ibunya yang terus-terusan menangis.
Fani merasa dirinya sangat lapar meminta bantuan kepada polisi agar memberikannya makanan, tetapi polisi tidak mendengarkannya.
Fani merasa perutnya sangat lapar sekali hanya bisa dapat menahannya dan berbaring agar dia cepat tertidur dan melupakan tentang bunyi perut nya yang sangat lapar.
Siya terbangun dari mimpi buruknya dia bermimpi tentang fani, dan ini membuat siya merasa gelisah dengan keadaan fani. Siya dengan cepat bergegas untuk pergi, tetapi dia harus berhati hati agar dia tidak bangunkan bram dari tidurnya karena siya tidak ingin bram mengetahui dia pergi menjenguk fani ke kantor polisi, siya sangat yakin bram tidak akan mengijinkan dirinya pergi ke sana di malam hari.
Siya dengan segera keluar pintu dan menuju parkir mobil, siya dengan cepat membuka pintu mobil dan menyalakannya lalu pergi dari sana menuju kantor polisi, dipertengahan jalan siya singgah ke minimarket untuk membeli makanan untuk fani, selesai dari minimarket siya memasuki kembali mobilnya dan pergi dari sana. Sampai nya di kantor polisi siya meminta izin kepada polisi untuk menjenguk fani ditahanan. Polisi pun mengijinkan nya. Siya pun diantar oleh polisi menuju tahanan.
Sampainya di depan tahanan siya melihat fani terbaring di lantai, dan membuatnya tidak tega dengan keadaan fani sekarang.
__ADS_1
Siya pun dengan pelan memanggil nama fani agar dia tidak mengejutkan nya.
Fani merasa ada seseorang yang memanggil namanya berulangkali, fani pun mulai menoleh kebelakang dan dia terkejut ternyata itu adalah dokter siya, fani pun membangunkan tubuh nya dan mendekati dokter siya.
"Mengapa kamu ada disini". Fani.
"Fani, mengapa kamu melakukan semua ini". Siya.
"Mengapa kamu kemari, apa kamu kemari hanya ingin mempertanyakan hal itu kepada ku, lebih baik kamu pulang saja jaga anak mu". Fani.
Siya mendengarnya tidak mempersalahkannya.
"Kamu benar seharusnya saya menjaga anak-anak saya dirumah, saya bukan ibu yang baik untuk anak-anaknya". Siya.
Fani mendengarnya dan memandangi raut wajah siya menggambarkan bahwa dia sangat sedih dengan perkataan yang barusan dia katakan kepadanya, dan ini membuat fani merasa bersalah dengan kata-kata nya yang telah dilontarkannya kepada siya.
"Maafkan aku". Fani meminta maaf kepada dokter siya karena telah membuatnya sedih.
"Tidak masalah, yang kamu katakan itu benar". Siya.
Siya memberikan bingkisan makanan yang dia beli di minimarket, fani melihat bingkisan tersebut segera mengambilnya, fani dengan cepat memakan roti dengan lahap karena dia sangat lapar.
"Terima kasih, telah memberikan makanan ini, karena aku sangat lapar". Fani.
Siya melihat fani rasanya ingin menangis melihatnya, siya berusaha menahan air matanya, dan terus memandangi fani, siya kembali mengingat mimpinya dan itu ternyata mimpi adalah benar fani terbaring dalam kelaparan dan membutuhkannya.
Polisi datang dan memberi tahu bahwa waktu telah habis, siya berpamitan kepada fani dan keluar dari ruang tahanan.
Sebelum pergi fani menyempatkan dirinya mengatakan sesuatu. "Terima kasih banyak, untuk makanannya".
Mendengar itu siya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, siya keluar dari sana dan meninggalkan fani. Didalam mobil siya menangis sejadi-jadinya dan dia merasa ada sesuatu yang terhubung antara dirinya dan fani, siya merasa fani adalah anaknya yang hilang 18 tahun yang lalu.
__ADS_1