
"Zura!" ucap, Safa berbisik.
Aku bedehem sebagai jawaban. Masih memfokuskan pandanganku pada papan tulis.
"Zura?" lagi, Safa memanggilku.
Aku kembali berdehem, bersiap mendengar apapun yang akan Safa, katakan.
"Zura, ikh liat gue dulu!" Safa, mulai kesal karna aku masih fokus mencatat pelajaran.
Aku menghela nafas pelan, kemudian mengalihkan pandanganku pada, Safa. "Apa?" tanyaku.
"I love you," ucap Safa, dengan cengiran polosnya.
Aku terdiam, kehabisan kata-kata melihat tingkah amsurd orang yang duduk di sampingku ini.
"GaJe, lo," kataku, kembali melanjutkan menulis.
Safa, tertawa kecil. "Pulang sekolah, nonton bioskop yuk! kata anak kelas sebelah ada film horor yang baru," ucap, Safa.
Aku menoleh untuk memastikan keseriusan di wajah, Safa. Bisa-bisanya anak ini mengajakku menonton horor, padahal dia penakut. "Elo, gak salah mau ngajakin gue nonton film horor?" aku memastikan.
Safa, mengangguk antusias. "Gak salah ko, gue yakin seratus persen," ucap, Safa percaya diri.
"Tapi, elo'kan penakut," aku mengingatkan. Takut jika Safa, mengalami amesia.
"Iya sih, tapi gue gak mau ketinggalan topik buat gosip, sekarang'kan anak-anak lagi pada heboh ngomongin film itu. Jadi, gimana mau gak?" tanyanya.
Aku berfikir sejenak, kemudian menggeleng pelan. "Kalau hari ini gak bisa, Mama dari semalem demam, jadi nanti gue harus nemenin Mama," ucapku.
Safa, memasang wajah memelasnya. "Yah ... terus gimana dong?" tanya, Safa.
"Elo, pergi sama yang lain aja deh," usulku.
Safa, menggeleng. "No. Elo'kan tau gue penakut, kalau nonton film horor pasti teriak-teriak, anak-anak yang lain belum tentu bisa tahan sama teriakan gue," ucap, Safa lesu.
"Yaudah, gimana kalau perginya lusa aja? semoga aja demam, Mama gue bisa cepet turun," usulku.
"Yaudah deh, tapi elo yang bayarin tiket bioskopnya ya?" Safa, kembali ceria seperti biasanya.
Aku kembali kehilangan kata-kata melihat tingkah ajaib dari Safa, tapi tak urung kuiyakan juga permintaan Safa, tentu saja itu membuatnya berkali-kali lebih girang dari sebelumnya.
Tak lama kemudian guru kembali datang setelah sebelumnya pamit ke toilet, aku dan Safa, juga menghentikan obrolan singkat kami.
***
__ADS_1
"Ini, elo beneran engga mau nebeng sama gue?" Safa, kembali bertanya setelah ajakan sebelumnya aku tolak.
"Enggak Safa Cahyani, lagian gue udah pesen ojol, terus gue juga mau mampir di apotek dulu, beli obat buat Mama," ucapku.
"Batalin aja deh, elo nebeng sama gue aja, nanti gue sekalian mau jenguk tante Mayang," usul, Safa yang masih setia duduk di atas motornya.
"Enggak. Kasian ojolnya kalau gue batalin, elo jenguknya besok aja deh, nyokap elo juga udah telpon nyuruh pulang cepet'kan tadi?" ucapku.
Dengan sedikit terpaksa akhirnya Safa, mau juga kusuruh pulang duluan. Sebelum pergi, aku masih bisa melihat wajah khawatirnya, mungkin Safa, kasian melihatku harus menunggu ojol, sementara langit mulai murung.
"Zura, mau bareng gue gak?" motor Arin, berhenti tepat di depanku.
"Enggak Rin, makasih. Gue, udah mesen ojol," ucapku.
Arin, mengangguk kemudian pamit pulang lebih dulu.
***
"Tunggu sebentar ya, Pak, saya mau beli obat dulu," ucapku, pada ojol setelah sampai di apotek.
Ojol itu pun, mengangguk sambil tersenyum.
Tepat setelah aku menyerahkan helm, sosok itu terlihat lagi, dia keluar dari dalam apotek dengan menggunakan sweter merah jambu, aku melihat dia juga membawa katong keresek kecil di tangan kananya. Dia, bersiap akan pergi dengan seorang ojol.
Aku buru-buru ingin menghampirinya, tapi jalanan sedang banyak lalu-lalang kendaraan, membuatku sulit menyebrang. Harusnya, aku tadi minta Bapak, ojol ini untuk parkir di depat apotek saja, bukan menunggu di sebrang jalan seperti ini.
Sekali lagi, aku kehilangan jejak Kak Bulan.
"Kak, aku mau beli parasetamol, vitamin C sama, vitamin B1," ucapku, pada penjaga apotek.
"Ini obatnya Dek, total semuanya lima puluh ribu," ucap, perempuan berjilbab di depanku.
Aku menyerahkan satu lembar uang berwarna merah. "Maaf Kak, aku mau tanya, perempuan yang pake sweeter pink tadi beli obat apa ya?" tanyaku.
Aku yakin penjaga apotek itu ingat dengan orang yangku tanyakan, mengigat hanya satu orang yang memakai baju berwarna pink dari tadi.
"Yang pake baju pink itu Kakaknya aku ko," ucapku, meyakinkan penjaga apotek yang terlihat ragu tersebut.
"Mbaknya yang tadi beli testpack," ujar, penjaga apotek itu.
Aku menyeritkan kening, merasa aneh karna baru pertama kali mendengar nama obat seperti itu. "Itu obat buat sakit apa?" tanyaku.
"Itu bukan obat Dek, testpack itu alat untuk test kehamilan," jawab, si penjaga apotek.
Aku mematung, seakan tenggelam dalam dimensi kosong tanpa cahaya. Mungkin, jika penjaga apotek itu tidak menegurku untuk memberikan kembalian aku akan terdiam sampai besok. Saat, di perjalanan ke rumah pun, aku masih terdiam mencerna kata-kata si penjaga apotek tadi.
__ADS_1
*Kak Bulan, beli testpack buat apa?
Kak Bulan, hamil?
Kak Bulan, hamil sama siapa? tapi, Kak Bulan'kan belum nikah.
Apa ini alasan, kenapa Kak Bulan, gak mau pulang selama ini*?
Pertanyaan seperti itu terus berputar-putar di kepalaku, seperti musik yang sedang naik daun dan diputar dimana-mana.
"Gem? Gem? Gemitang?" Mama, menyentuh pundakku.
"Hah? ke–kenapa, Ma?" jawabku, tergagap.
"Yang kenapa itu kamu? dari tadi Mama, tanya mau makan siang pake apa, kamu malah ngelamun," ucap, Mama.
Aku kembali terdiam, bingung antara harus menceritakan apa yang kulihat atau tidak. Sama sepertiku, pasti Mama, akan terkejut jika tau Kak Bulan, membeli testpack di apotek.
"Tuh'kan, ngelamun lagi," kata, Mama menyadarkanku.
"Ada apa, sih? kamu punya masalah? coba cerita sama, Mama!" pinta, Mama.
Aku menggeleng, kemudian tersenyum dan memeluk, Mama. "Gemi, gapapa Ma," ucapku.
"Terus kamu kenapa ngelamun?" tanya, Mama.
Aku memilih diam.
"Kamu kalau punya masalah, atau ada yang ngeganjel di hati, kamu cerita aja sama Mama, jangan pernah ngerasa Mama, akan terbebani ya?" ucap, Mama sambil membelai rambutku.
Aku tersenyum kemudia mengangguk. Gemi, baik-baik aja, Ma. Mama, gak usah khawatir." Aku meyakinkan, Mama. "Sekarang, Mama istirahat aja, biar cepet sembuh. Soal, makan siang biar Gemi, bikin sendiri aja, sekalian bikin buat Gio," lanjutku.
"Makasih ya, Gem, kamu udah bantuin Mama," ucap, Mama.
Aku mengangguk, kemudian membenarkan posisi tidur, Mama. Aku kembali ke kamarku setelah meninggalkan kecupan di kening, Mama.
Di dalam kamar, aku masih mematung, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negativ yang mulai mampir di kepalaku.
Apa mungkin alasan Kak Bulan, pergi karna masalah ini? tapi, jika benar kenapa harus sampai bertahun-tahun? apa yang sebenarnya di sembunyikan, Kak Bulan?
***Hai readers yang aku sayang!
Gimana kabar kalian hari ini?
Semoga kalian selalu dikelilingi banyak kasih sayang dan kebahagian setiap harinya.
__ADS_1
Tertanda, orang yang selalu pengen liburan keliling dunia, tapi males ke luar rumah.
Jumi***.