
Pagi yang cerah membuat fani bersemangat pergi ke kota bersama sang ayah untuk menjual susu, sampainya di kota fani memulai berpisah dengan sang ayah untuk berbagi tugas menjual susu ke toko-toko lainnya, fani segera bersiap-siap untuk menjual susu sapinya ke toko tempat langganan dia. Sepanjang hari fani kesana kesini untuk menjual susunya agar cepat habis. Fani tidak sengaja bertemu doni ditaman kota.
"Don (nada tinggi)". Fani mendatanginya.
"Don, mengapa kamu ada di sini, ngapain kamu". Fani.
"Ka, apa ayah ada disini". Doni.
"Tidak ada, ayah lagi menjual susu di toko. kenapa emang". Fani.
"Ka, ku mohon jangan bilang sama ayah, aku ke kesini hanya ingin bertemu kekasih ku". Doni.
"Kekasih, sejak kapan kamu mempunyai kekasih, coba jelaskan". Fani.
"Kaka nanti saja ku jelaskan, dia sedang menunggu disana". Doni.
"Ka, ku mohon jangan bilang ke ayah, ayah akan marah nanti kepada ku, dan ayah akan mengadukan nya kepada ibu". Doni.
Dari kejauhan ayah memanggil fani, fani mendengar ayahnya memanggilnya.
"Ka ko mohon, ku janji akan pulang lebih cepat". Doni segera pergi dari sana sebelum ketahuan oleh ayahnya.
Fani segera mendatangi ayahnya.
"Fani! Apa susunya sudah terjual". Ayah.
"Ya ayah, susunya telah terjual habis".
"Fani siapa barusan yang berbicara dengan kamu tadi". Ayah.
"Oohh itu bukan siapa-siapa ayah, dia hanya menanyakan tentang jalan, dia tersesat". Fani mencari alasan agar ayahnya percaya kepadanya.
Hari mulai sore fani dan ayahnya segera pulang ke rumah.
David menjemput ana di parkiran rumah sakit dan menunggunya disana, tak lama ana datang dan masuk kedalam mobil david. Mereka pun pergi dari sana.
"David, kemana kita akan pergi". Ana.
"Apa kamu lapar". David.
"Ya, aku lapar". Ana.
"Ya sudah kita pergi makan dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat". David.
Ana dan david pergi ke restoran untuk makan bersama.
Sesampainya di rumah, fani merasa ada yang hilang, fani mulai meraba lehernya dan ternyata benar kalung kesayangannya telah hilang. Fani merasa panik kalungnya hilang.
Sang ayah melihat fani seperti orang kebingungan dan bertanya kepadanya.
"Ada apa fani". Fani.
"Ayah kalung ku tidak ada, apa ayah melihatnya". Fani.
"Mungkin kamu melepaskannya dan menaruh di kamar, coba kamu cari dikamar kamu". Ayah.
"Ada apa". Ibu.
"Kalung fani tidak ada". Ayah.
"Fani coba ingat dimana kamu menaruhnya" . Ibu.
"Ibu, aku tidak pernah sama sekali melepas kalung itu, dan aku juga tidak mungkin melepasnya". Fani.
"Ibu, mungkin kalung itu jatuh di kota, saat ku menjual susu disana, ibu ku harus kembali kesana". Fani.
"Fani, apa yang kamu lakukan, hari sudah sore, besok saja mencari kalung itu". Ibu.
"Tidak ibu, aku akan mencarinya ke kota ". Fani tetap keras kepala dan pergi ke kota.
"Fani!". Ibu.
Fani tidak mendengarkan ibunya dan pergi.
"Aku sudah bilang kepada mu (ayah) jangan membawanya ke kota, begini kan jadinya". Ibu memarahi ayah.
"Dimana lagi anak itu (doni) mengapa dia tidak pulang juga". Ibu.
"Memang kemana dia". Ayah.
"Aku juga tidak tahu". Ibu.
Fani sangat panik kalungnya hilang, hanya itu yang dia miliki barang peninggalan keluarga kandungnya, itu pun ibunya yang memberikannya walaupun dia tidak ingat wajah ibunya.
Sampainya di kota fani terus mencarinya.
Selesai makan david mengajak ana pergi ke taman. Mereka menghabiskan waktu bersama ditaman.
Siya pulang kerumah, dia disambut oleh zec.
__ADS_1
"Mama". Zec.
"Anak mama". Siya dengan cepat memeluk buah hatinya terus menciuminya.
"Dimana kaka kamu". Siya.
Zec hanya menggelengkan kepalanya.
"Emba". Siya.
"Ya bu".
"Dimana ana". Siya.
"Bukankah non ana bersama ibu".
"Tidak". Siya.
Siya bingung kemana ana, dan menelponnya, tetapi tidak dijawab oleh ana. Siya beranggapan mungkin ana masih dijalan.
Ana dan david sangat menikmati jalan-jalan ditaman.
"Ana, apa kamu tahu ini tepat favorit ku, aku sering kali kesini melihat pemandangan yang sangat indah, apa kamu suka". David.
"Ya, aku sangat suka, terutama untuk pemandangannya sama dengan pendapat mu". Ana.
"Ana bolehkah aku bertanya kepada mu". David.
"Ya, apa". Ana.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan, maksud ku kekasih". David.
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah pacaran, aku banyak menghabiskan waktu ku dirumah sakit atau dirumah bersama keluarga ku". Ana.
"Benarkah". David sangat bahagia mendengarnya, ini kesempatannya untuk mendekati ana.
Disisi lain siya sangat khawatir dengan keadaan ana, hari sudah mulai gelap dia sangat takut anaknya kenapa-napa.
Zec melihat ayah nya datang.
"Ayah!". Zec.
"Brammm". Siya.
Zec lari menghampiri ayahnya
"Bram! Mengapa kamu tidak bilang kepada ku, bahwa kamu akan pulang hari ini, aku kan bisa jemput kamu". Siya.
"Aku hanya ingin memberi kejutan kepada kalian". Bram memeluk siya dia sangat kangen sekali.
"Dimana ana, aku tidak melihat dia disini". Bram bertanya.
"Dia belum datang, aku juga tidak tahu dia kemana". Siya.
"Apa kamu sudah telpon dia". Bram.
"Telponnya sedang tidak aktif". Siya.
Siya sangat panik dengan anaknya tak kunjung juga pulang, Bram berusaha menenangkan siya.
Fani terus saja mencari kalung nya yang tak kunjung juga dapat. Fani teringat bahwa dia sore tadi bertemu dengan doni ditaman, fani segera kesana untuk mencari kalungnya.
David berusaha untuk merayu ana ini adalah kesempatannya untuk mengatakannya.
"Ana!". David.
"Ya". Ana.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu (memandanginya), sebenarnya aku suka sama kamu". David.
Ana terkejut mendengar david mengatakan perasaan nya.
"Ana maukah kamu menjadi pacar ku". David.
Ana bingung harus menjawab apa, dan dia baru kenal dengan nya dua kali. Ana dengan memberanikan diri menjawabnya.
"Dav, maaf aku tidak bisa menerima kamu". Ana.
"Mengapa". David mempertahankannya.
"Dav, aku baru mengenal kamu dua kali termasuk sini, dan aku juga tidak tau tentang kamu, mungkin ini alasan ku". Ana.
"Berarti intinya kamu menolak aku". David.
"Ya, bisa dibilang begitu". Ana.
David terima dengan jawaban ana dan mulai kasar terhadap ana, ana merasa takut melihat david terus memandanginya dan mendekatkan dirinya kepadanya.
Fani ditaman terus saja mencari kalungnya. Fani tidak sengaja mendengar teriakkan seorang wanita, dia merasa teriakan itu sangat dekat dengannya, fani mulai mencari sumber suara itu, hal hasil dia menemukan wanita itu bersama pria lain. Fani melihat wanita itu disakiti oleh pria yang bersama nya, fani mendatanginya, dan fani menyentuh pundak pria itu, saat pria itu memalingkan wajahnya, fani segera memukulnya dengan keras.
__ADS_1
"Siapa kamu". David.
"Tidak perlu kamu tau". Fani dengan pandangannya yang dingin.
Fani melihat wanita itu sangat ketakutan, fani segera menghampiri wanita itu dan memberikan tangannya, saat ingin memberikan tangannya, pria itu mau berniat jahat ingin menghajar fani dari belakang. Tetapi fani dapat menghindarinya dan kembali menghajarnya habis-habisan sampai pria itu pingsan. Fani mulai merasakan sakit di dadanya lagi, tapi dia dapat menahannya, dan segera membantu wanita itu.
"Apa kamu baik-baik saja". Fani dengan wajah dinginnya.
"Ya, terima kasih telah membantu saya". Ana.
"Mengapa kamu bisa ada disini, seorang wanita itu tidak baik keluar malam, apa lagi berada di tempat ini". Fani.
Ana memandanginya, bukankah dia seorang wanita juga.
"Ayo jalan, biar aku mengantarmu pulang kerumah". Fani.
"Tunggu! Bukankah kamu fani". Ana.
"Bagaimana kamu bisa tau nama aku". Fani.
"Saya ana, saya pernah bertemu kamu dirumah sakit, saya adalah salah satu dokter di rumah sakit itu, jadi saya tau kamu". Ana.
"Ya sudah, aku tidak peduli dengan semua itu". Fani dengan sikap dinginnya.
Fani mulai mengantarnya ana pulang. Sepanjang jalan fani dan ana tidak berbicara satu sama lain. Sesampainya di rumah ana, fani segera untuk pulang.
"Kamu mau kemana". Ana.
"Pulang". Fani.
"Tunggu disini, biar saya mengantarmu pulang, saya akan mengambil mobil dulu". Ana.
"Tidak perlu, kalau terjadi sesuatu kepada mu nanti gimana, lagian aku bisa pulang sendiri". Fani.
Siya mendengar ada suara diluar, segera melihatnya, ternyata itu adalah ana, siya memeluknya.
"Sayang kamu kemana saja, ibu sangat khawatir, mengapa kamu tidak bilang-bilang sama ibu". Siya.
"Maafkan aku ibu". Ana.
"Ayah". Ana dikejutkan dengan kedatangan ayahnya.
"Apa yang terjadi". Siya.
"Ibu nanti aku akan ceritakan semuanya". Ana.
Fani terkejut melihatnya, ternyata ana adalah anak dokter siya. Fani segera pergi dari sana, dan dia juga tidak ingin mengganggu mereka.
"Ibu untung saja fani ada disana, dia menolong ku dari laki-laki itu, dan dia juga mengantar ku sampai rumah". Ana.
"Dimana dia". Bram.
Ana menoleh kebelakang ternyata fani sudah tidak ada di belakangnya.
"Ayah, apa kah aku bisa minta tolong kepada ayah, untuk mengantarkannya ke rumah, mungkin dia belum jauh dari rumah ini, aku takut dia kenapa-napa dijalan". Ana.
"Tapi ana, ayah kan tidak tahu siapa dia". Ayah.
"Biarkan aku yang mengantarkannya, lagian aku tau siapa dia". Siya.
"Siya! apa yang kamu lakukan". Bram.
"Bram! Dia sendiri di jalan hari sangat gelap dan dia seorang perempuan, kalau dia yang kenapa-napa bagaimana, lagian dia sudah mengantarkan anak kita dengan selamat, biarkan aku yang mengantarnya". Siya.
Siya dengan segera menaiki mobil dan menjemput Fani dijalan.
Ana dan ayahnya masuk kedalam rumah.
Fani di jalan hanya menatapi langit yang begitu gelap, fani mulai merasakan sakit disekitaran dadanya karena terlalu lelah.
Fani melihat mobil menghampirinya dan berhenti di depannya, fani melihat seorang wanita membuka pintu mobil dan menghampirinya.
"Fani!". Siya.
"Dokter siya, ngapain ada disini". Fani.
"Ayo, masuk biar saya mengantar mu ke rumah". Siya.
"Engga perlu repot-repot, saya bisa pulang sendiri". Fani.
Siya melihat fani terus memegang dadanya segera membawanya masuk kedalam mobil.
"Apa yang kamu lakukan". Fani.
"Fani! Saya mohon mengertilah". Siya.
Fani pun masuk kedalam mobil, Fani hanya diam didalam mobil siya, Siya terus saja memandanginya membuat fani tidak nyaman, Fani merasa dirinya sangat kelelahan, dia mulai menyandarkan tubuhnya dan tertidur. Siya melihat fani tertidur terus memandanginya sepanjang jalan, dia merasa hatinya sangat tenang memandangi fani.
Disisi lain ana menceritakan semuanya kepada ayahnya apa yang sudah terjadi kepadanya.
__ADS_1