
Agenda yang pertama kali aku lakukan setelah membuka mata adalah kebingungan, tentu saja apalagi memangnya, setiap orang pasti setelah bangun tidur akan merasa linglung. Setelah, kesadaran ku kembali lima puluh persen melihat jam adalah agenda kedua yang ku lakukan.
06:30
Sekejap kesadaranku yang masih hilang lima puluh persen langsung kembali.
Gawat aku kesiangan!
Secepat kilat aku mandi dan berpakaian, aku bahkan tak sempat menyisir rambut, aku hanya merapihkannya sebentar dengan tangan, kemudian mengikatnya.
"Mamah ko, gak bangunin Gemi sih," protesku.
Aku duduk di meja makan, di samping Mamah, yang sedang santai menikmati roti coklat kesukaanya.
"Yang gak bangunin siapa? Mama, dari tadi udah teriak-teriak. Mamah, kira kamu udah bangun. Lagian, tumben banget kamu abis subuh tidur lagi," ucap, Mamah.
Biasanya, sehabis sholat subuh aku memang tidak pernah tidur lagi, kecuali jika kedatangan tamu, tapi untuk subuh tadi menjadi pengecualian. Malamnya aku begadang menyelsaikan drakor yang direkomendasikan Safa, ceritanya tentang seorang tentara yang jatuh cinta dengan seorang dokter.
"Kamu jangan pesen ojol, Mama yang anterin ke sekolah. Kalau, nunggu ojol lama." Aku mengiyakan setelah menghabiskan susu coklat kesukaanku. Aku dan Mama, memang sama-sama menyukai hal yang sama. Coklat.
\*\*\*
Untunglah gerbang belum dikunci, hampir sih, tapi sebelum terkunci sempurna Mama, membunyikan klakson mobilnya sehingga gerbang kembali dibuka.
Aku langsung berlari ke kelas, tak perduli jika rambutku pasti akan berantakan, tapi setelah sampai di kelas, bukanya melihat teman-temanku yang sedang mendengarkan penjelasan guru, aku justru melihat teman-temanku sedang santai7; ada yang bermain ponsel, mengobrol, tidur, ada juga yang sedang membuat konten Tok-Tok. Bahkan, aku jugak tak melihat guru ada di kelas.
"Gue, kira elo gak akan masuk hari ini," ucap safa, setelah melihatku duduk di sampingnya.
"Gue kesiangan, gara-gara semalem maraton drakor yang elo saranin," aduku. "Ko, pada santai sih? gurunya kemana emang?" tanyaku.
"Lagi pada rapat. Jadi hari ini sampai jam istirahat kita jamkos, cuma gak boleh pada ke luar dari kelas." Mata Safa, tak lepas dari gawai yang menampilkan vidio dance boyband korea.
"Kasian ya, anaknya. Pasti malu banget, mana baru tau sebelum ijab kabul lagi," aku melihat ke sumber suara, Windy.
__ADS_1
"Anak siapa yang kasian Win?" tanyaku.
Karna pensaran, aku menghampiri meja Windy, di sana juga ada beberapa siswi yang lainya.
"Anak orang. Namanya, Lala. Jadi pas mau ijab kabul Bapaknya gak mau jadi wali, terus sama si Lala, di paksa buat jadi walinya dia, akhirnya karna ngeliat si Lala, mohon-mohon terus Bapaknya, bilang kalau Lala itu anak di luar nikah, jadi Bapaknya gak boleh jadi wali nikahnya." Aku menyimak setiap kata yang Windy, ucapkan. Miris sekali gadis itu. "Kasian'kan? pasti si Lala, malu banget soalnya Bapaknya ngasih taunya di depan banyak orang, di depan calon suaminya lagi," Windy, menambahkan.
Aku mengangguk. "Kasian si Lala. Emangnya, Lala ini siapanya elo ko, elo bisa tau ceritanya dia?" tanyaku.
"Bukan siapa-siapa. Lala, itu tokoh utama di cerita Untuk Lala, yang lagi viral di Noveltut, masa elo engga tau?" ucapan, Windy membuatku terdiam.
Jadi, dari tadi yang Windy, ceritakan hanya fiksi? sia-sia air mataku yang hampir keluar karna kisahnya Lala, ternyata hanya fiksi.
"Gue'kan gak pernah baca novel begituan. Gue, sukanya komik detektif," jujurku.
"Gimana ya, kalau seandainya kita itu anak yang lahir sebelum nikah?" tanya, Rini di sampingku.
"Gue sih, jelas engga mungkin. Emak-Bapak gue orang baik-baik," ucap, Saras.
"Dicerita Lala, orang tuanya juga di tampilin jadi sosok yang baik," ucap, Rini.
"Caranya?" tanyaku yang ikut penasaran.
"Kita liat aja, tanggal lahir dan tanggal nikah orang tua kita, yang ada di buku nikah. Kalau, tanggal lahirnya lebih dulu dari tanggal nikah, fiks, itu berati anak haram," ucap, Windy.
\*\*\*
"Gem, Mama mau arisan di rumah Bu Rt, kamu jaga rumah ya, sebentar lagi Gio, pulang. Pastiin dia ganti baju sebelum main." Mama, melihat pantulan dirinya di cermiin, kembali menambahkan lipstik di bibirnya.
Karna, rapat masih berlangsung jadi aku bisa pulang lebih cepat dari biasanya. "Iya, Mah," jawabku, masih asik menonton kartun di Tv.
"Assalamualaikum," kata Mama, setelah menutup pintu.
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
Entah kenapa ucapan Windy, kembali hadir di kepalaku. "Kayanya kita juga perlu ngecek deh, siapa tau kita juga anak di luar nikah." Mungkin, sekarang waktu yang cocok, mumpung Mama, lagi arisan, dan Papa masih di kantor.
Aku mengira-ngira, dimana Mama menyimpan buku nikahnya, dan lemari adalah opsi terbaik.
"Ketemu!" ucapku, sedikit berteriak, untung saja tak ada orang di rumah.
"Sebentar," aku terdiam. "Aku'kan anak ke dua, jadi gak mungkin aku anak di luar nikah, sebelum aku lahir, Kak Bulan dulu yang lahir, jadi seharusnya yang di cek itu tanggal lahirnya Kak Bulan," molologku.
"Ngapain Gem?" aku terkejut mendengar suara Mama, buku nikah yang sedang aku pegang otomatis terjatuh.
"Kamu ngapain ngambil buku nikah Mama?" tanya Mama, yang memungut buku nikahnya.
"Em, Gemi ... Gemi, mau nyari foto copy izasah SMPnya Gemi, buat buat di bawa ke sekolah, besok." Terpaksa aku berbohong, gak mungkin aku bilang aku ingin melihat tanggal nikah Mama, dan tanggal lahirku.
"Terus, ko ngambilnya buku nikah, Mama?" tanya, Mama penuh curiga.
"Tadi, Gemi pegang aja, biar lebih gampang nyari izasahnya, soalnya ketumpuk-tumpuk," bohongku.
Semoga Mama, percaya.
"oh, yaudah biar Mama, aja yang nyari nanti, sekarang Mama, mau arisan dulu di rumah Bu Rt," ucap, Mama.
"Bukanya tadi, Mama udah berangkat. Ko, balik lagi?" tanyaku.
"Handphone Mama, ketinggalan makanya balik lagi," Mama, mengambil handphonenya yang berada di atas nakas.
"Mama, pergi ya, kalau ada apa-apa langsung telpon Mama, kalau mau makan, di atas meja makan udah ada ayam kecap, sama capcay kesukaan kamu. Kalau Gio, udah pulang langsung suruh ganti baju dan makan." Sebelum pergi, Mama sempat mencium pipiku sekilas.
"Huh ... gara-gara Windy, aku jadi harus berbohong pada Mama," ucapku.
Untung saja Mama, tadi percaya pada alasanku, kalau tidak pasti Mama, akan tersinggung dengan alasan sebenarnya. Mama, dan Papa, orang baik gak mungkin mereka melakukan hal yang dilarang oleh agama.
Aku, kembali ke ruang keluarga, melanjutkan menonton serial kartun bocah botak yang kembar.
__ADS_1
***Jangan lupa beri dukungan dan tinggalkan jejak untuk part kali ini ya.
Terimakasih. Sama sayang dari Jumi***.