
Seperti biasanya setelah makan malam aku bertugas membantu Mama, membereskan piring kotor dan makanan yang masih tersisa, kemudian mencuci piring-piring kotor.
"Ma?"
Sebagai jawaban Mama, hanya berdeham tanpa menoleh.
Aku terdiam. Mengira-ngira apakah pertemuanku dengan Kak Bulan, harus aku cerita'kan pada, Mama.
"Kenapa?" kali ini Mama, sepenuhnya menatap ke arahku yang masih tak terdiam.
"Botol tupperware punya Mama, ketinggalan di kelas. Tadi, Gemi lupa masukin ke tas setelah dibawa olahraga di lapangan." Setelah difikir ulang, aku tidak akan memberi tau Mama, dulu sampai setidaknya aku tau dimana tempat tinggal, Kak Bulan.
"Gem, ko kamu bisa ceroboh banget sih, gimana kalau ada yang ngambil coba? itu'kan tupperware kesayangan Mama, lain kali kalau bawa minum bawa pake tempat minum biasa aja, jangan pake tupperware," Aku, mengangguk mengiyakan saja semua ucapan, Mama. Kalau sudah menyangkut 'anak kesayangannya' aku hanya bisa pasrah.
Untungnya aku ingat soal tupperware yang ketinggalan, jadi Mama, tidak curiga padaku.
"Gem, ke sini sebentar!" suara Papa, dari taman belakang terdengar sampai dapur.
"Ayah manggi tuh," kata, Mama.
Aku lekas membilas tanganku yang basah saat mencuci piring, kemudian mengeringkanya dengan serbet di samping wastafel.
"Ada apa, Pah?" tanyaku.
"Tolong ambilin flashdisk Papa, yang warna merah di laci nomer dua di ruang kerja Papa, ya Gem," ujar, Papa.
Aku, mengangguk. kemudian segera ke lantai dua tempat di mana Papa, biasa bekerja. Ruang kerja Papa, berada tepat di samping kamar Kak Bulan, yang selama ini kosong.
Ruang kerja Papa, tidak pernah dikunci, tapi meskipun begitu Mama, selalu mewanti-wanti kami untuk tidak masuk sembarangan ke ruangan itu. "Harus, ada Izin, atau emang disuruh Papa, baru boleh masuk," begitulah kira-kira kata Mamah, tiga tahun yang lalu saat aku hendak masuk ke ruang kerja Papa, untuk meminjam leptop. Aturan itu juga berlaku untuk Mama, harus ada izin Papa, baru Mama, bisa masuk ke dalam. untuk urusan bersih-bersih sekalipun dilakukan oleh Papa, seorang diri.
Kata Mama, meskipun kami keluarga dan memang seharusnya saling terbuka, tapi kami juga dipersilahkan untuk memiliki privasi masing-masing karena itu hak individu, termasuk hak privasi ruang kerja, Papa. Tempat terbaik untuk Papa, merenung.
Sudah sekitar sepuluh menit aku mencari flashdisk yang Papa, sebutkan, tapi hasilnya nihil. Bahkan, aku sudah membuka beberapa laci, tapi tetap tidak ketemu.
Netraku berpencar mengamati sekeliling, takut jika ada bagian yang terlewat dari jamahankun. Netraku, terkunci pada lemari kayu yang ada di belakang meja kerja Papa, tempat yang belum ku cari, tapi sayangnya lemari ini terkunci, dan aku tidak tau dimana Papa, meletakkan kuncinya.
__ADS_1
Kembali netraku fokus pada satu benda di atas lemari, semua kotak berukuran kecil berwarna hijau.
Aku berhasil mendapatkan kotak itu dengan berjinjit karena lemari kayu itu yang cukup tinggi.
Syukurlah, itu hanya kotak biasa. Jadi, aku tidak memerlukan kunci apapun untuk membuka kotak itu.
Di dalamnya ada beberapa lembar surat yang tulisannya sudah buram, sepertinya surat itu sudah cukup lama sehingga aku tidak bisa membaca tulisan apa itu, ada sebuah amplop coklat berukuran sedang, saat dibuka ternyata ada sejumlah uang didalamnya, tapi bukan itu yang menarik perhatianku, melainkan selembar foto yang sudah buram. Aku benar-benar tidak bisa melihat siapa pemilik wajah di foto ini, karena selain buram sepertinya foto ini juga pernah diremas, terbukti dari bentuknya yang tidak rapih.
Meskipun tidak dapat mengenali pemilik wajah di foto itu, tapi aku tau ada tiga orang yang berada di foto itu, satu orang laki-laki dewasa, satu orang anak balita, dan seorang perempuan dewasa yang menggenakan dress. Buru-buru aku memfoto, foto buram itu dengan kamera ponselku, jaga-jaga jika nanti foto ini akan berguna.
Tepat setelah merapihkan isi dari kotak hijau itu, pesan watsapp dari Papa, mengejutkanku. Menyadarkanku, tentang tujuan utama aku berada di sini.
"Gem, flashdisknya gimana? udah ketemu belum?" pesan dari, Papa.
"Belum, Pa. Gemi, masih nyari," balasku.
"Maafin, Gemi Pa, karena udah lancang buka barang yang bukan punya Gemi," ucapku, dalam hati kemudian kembali meletakkan kotak itu ketempatnya semula.
***
syukurlah, flashdisk itu akhirnya ketemu. Ternyata flashdisk itu ada di bawah meja kerja Papa, jadi aku sulit untuk menemukannya.
"Gemi, ke kamar dulu ya Pa, mau istirahat," ucapku, Papa mengangguk.
Lega, karena Papa, tidak menanyakanku kenapa lama menemukan flashdisk itu.
Awalnya aku ke kamar berniat istirahat, tapi sampai kamar justru aku malah terbayang-bayang dengan orang yang berada di foto buram itu. Jika, orang yang berada di foto buram itu bukan orang yang penting untuk Papa, mana mungkin Papa, mau menyimpan foto usang tersebut.
"Kenapa banyak banget rahasia di keluarga ini?" monologku.
Aku membuka handphoneku, berniat menghubungi Safa, semoga saja anak itu belum tidur.
"Safa, lo udah tidur belum?" tulisku pada Safa, lewat aplikasi pesan berwarna hijau.
Tak sampai dua menit, Safa sudah membalas pesanku. "Belum. Gue, lagi nonton drakor nih, emangnya kenapa? tumben elo, chat gue malam-malam gini."
__ADS_1
Aku menekan ikon telpon, jika menggunakan pesan pasti akan sangat lama. "Hallo, Safa?" sapaku, mendahului.
"Iya, ada apa Zur?" tanya, Safa di sebrang sana.
"Gue, pengen cerita sama elo," ucapku, ragu-ragu.
"Cerita apa?" Safa, sudah bersiap mendengarkanku.
"Hallo, Zura? ko, malah diem. Katanya, elo mau cerita," Safa, menyadarkanku dari lamunan barusan.
"Emm ..., " aku masih ragu bercerita tentang foto buram itu.
"... soal, tadi siang. Kira-kira, gue perlu bilang gak ya sama nyokap-bokap kalau gue ketemu sama Kak, Bulan?" akhirnya pertanyaan itu yang justru keluar.
"Terserah elo, sih ... tapi, saran gue jangan. Elo, ketemu sama, Kak Bulan'kan waktu dia lagi kerja di kafe, kalau orang tua elo, tau mereka kemungkinan larang Kak Bulan, buat kerja lagi di kafe," jawab, Safa di sebrang sana.
"Elo, bener. Pasti orang tua gue gak tau kalau Kak Bulan, kerja di kaffe. Cuman, Kira-kira apa alasan Kak Bulan, kerja di kafe? selama ini'kan pasti Papa, rutin transfer uang ke Kak Bulan," aku, berusaha mengira-ngira hal apa yang membuat Kak Bulan, sampai harus kerja di kafe.
"Kalau itu, gue gak tau Zur," jawab, Safa.
"Gue, tutup ya telponnya? makasih karena elo, udah mau nemenin gue ngobrol," ucapku. Tak enak juga, karena aku mengganggu waktu istirahat, Safa.
"Santai aja kali Zur, kita'kan udah lama temenan, elo udah gue, anggap sodara sendiri kali," ucap, Safa kemudian terkekeh pelan.
\*\*\*
Safa, memandangi layar handphonenya yang sudah mati, ia merasa bersalah pada Ibunya, karena tidak menuruti nasehat Ibunya, untuk tidak ikut campur pada masalah, Zura. Safa, kasihan melihat Zura, yang terus-terusan dikelilingi pertanyaan alasan perginya Kak Bulan.
Sebenarnya, alasan Safa, menyarankan Zura, agar tidak memberi tau pertemuan mereka dengan Bulan, pada orang tua Zura, karena jika orang tua Zura, tau pasti mereka akan menutup celah Zura, untuk menemui, Bulan. Meskipun tak yakin akan terjadi, tapi Safa, harus waspada pada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
***Hallo sahabat jauh!
Maaf ya, cerita ini baru sempat up lagi, karena Jumi, lagi sok sibuk nih...
Buat yang masih setia nungguin cerita ini, Jumi ucapin makasih ya.
__ADS_1
Salam rindu dan sayang dari Jumi***.