Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 14 [Diskusi]


__ADS_3

Setiap tiga bulan sekali sekolah kami selalu rutin memberi sumbangan untuk orang yang kurang mampuh, baik itu berupa uang, makanan, ataupun barang yang sekiranya lebih dibutuhkan.


Dan khus untuk kali ini target kami adalah para singgel parents, atau orang tua tunggal.


Kategori ini kami pilih, karna menurut kami mereka juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Bukanlah mudah untuk menjadi seorang orang tua tunggal, mereka harus bisa menjadi Ibu sekaligus menjadi Ayah, ataupun sebaliknya. Mereka bahkan sering di pandang sebelah mata oleh lingkunganya, di berikan julukan yang aku sendiri kurang suka jika mendengar itu. Janda. Duda. Atau, apalah itu. Bagiku, mereka adalah super hero, seorang malaikat baik yang harus kuat melawan kerasnya dunia.


"Jadi, kita mau ngasih bantuanya dalam bentuk apa?" Arin, bertanya setelah kami memutuska jumlah penerima.


"Gima kalau dalam bentuk sembako aja, kebutuhan pangan sekarang lagi meroket, pasti mereka butuh itu," ucap, Gavin.


"Gimana kalau dalam bentuk uang aja? kalau dalam bentuk uang, mereka bisa menggunakan itu untuk keperluan lain. Pasti mereka juga punya banyak kebutuhan selain makan," usul, Safa.


"Jadinya mau gimana, uang atau barang?" tanyaku.


Kak Abin—sang ketua OSIS—terdiam, memikirkan solusi yang paling tepat.


"Gini aja, kita bagi dua dananya, sebagian kita kasih dalam bentuk uang, sebagian lagi kita kasih dalam bentuk sembako," ucap, Kak Abin.


"Tapi, kalau cuma setengah yang dibelanjain gak akan cukup buat beli sembako," ucap, Arin.


"Kita gak perlu beli semua sembakonya, beli yang paling pokok aja, kaya beras, minyak, atau telor," ucap, Kak Abin.


Kami serempak menyetujui ucapan, Kak Abin. Kak Abin, ini memang selalu menjadi pemecah masalah terbaik, pantas saja Kak Abin, menjadi salah satu siswa yang di idola'kan kaum hawa.


"Ini, ada singgel parents yang usianya sembilan belas tahun, ini di daerah rumah elo, Safa?" Kak Abin, keheranan melihat daftar calon penerima sumbangan.


"Iya, dia tetangga gue. Rumahnya, masih satu blok sama rumah gue," jawab, Safa.


"Umurnya masih muda banget lho, tapi dia udah jadi singgel parents, ko bisa?" Dimas, yang tadi diam ikut bersuara.


"Dia pasti nikah usia dini tuh," ucap, Arin.


"Sebenarnya, dia gak nikah, tapi dia hamil di luar nikah," Ucap, Safa pelan.


"Gila ya, bocil zaman sekarang kelakuanya udah akhlakless banget," ucap, Gavin.

__ADS_1


"Heh, ngaca dong! elo, juga masih bocil," ucap, Safa mulai sewot.


Baru saja Gavin, hendak bersuara, tapi suara Kak Abin, lebih dulu mengintrupsi keduanya. "Udah-udah, sesama bocil diem!"


Kami yang berada di ruangan itu sontak tertawa mendengar ucapan, Kak Abin.


"Kuotanya masih ada yang kosong gak, Kak?" tanyaku.


"Masih ada buat dua orang lagi, kamu mau daftarin siapa?" tanya, Kak Abin.


"Aku pengen daftarin Bu Rania, dia juga singgel parents'kan?" ucapku. "Emang sih, dia gak memenuhi syarat karna gak tinggal di deket sekolah, ataupun tinggal deket murid yang sekolah di sini, tapi dia baik baget, waktu kemarin mesen kue buat acara pentas seni dia udah ngasih diskon banyak buat kita," jelasku.


Kak Abin, mengangguk. "Oke, kita masukin nama Bu Rania," ucap, Kak Abin. "Jujur aja, gue kasian banget sama dia, anaknya kuliah dan dia harus banting tulang buat biayain anaknya, salut gue sama semangatnya," lanjut, Kak Abin.


"Emang mantan suaminya kemana? ko, gak ikut biayain anaknya, atau dia cerai mati?" tanya, Safa.


"Gue gak tau, meskipun udah tinggal lama di kontrakan itu, tapi belum ada yang tau soal itu," ucap, Kak Abin.


***


"Ekh, kenapa, Saf?" tanyaku.


"Elo lagi punya masalah ya?" aku terdiam, tidak mengerti ucapan, Safa.


"Gue perhatiin dari kemarin elo, sering banget ngelamun. Ada yang lagi gangu pikiran elo, ya? kalau elo mau, elo bisa cerita sama gue," ucap, Safa.


Aku terdiam. Ingin sekali aku menceritakan tentang Kak Bulan, yang membeli testpack kemarin lusa. Persoalan itu terus saja berputar di kepalaku, banyak pertanyaan yang terus bermunculan di kepalaku sejak kemarin.


"Gue cuma lagi mikirin soal UAS Minggu depan aja," bohongku. Rasanya masih segan untuk bicara pada, Safa.


"Jangan terlalu dipikirin, nanti yang ada elo malah jadi setres dan gak belajar dengan maksimal, dibawa santai aja." Aku tersenyum, kemudia memeluk Safa, singkat. Tersentuh akan ucapanya.


"Tapi, kalau elo, emang lagi punya masalah jangan sungkan untuk cerita sama gue," Safa, melanjutkan ucapanya.


Sepertinya usahaku untuk membohongi Safa, sia-sia. Nyatanya, tanpa aku bicarapun Safa, sudah tau jika aku memiliki masalah.

__ADS_1


"Tuh'kan, ngelamun lagi, elo beneran punya masalah'kan?" Safa, menatap mataku.


Aku tertawa lebar. "Enggak, udah gue bilang kalau gue cuma lagi mikirin, UAS. Kayanya elo, pengen banget gue punya masalah?"


"Ya, enggalah ... mana mungkin ada sahabat yang mau liat sahabatnya kesusahan," ucapan Safa, membuatku tersentuh.


"Ngomong-ngomong, elo udah dapet petunjuk baru belum soal, Kak Bulan?" tanya, Safa.


Aku kembali terdiam, bingung harus menjawab bagaimana. Untunglah bel pertanda habisnya waktu istirahat segera berbunyi mengalihkan perhatian Safa, dari topik obrolan tentang, Kak Bulan.


***


"Ini punya kamu!" Gadis yang hari ini rambutnya dikepang menyerahkan kantong kresek kecil pada orang di sampingnya.


"Makasih ya, untung aja ada kamu," si gadis berkacamata tersenyum.


"Lagian kamu aneh. Kamu udah dewasa, bukan di bawah umur lagi, tapi malu beli itu," si gadis kepang menggerutu.


Si gadis berkacamata tertawa kecil. "Sorry, tapi makasih sekali lagi," ucapnya.


Si gadis kepang mengangguk dan tersenyum. "Semoga hasilnya bagus,"


"Iya, semoga." Si gadis berkacamata menggenggam kantong kresek di tangannya dengan perasaan tak tentu. Ada cemas, senang, dan haru disaat yang bersamaan, membuat degup jantungnya berdetak semakin cepat.


...***Hallo pembaca yang baik hati!...


Terimakasih karna masih setia menunggu cerita ini.


Jumi, mau cerita sedikit nih, jadi udah dua hari ini kucing Jumi, ilang. Jujur, Jumi sedih, soalnya kucing itu udah Jumi, rawat dari pas masih bayi, tapi sekarang malah ilang.


Jumi, mau minta doanya ya, semoga kucing Jumi, cepet ketemu, jangan sampai kucingnya Jumi, kaya Bulan, yang gak mau pulang-pulang.


Sekali lagi, terimakasih atas dukungan dan jejak yang udah kalian kasih buat cerita ini.


Tertanda, orang yang pengen ke korea, tapi takut naik pesawat, dan belum punya uang.

__ADS_1


Jumi***.


__ADS_2