
Sepelung sekolah hari ini, aku menunaikan janjiku pada Safa, untuk menemaninya menonton film horor di bioskop. Lebih tepatnya film yang menonton kami, karna sepajang film berputar kami sama-sama menutup wajah kami dengan tangan, bahkan aku sampai tidak tau alur cerita apa yang sedang diputar saking seringnya menutup wajah daripada melihat ke layar.
Meskipun mata kami lebih sering tertutup, tapi mulut kami tetap aktif mengunyah, terbukti dengan dua kantong popcorn yang kami habiskan.
Lagi sudah mulai gelap ketika kami keluar dari bioskop untuk menunaikan sholat magrib di mushola terdekat.
"Elo, yakin nih, engga mau bareng gue pulangnya?" tanya, Safa ketika kami sampai di parkiran.
Aku menggeleng. "Bokap gue mau jemput, sebentar lagi juga dateng," jawabku.
Safa, mengangkat ibu jari dan telunjuknya membentuk hurup O. "Thanks ya, karna udah bayarin tiket bioskopnya. Gue, duluan ... Bye ...." Pamit Safa, sebelum pergi dengan motor maticnya.
"Gemi!" aku menoleh ke sumber suara.
Di sebrang jalan sudah ada mobil Papa, yang terpakir rapih. Buru-buru aku mendekat, kemudian mencium punggung tangan Papa, setelah aku masuk ke mobil.
"Mau langsung pulang, atau kita makan dulu di Mall?" tanya, Papa.
Aku mengetuk-ngetukan telunjuk di dagu, seolah sedang berfikir. "Langsung pulang dong! Gemi, udah laper nih, kangen masakanya Mama," ucapku.
Papa, tertawa lebar sambil mengacak-acak rambutku. Gemas.
"Pah?" Papa, yang sedang menyetir melihat ke arahku sekilas. berdehem pelan.
"Selain masakan Mama, ada gak makanan lain yang Papa, favoritin?" tanyaku, memecah keheningan selama perjalanan.
Papa, terdiam. Mengingat-ngingat makanan yang selalu menghantui fikiranya ketika lapar menghampiri.
Setauku, Papa jarang sekali makan diluar jika bukan karna terpaksa. Misalnya saat meeting di kafe, ataupun saat mengajak Mama, makan diluar.
Setiap hari, Papa bahkan membawa bekal dari rumah untuk makan siang.
"Ada," ucap, Papa. "Kue buatan Kakak, kamu. Bulan," lanjutnya.
__ADS_1
Aku terdiam. Kue buatan Kak Bulan, memang paling enak, aku dan Gio, juga sangat menyukai kue buatan Kak Bulan, sampai-sampai setiap Kak Bulan, membuat kue aku dan Gio, pasti akan berebut siapa yang pertama kali mencoba.
"Gemi, kangen sama kue buatannya Kak Bulan, Pa. Gemi, kangen Kak Bulan," aduku.
Kali ini giliran Papa, yang terdiam. Raut, wajahnya datar sehingga sulit untuk aku baca apa yang ada difikiran, Papa.
***
"Kak Gemi!" aku mengelus dada begitu melihat Gio, berada di samping pintu kulkas. Jika tidak sigap botol air yang kupegang nyaris jatuh.
"Gio! kebiasaan deh, suka ngagetin Kakak," ucapku.
Gio, memamerkan senyum lebar tanpa dosa andalannya. "Gio, mau cerita sama Kakak," ucapnya, mengikutiku menuju kamar.
"Cerita apa?" tanyaku, pelan.
"Ini cerita yang penting banget," ucap, Gio menambah rasa penasaranku.
Gio, celingukan seperti memastikan kondisi sudah aman jika ia mulai bercerita. "Tadi'kan Gio, pulang agak telat karna harus eskul basket, karna udah sore dan susah buat mesen ojol, jadi Gio, pulangnya numpang sama Rafi," ucap, Gio.
"Yaelah, Kakak kira cerita soal apaan, cuma soal nebeng bareng Rafi, aja kamu sampai bilang ini cerita penting," ucapku.
Decakan terdengar dari, Gio. "Jangan dipotong dulu omongan akunya Kak, ceritanya belum selsai," Gio, mengerutu.
Aku tertawa kecil. "Oke. Sorry, silakan dilanjutkan penjelasannya Pak Guru," ucapku, mendramatisir.
"Aku'kan ngelewatin halte tuh, di halte itu aku ngeliat Kak Bulan, lagi duduk sama Ibu-Ibu yang bawa belanjaan," Refleks, aku menoleh sepenuhnya pada Gio, saat nama Kak Bulan, disebut.
"Kamu yakin itu, Kak Bulan? siapa tau itu orang lain yang kebetulan mirip sama Kak Bulan," ucapku.
"Seratus persen yakin!" ucap, Gio.
"Terus kamu temuin gak, Kak Bulannya?" tanyaku, semakin penasaran.
__ADS_1
"Awalnya Gio, pengen nemuin Kak Bulan, tapi pas Gio, balik lagi ke halte itu, Kak Bulan udah gak ada Di sana."
Meskipun aku bukan psikolog, tapi aku tau ada kesedihan dibalik ucapan Gio, tentang, Kak Bulan.
"Kamu gak coba tanya sama Ibu-ibu yang duduk bareng, Kak Bulan?" tanyaku.
"Ibu-ibunya juga udah gak ada, mungkin mereka udah naik bis," jawab, Gio. "Kalau aja waktu itu Gio, langsung minta Rafi, buat berhenti dan gak harus puter balik di belokan depan, mungkin Gio, bisa ketemu sama Kak Bulan, Gio kangen sama Kak Bulan, Kak." lanjut, Gio.
Aku mengerti perasaan Gio, karna aku juga merasakan hal yang sama. Setiap kali kami berkumpul bersama aku selalu teringat Kak Bulan, meskipun kami tidak terlalu dekat, tapi tetap saja rasanya aneh jika di sini kami berkumpul dan besenda gurau, kemungkinan Kak Bulan, tidak bisa merasakan hal yang sama.
Begitu juga dengan Papa, kerap kali aku melihat raut wajah sendu yang ditunjukkan Papa, setiap kami berkumpul bersama.
"Kamu liat Kak Bulannya, di halte mana?" tanyaku, memecah keheningan diantara kami.
"Di halte pertama yang deket sekolahan Kak," ucap, Gio.
"Besok kita ke sana aja, siapa tau Kak Bulan, besok pake halte itu lagi, nanti pas Kakak, pulang sekolah Kakak, samperin ke sekolah kamu, kita tungguin Kak Bulan, di sana," usulku pada, Gio.
Aku pikir Gio, akan menolak, tapi siapa sangka Gio, justru mengangguk antusias.
"Besok Gio, izin libur eskul deh, biar bisa nemenin Kakak, nyari Kak Bulan," ucap, Gio.
"Oke, deal!" kataku, menjabat tangan Gio, seolah host di acara bagi-bagi hadiah yang terkenal itu.
Selain Safa, kini aku mendapatkan teman pencarian baru, Gio. Semoga saja, dengan bertambahnya anggota akan lebih mebuatku lebih dekat dengan Kak Bulan.
***Hai readers yang baik hati!
Bagi yang muslim selamat menunaikan ibadah puasa ya ...
Sharing donng, sama Jumi, pengalaman apa aja yang kalian dapetin selama puasa beberapa hari ke belakang.
Tetap semangat menjalani aktivitas kalian, ya...
__ADS_1
Jumi, berharap kalian selalu bahagia
Terimakasih***