
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan, mungkin karna besok sudah weekand jadi para pengajar semangat memberikan banyak tugas. Bukan hanya untuk dikerjakan di sekolah, tapi juga ada banyak tugas yang dijadikan oleh-oleh ke rumah.
"Zura, nanti gue, minta salinan materi bahasa inggris ya!" aku dan Safa, bersisihan jalan ke parkira.
"Boleh, tapi bayar seratus ribu," candaku.
"Ish, pelit banget sih elo," Safa, mengerucutkan bibirnya. Gemas.
Aku tertawa sebentar. "Iya, nanti gue fotoin deh," ucapku.
Bibir yang tadinya cemberut berganti dengan senyum lebar khas iklan pasta gigi. "Thank you, my besti," ucap, Safa.
Aku mengangguk kecil, sebelum pamit pulang duluan karna ojolku telah tiba.
Safa, itu sangat menggemari matematika. Nilai-nilai tugasnya tak pernah kurang dari angka sembilan, tapi justru ia sedikit kesulitan dalam bahasa Inggris, baik dalam penyebutan maupun dalam menulis materi, itulah sebabnya Safa, selalu tertinggal materi dalam pelajaran bahasa Inggris, tapi meski begitu sahabatku yang satu itu, tetap semangat untuk mau belajar lagi dan lagi.
Sekitar dua puluh lima menit, waktuku untuk sampai di rumah menggunakan Ojol. Di halaman depan rumah, ada sebuah mobil berwarna merah yang aku tidak tau berjenis apa terparkir rapih.
Pertama kali masuk ke rumah, suasana sepi, ruang tamu juga kosong. Saat hendak menaiki tangga, aku mendengar gelak tawa dari arah dapur. Dari suaranya sepertinya ada dua orang tertawa, dan suara dua-duanya terdengar familiar untukku, tapi aku hanya bisa memastikan satu pemilik suara saja, dan aku yakin itu suara, Mama.
Tante Rosa. Nama itu langsung muncul ketika aku mengingat-ngingat sura familiar tersebut. Tante Rosa, adalah sabahat baik Mama, dia dulu tinggal di kompleks yang tak jauh dari sini, tapi karna suaminya mendapatkan tugas kerja di Surabaya, dia dan anak-anaknya juga iku pindah ke sana, sehingga dia jarang berkunjung ke sini, padahal sebelum pindah hampir setiap hari tante Rosa, berkunjung.
Aku bergegas menuju dapur. Biasanya, jika tante Rosa, berkunjung dia tidak pernah dengan tangan kosong, alias selalu memberikan aku dan Gio, hadiah. Kak Bulan, memang jarang dapat hadiah, bahkan bisa dihitung dengan jari Kak Bulan, mendapatkan hadiah dari tante Rosa, kata Mama, itu permintaan Kak Bulan, karna ia merasa sungkan dengan tante, Rosa.
Aku berhenti sekitar lima langkah di depan pintu dapur, niatnya ingin mengendap-ngendap dan mengejutkan dua perempuan yang aku sayangi di dalam, tapi justru aku yang duluan terkejut mendendar obrolan Mama, dan tante Rosa.
"Sejujurnya, aku juga kasian sama anak itu, bagaimanapun dia hanyalah korban," ucap seseorang yang aku yakini pasti suara tante, Rosa.
"Aku juga, tapi aku rasa ini lebih baik," jawab suara kedua yaitu, Mama.
"Yah, aku lega mendengar dia sudah tidak ada di sini," ucap, Tante Rosa.
Apa maksudnya percakapan tanate Rosa dan Mama? siapa yang mereka bicarakan? apa Kak Bulan? bantinku sibuk menerka-nerka.
__ADS_1
"Lalu suamimu bagaimana? bagaimana dia bisa mengijinkan anak itu pergi?" Tante Rosa, kembali bertanya.
"Aku pikir suamiku pasti sangat keberatan, tapi itu permintaan anak itu, jadi dengan terpaksa ya, diizinkan," jawab, Mama.
"Entah kenapa, aku ragu jika itu murni keinginan anak itu," Tante, Rosa terdengar meremehkan.
Aku semakin menajamkan pendengaranku, bersiap mendengar jawaban, Mama.
Mama, terdengar tertawa kecil sesaat. "Tentu. Ada campur tanganku di sana," jawab, Mama.
Jawaban Mama, benar-benar membuat aku terkejut. Apa mungkin kepergianya Kak Bulan, atas permintaan Mama, tapi kenapa Mama, setega itu untuk menyuruh anaknya sendiri pergi?
"Dia seperti bom waktu untuk Gemitang, dan keluargaku. Ibu mertua juga pasti akan berpihak padanya," Mama, kembali bersuara.
"Aku mengerti. Aku senang kamu sekarang akhinya menemukan kebahadianmu," kata, tante Rosa.
"Terimakasih. Jujur aku selalu waspada terhadap anak itu, dia selalu membuatku takut. Kamu tau sendiri'kan kalau Gemitang ...."
Sontak Mama, menghentikan ucapanya.
Aku menjawab telpon dari Safa, kemudia masuk ke dapur, berpura-pura seakan baru sampai. "Lho, ada tante Rosa, di sini?" ucapku.
Tante Rosa, sama pucatnya dengan wajah Mama, tapi aku harus tetap terlihat tenang. "Lanjut nanti ya, Fa, gue baru sampe rumah nih, belum sempet buka buku," ucapku, mematikan sambungan telphone.
"Kamu sejak kapan ada di luar, tadi denger pembicaraan kita gak?" bukan Mama, yang bertanya melainkan, tante Rosa.
"Baru aja Tan, ini aku mau ngambil minum dulu sebelum ganti baju. Aku engga denger, apa-apa sih, emang Tante, lagi ngomongin apaan? ngomongin aku ya? ngaku hayo!" Dustaku. Aku tersenyum menggoda pada Tante Rosa, seakan aku memang tidak tau.
Terpaksa aku berbohong pada tante Rosa, aku yakin pasti ada sesuatu yang ditutup rapat dariku, dan hanya Kak Bulan, adalah kunci semua pintu rahasia itu.
"KePD-an deh kamu, orang kita lagi bahas arisan ko, iya'kan May?" Mama, tersenyum kemudia mengangguk. Tante Rosa, juga telah merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria, dan ramah seperi biasanya.
"Ko, kayanya sekarang kamu makin tinggi sih, Gem? Makin cubby lagi!" Tante Rosa, mencubit pipiku pelan.
__ADS_1
"Makin cantik juga dong, Tan," jawabku, sambil mengusap-usap pipiku.
Meskipun terkesan pelan, tapi tetap saja cubitan Tante Rosa, mengangung tenaga dalam.
"Iya, percaya deh, kamu cantik kaya Mama, kamu," Tante Rosa, terlihat malas-malasan mengucapkan itu.
"Ngomong-ngomong, Tante bawa hadiah nih, buat kamu sama, Gio." Tante Rosa, memberikan dua buah paper bag, berwarna biru dan pink.
Benar dugaanku sebelumnya, pasti tante Rosa, membawakan hadiah untuku dan, Gio. "Makasih, ya Tante cantik," ucapku.
"Kalau di kasih hadiah aja, baru bilang cantik." Tante Rosa, pura-pura merajuk.
Aku dan Mama, kompak tertawa. "Yaudah, tante yang cantik, aku mau ke kamar dulu ya, mau ganti baju," ucapku diangguki, tante Rosa.
Setelah pergi sayup-sayup aku masih mendengar percakapan keduanya di dapur.
"Syukurlah, Gemi gak denger pembicaraan kita," kata, Tante Rosa.
"Lain kali, kita harus lebih hati-hati kalau mau bahas masalah itu, aku gak mau Gemi, sampai tau semuanya," kata, Mama.
Hanya itu yang bisa aku dengar, setelahnya aku tidak bisa mendengar apapun seiring jarak antara kami yang kian jauh.
Kecurigaanku semakin menjadi, aku yakin memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh semua orang dariku, kepergianya Kak Bulan, juga menjadi salah satu dari usaha mereka untuk menutup pintu bagiku. Kak Bulan, adalah kuncinya. Secepatnya, aku harus menemui Kak Bulan.
Kak Bulan, Kakak dimana? Gemi, butuh Kakak sekarang! Batinku.
...***Ketemu lagi nih, sama cerita dari Jumi, terimakasih ya, karna masih setia menunggu cerita ini....
Jumi, gak akan bosen berdoa supaya kalian bahagia selalu.
Salam sayang, dari orang yang pengen kaya dan sukses.
Jumi***
__ADS_1