DIA PUTRI KU

DIA PUTRI KU
Pulang Kerumah


__ADS_3

Pagi hari siya mengantar suami ke bendara.


"Aku pergi dulu". Bram


"Hati-hati". Siya memberikan ciuman kepada suaminya.


Siya pergi dari bendara menuju rumah, sampai dirumah, Siya melihat ana sudah bangun dari tidurnya.


"Ibu dari mana". Ana.


"Ibu mengantar ayah kamu ke bendara untuk keluar kota, ada kerjaan yang harus ayah mu selesaikan disana". Siya.


"Mengapa ayah mendadak ibu". Ana.


"Ibu juga tau tadi malam, ayah mu memang seperti itu suka mendadak". Siya.


"Zec sudah bangun". Siya.


"Belum". Ana.


"Ya sudah ibu membangunkan zec dulu, kamu mandi sana, setelah itu kita sarapan bersama". Siya.


"Baiklah". Ana.

__ADS_1


Dimeja makan siya bersama anak-anaknya kumpul bersama.


"Ibu dimana ayah". Zec.


"Ayah sudah pergi, katanya ada kerjaan, jadi hanya kita bertiga ada disini, zec jangan sedih, nanti ayah akan pulang dan membawa zec jalan-jalan lagi ke kebun binatang". Ana.


"Benarkah". Zec.


"Benar sayang". Siya.


Ana baru kepikiran tentang kemarin bagaimana mana ibunya bisa bersama wanita (fani) dan penjahat itu. Ana mulai mempertanyakannya kepada ibu nya.


Siya menjelaskan semuanya kepada ana tentang kejadian yang telah terjadi kemarin. Membuat ana syok mendengarnya tidak percaya dengan semua itu.


"Dia baik-baik saja, dia hanya membutuhkan istirahat yang cukup, dan dia tidak boleh terlalu banyak gerak atau kelelahan itu akan membuat jantungnya sakit lagi atau lemah, ini akan membuat jantungnya akan berhenti". Siya.


"Mengapa orang tua nya tidak memberi tahu nya bahwa di mempunyai penyakit jantung sejak kecil". Ana kembali bertanya.


"Ibu juga tidak tau, kata ayah dan ibunya dia tidak ingin anak itu mengetahuinya takut dia tidak menerima dengan keadaannya sekarang". Siya.


"Ibu ini tidak masuk akal". Ana.


"Ibu juga berpikir seperti itu, sudahlah". Siya.

__ADS_1


"Ayo habiskan makanan kalian nanti kita terlambat". Siya.


Dirumah sakit fani memaksa ibunya agar membawanya pulang, dia merasa bosan berada di rumah sakit, ibunya bingung harus ngapain. fani merasa tidak nyaman berada di rumah sakit dia terus saja memaksa ayah dan ibunya segera membawanya pulang, fani merasa dirinya sudah baikan tidak ada apa-apa pada dirinya, ayahnya pun menuruti permintaan fani, istri nya tidak setuju dengan keputusan suami itu dan menyuruh nya untuk menunggu dokter siya apakah dia mengijinkannya untuk pulang atau tidak. Fani terus saja memaksa ibunya agar ibunya membawanya pulang dan dirawat dirumah saja. Melihat keadaan fani terus memohon Ibu fani akhirnya luluh dan mengijinkan nya untuk dibawa pulang, ayah fani segera mengurus semuanya agar fani dibolehkan untuk pulang kerumah, selesai mengurusnya, mereka segera mengemasi barang dan pulang kerumah menggunakan taxi, tidak lama mereka sampai dirumah, fani masuk ke kamar dan beristirahat karena dia merasa lelah.


Siya menyiapkan barang zec untuk dibawa ke sekolah. Dan ana berangkat duluan menggunakan mobil pribadinya karena dia ada urusan yang harus diurus. Siya segera mengantar zec ke sekolah, sesampainya di sekolah, siya mengantar zec kedalam kelas dan segera meninggalkannya.


"Zec! Ibu minta jangan nakal, oke". Siya.


"Oke". Zec.


"Dahh". Siya memeluknya dan memberikan ciuman kepada zec.


Siya pergi dari sana dan menuju ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit siya selalu menyapa pengurus dan perawat lainnya, Siya pergi ke ruangannya untuk memeriksa dokumen yang sudah ada dimeja nya, setelah selesai membaca semua dokumen. Siya pergi ke ruang fani untuk memeriksa kembali apakah keadaan sudah membaik.


Siya ingin membuka pintu di kagetkan oleh salah satu perawat, perawat itu memberi tahunya bahwa pasien yang ada dikamar tersebut yang bernama fani sudah tidak ada didalam, pasien sudah pulang ke kerumah bersama orang tuanya. Dokter siya tidak percaya dan memastikan ternyata benar dia tidak ada, dokter siya segera memarahi perawat itu.


"Mengapa kamu membiarkannya pulang, dia harus dirawat, keadaannya pun masih belum stabil". Dokter siya.


"Maaf kan saya dok, saya juga sempat menghalangi dan tidak mengijinkan pasien untuk dibawa pulang, tapi ayah pasien terus saja memaksa agar pasien bisa dibawa pulang".


"Ya sudah sekarang kamu bisa pergi, maaf kan saya sudah memarahi mu barusan". Dokter siya.


Dokter siya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena ini adalah permintaan orang tua pasien. Dokter siya hanya tak habis pikir mengapa orang tuanya membiarkannya pulang dan di rawat dirumah. Dokter siya merasa ada yang aneh dengan orang tua fani, tetapi dokter siya merasa ini bukan urusannya dan dia tidak ada hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga pasien.

__ADS_1


__ADS_2