
"Jadi, elo serius mau nyari tau tentang alasan kepergian, Kak Bulan?" aku mengangguk, kembali melanjutkan memakan bakso pedas miliku.
Sebelum bel berbunyi tadi pagi, aku memang memutuskan menceritakan ke inginanku pada, Safa. Siapa sangka, dia setuju dan akan membantuku mencari alasan perginya, Kak Bulan.
"Terus serangkarang, elo mau nyari tau dari siapa?" Safa, kembali bertanya.
Aku meyelsaikan mengunyah baksoku, kemudian meminum jus Mangga yangku pesan. "Itu yang jadi masalahnya, gue gak tau harus mulai nyari tau dari mana, Mama sama Papa, gak mungkin bisa ditanya," keluhku.
"Emang Kak Bulan, gak punya diary atau apa gitu, yang bisa elo baca, siapa tau ada petunjuk di sana," usul, Safa.
"Kalaupun ada, pasti dibawa sama Kak Bulan, gak mungkin ditinggalin di kamarnya," jawabku, kembali prustasi.
Seolah tak ingin seorangpun menemukan dirinya, Kak Bulan benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak. Baik pakaian maupun barang-barangnya hampir semua ia bawa, hanya tersisa tempat tidur, beberapa pakaian, dan sepi yang mendominasi kamar, Kak Bulan.
"Aduh ... Kalau kaya gini ceritanya, gue mau ganti cita-cita aja deh, gak mau gue jadi polisi. Takut di suruh nyelidikin kasus yang buntu kaya gini," ucap, Safa.
Aku terkekeh sebentar, padahal menjadi polisi sudah menjadi cita-cita Safa, sejak eSDe, tapi setelah tau kalau tugas polisi tidaklah mudah ia langsung mundur. "Lha, ko gitu, elo'kan udah dari dulu pengen jadi polisi?" godaku.
"Gak jadi deh, gue dulu'kan pengen cuman biar keliatan keren aja pake seragam, gak pengen ribernya nyelsain kasus," terangnya. "Gue, mau jadi Ibu rumah tangga aja deh, urusin anak-suami," lanjutnyan.
Aku semakin terpingkal mendengar ucapan Safa, yang amsurd. "Mau jadi Ibu rumah tangga gimana? elo, aja sampe sekarang masih jomblo," ucapku.
Safa, mengerucutkan bibir. "Calon laki gue'kan lagi wamil di korea," halunya.
Lagi-lagi aku tertawa, Safa ini tingkat halunya sudah melebihi batas, bagaimana mungkin ada idol korea yang mau denganya.
Mengobrol dengan Safa, memang membuat rasa bingungku berkurang, Safa selalu punya cara untuk membuatku tersenyum dengan tingahnya.
"Udah belum makanya? balik ke kelas yuk! sebentar lagi waktu istirahatnya abis," ajak, Safa.
Aku mengangguk setuju, kemudia beranjak meninggalkan kantin, setelah menghabiskan jusku sebelumnya.
***
Aku menoleh ketika pintu kamarku di ketuk, di sana ada Gio, yang sudah rapih menggunakan pakaian tidur.
__ADS_1
"Kenapa, Gi?" tanyaku. Setelah menyembunyikan jurnal pencarian Kak Bulan, ke dalam lemari belajar.
"Bagi sandi wifi dong Kak! nanti jangan diganti-ganti terus dong. " Gio, memberikan ponselnya padaku sambil protes.
"Kalau gak diganti, pasti nanti kamu lupa waktu kalau main game." Aku mengembalikan ponsel Gio, setelah mengetikan kata sandi wifi.
Aku pikir setelah mendapatkan yang dia inginkan, Gio akan kembali ke habitat asalnya alias kamarnya. Mengurung diri sambil bermain game.
"Lha, ko malah rebahan di kasur Kakak? balik ke kamar kamu sana!" ucapku. Bukanya menurut, Gio justru malah bebenah mencari posisi yang nyaman.
"Minjem, bentaran doang ko, lagian Kakak, juga lagi belajarkan," ucapnya, tanpa melihatku.
Tiba-tiba saja sebuah ide mampir di kepalaku. "Gi, kamu pernah denger atau liat Mama sama Kak Bulan, berantem gak?" hati-hati aku bertanya, berusaha tenang agar Gio, tidak curiga.
"Engga pernah, tapi ...."Gio, terdiam tampak mengigat-ngingat sesuatu.
"Tapi apa?" aku mendekat, duduk di kasur samping Gio, yang sedang berbaring.
Gio, masih terdiam beberapa saat. "Pas Gio, kebangun tengah malam, karna pengen pipis, Gio, sempet liat Mama sama Kak bulan, lagi ngobrol di teras belakang," ucap, Gio.
Gio, kembali terdiam. "Gio, juga gak terlalu inget Kak, waktu itu Gio, dengernya sekilas. Waktu mau jalan ke kamar mandi, Gio denger Mama, bilang; Saya rasa saya sudah bersikap cukup baik dengan menerima kamu di sini, kamu juga pasti paham jika saya tidak ingin melihat kamu. Saya, tidak akan meminta kembali uang suami saya yang kamu pakai untuk biaya sekolah, ataupun biaya kehidupan kamu. Saya cuma minta, jangan kasih tau Gemi, dan Gio, tentang itu," ucap, Gio.
"tentang itu, itu tentang apa?" tanyaku.
Gio, menggeleng. "Gio, juga gak tau. Mama, cuma ngomong itu aja," ucapnya.
"Terus Kak Bulan, jawab apa?" tanyaku.
"Gio, gak tau. Karna, buru-buru mau pipis, Gio gak sempet denger jawabanya Kak Bulan," ucap, Gio.
Aku terdiam, berusaha menebak hal apa yang kira-kira tidak boleh aku ketahui, dan kenapa juga Mama, tidak mau melihat, Kak Bulan?
Selama ini, aku melihat interaksi keduanya baik-baik saja, meskipun mereka terkesan tidak dekat, seperti hubunganku dan Mama, tapi aku kira itu karna Kak Bulan, sangat pendiam.
"Kamu denger itu kapan, Gi?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah lama banget. Udah lewat bertahun-tahun," ucap, Gio.
Kemungkinan kejadian itu terjadi sebelum Kak Bulan, pergi dari rumah ini. Pikirku.
Keterangan dari Gio, memang hanya sedikit, tapi setidaknya aku sudah mendapatkan keterangan tambahan dari, Gio.
"Kamu ngerasa, aneh gak sih, kenapa Kak Bulan, gak pulang-pulang?" aku memintan pendapat, Gio.
"Enggak. Kata, Mama'kan Kak Bulan, gak pulang-pulang karna sibuk sama kuliahnya," ucapnya, santai.
"Gimana kalau Kak Bulan, hilang?" Gio, akhirnya menatapku, setelah dari tadi fokus pada gamenya.
"Maksud Kakak, apa?" tanyanya.
"Gimana, kalau seandainya Kak Bulan, gak akan pernah pulang?" tanyaku lagi.
"Enggak mungkin. Pasti Kak Bulan, pulang. Dia sayang sama keluarganya, sama aku, Kakak, Mama, dan Papa, jadi pasti Kak Bulan, akan pulang. Dia gak akan mungkin ninggalin kita," ucapan Gio, seakan menamparku.
Aku mengangguk saja, mendengar ucapan Gio, anak ini tak tau saja, aku mendengar percakapan Oma dan Papa, kemudian Tante Rosa, dan Mama. Aku, menyimpulkan, dari percakapan mereka, ada sesuatu yang ditutupi dari ku, aku juga menyinpulkan, bahwa Mama, tau alasan perginya Kak Bulan, bukan cuma karna ingin ngekos agar lebih dekat dengan kampus, melainkan ada alasan lain, yang Mama, tutupi dariku.
**Hallo readers budiman!
Terimakasih karna sudah setia menunggu ceritanya Gemitang ya.
Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika ada diposisi, Gemitang?
Jumi berharap, semoga kalian selalu sehat, diberikan kelimpahan rezeki dan kebahagian.
Buat yang sakit, atau kurang enak badan semoga cepet sembuh ya.
Jumi, Juga minta dukungan dan jejak kalian di chapter kali ini.
Semoga kalian suka dengan chapter kali ini.
Tertandan orang yang pengen Kaya dan Sukses, tapi hoby rebahan.
__ADS_1
Jumi**.