
Waktu terus bertambah, begitu pula dengan hari yang terus berganti. Namun, kabar darinya tak kunjung menghampiri.
Sudah seminggu lamanya aku menunggu kabar dari Kak Bulan, tapi selama itu juga yang aku dapatkan hanyalah sebuah harapan yang kembali terpatahkan.
Seluruh anggota keluarga dari pihak Ibu dan Ayah ikut berkumpul untuk merayakan ulang tahun Gio, hanya Kak Bulan, yang absen. Tahun ini, Ibu dan Ayah sepakat untuk mengadakan acara makan malam keluarga sebagai wujud syukur karna Gio, telah diberikan umur yang panjang dan kesehatan sampai saat ini, Ayah dan Ibu juga sepakat hanya mengundang keluarga besar sebagai ajang untuk silaturrahmi, mengingat belakangan ini mereka jarang berkumpul bersama.
"Nenek udah lama banget enggak ketemu sama kamu, ternyata sekarang cucu Nenek, udah jadi gadis cantik. Bukan, gadis wangi minyak telon lagi." Nenek Rosma, tertawa sembari mengusap halus pipiku. "Pokoknya, tahun ini kamu sama Gio, lebaran di rumah Nenek ya!" lanjutnya.
"Hadiah buat Gio, mana Nek?" tanya Gio, antusias.
Aku heran pada Gio, padahal usianya sudah dua belas tahun, tapi soal hadiah sikapnya seperti bocah berumur tujuh tahun. selalu exited.
"Ada dong. Buat cucu Nenek yang paling ganteng, Nenek kasih kado istimewa." Nenek, memberikan paper bag berwarna merah pada Gio. "Nah, kalau yang ini, buat cucu Nenek yang paling cantik." Nenek memberikan paper bag berwarna pink padaku.
"Hayo, bilang apa sama Nenek?" tanya, Ranti—Ibunya Gemitang.
"Terimakasih, Nenek." Ucap Gio, sambil berlari menghampiri Om Romi—Adik Ibu.
__ADS_1
"Gemi'kan engga ulang tahun Nek, ko dikasih kado juga?" tanyaku.
"Engga apa-apa, kamu'kan satu-satunya cucu Nenek yang paling cantik," jawab, Nenek.
"Nenek ko, ngomong gitu'kan ada Kak Bulan, juga. Kak Bulan, juga cucu Nenek, yang cantik." Aku sedik tidak terima dengan ucapan Nenek, bukan berarti karna Kak Bulan, absen Kak Bulan, jadi dilupakan oleh Nenek.
Ibuku-Ranti, adalah anak ke dua dari tiga bersaudara Kakak pertamanya Tante Erni, dia sudah menikah dan memiliki anak laki-laki kembar, sementara adiknya Om Romi, belum menikah. Itulah sebabnya aku dan Kak Bulan, menjadi cucu tersayang Nenek, karna kami perempuan.
"Gemi, mau simpen kadonya ke kamar dulu ya Bu, Nek," Ibu dan Nenek mengiyakan ucapanku.
Sebelum benar-benar menuju ke kamar aku lebih dulu ke dapur untuk mengambil minum. Sebelum benar-benar tiba di dapur, samar-samar aku mendengar pembicaraan dari dalam dapur, didengar dari suaranya, sepertinya itu suara Ayah dan Oma Tari—Ibunya Ayah.
"Bulan kemana? dia engga dateng lagi?" tanya, Oma Tari.
"Engga Bu,"
"Kamu enggak paksa dia? ini acara keluarga loh, masa Bulan, terus-terusan absen." Oma Tari, mulai menaikan volume suaranya.
__ADS_1
"Saya sudah telpon dan minta Bulan, untuk dateng Buk, tapi Bulan, tetap engga mau. Saya engga bisa paksa Bulan, Buk. Sudah cukup karena paksaan saya, Bulan jadi tertekan selama ini. Sekarang, biarin Bulan, nyari kebahagiaannya sendiri," jawab Ayah, sendu.
"Ini semua salah Ibu. Karena Ibu, Bulan jadi korban." Suara Oma mulai bergetar.
Dari balik pintu aku semakin menajamkan pendengaranku, bersiap mendengar apapun kelanjutan dari obrolan Ibu dan anak itu. Sayangnya, selama beberapa menit hanya ada keheningan yang ku dengar.
Apa maksudnya Paksaan? tertekan? korban?
Selama menaiki tangga, tiga kata itu terus berputar di kepalaku layaknya sebuah musik.
Sesaat aku terdiam di depan kamar Kak Bulan, menatap pintu ruangan yang isinya hampir kosong. Meninggalkan cerita beserta rahasia sang pemilik.
Aku menunduk, menatap paper bag yang diberikan Nenek, aku seperti tertarik ke masa-masa lampau, setiap ulang tahunku Nenek, selalu memberikan hadiah untuk ku dan Gio, begitupun sebaliknya, tapi baru aku sadari Nenek, tidak pernah memberikan hadiah untuk Kak Bulan.
Dulu aku sempat berpikir kalau Kak Bulan, lebih besar dari ku sehingga Kak Bulan, tidak pernah mendapatkan hadiah dari Nenek, tapi sekarang aku baru sadar kalau kata dewasa tak berlaku untukku dan Gio, nyatanya Nenek, masih selalu memberikan kami hadiah.
Jangan lupa kasih dukungan ya guys!
__ADS_1