Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 3 [Tidak sengaja]


__ADS_3

Sejak kemarin, percakapan Papa, dan Oma di dapur masih terus berputar di kepalaku selayaknya kaset rusak yang sulit dihentikan.


paksaan?


korban?


apa maksudnya Papa, bilang kalau Kak Bulan, hanya korban? apa itu ada hubungannya dengan menghilangnya Kak Bulan selama ini*?


Jujur saja, dari lubuk hatiku aku ingin bertanya pada Papa, tapi aku rasa itu percuma karna Papa, pasti tidak akan menjawab dengan jujur.


"elo, ganti hobi ya? dari baca, jadi ngelamun." Safa, menempatkan dirinya di sampingku.


Aku tersenyum kecil. "Ngelamun, enggak bisa jadi hobi kali,"


"Kalau gitu, kenapa elo sering ngelamun akhir-akhir ini? gue, itu sahabat elo, kalau elo punya masalah elo bisa sharing sama gue," ucap, Safa.


"Gue, ngerasa ada yang aneh sama kepergiannya Kak Bulan dari rumah," aku mulai sesi curhatku.


"Aneh gimana maksudnya? bukannya udah jelas ya, Kak Bulan itu ngekos biar lebih dekat sama sekolahnya," Safa, mengerutkan kening.


"Gue ngerasa keluarga gue itu nyembunyiin sesuatu dari gue, coba lo pikir deh, kalau Kak bulan, cuman mau ngekos karena biar lebih dekat sama sekolah, kenapa Kak Bulan, gak pernah pulang. Terus, waktu gue nanya sama Mamah, dimana kosanya Kak Bulan, Mamah enggak jawab apa-apa. Aneh'kan?" cerocosku, menumpahkan semua unek-unek di hatiku.


"Gue, gak tau sih, harus ngomong apa, intinya gue cuma bisa bilang, elo harus tetap fositif thingkink, jangan sampe karena masalah ini, prestasi elo, disekolah turun." Safa, memeluku sebenar.


Aku memang termasuk salah satu murid berprestasi di sekolah, sejak kecil Mamah, memang mengharuskan aku untuk selalu juara kelas, bahkan Mamah, sampai rela bayar mahal untuk guru les privatku, supaya aku mendapatkan nilai tinggi.


Jika boleh jujur, aku sebenarnya sedikit tertekan dengan apa yang Mamah, lakukan. Waktu bermain ku pun, jadi banyak tersita untuk belajar. Namun, itu semua bukan masalah besar, aku lebih senang melihat Mamah, tersenyum bahagia karena aku meraih juara kelas. Lelahku, terlupakan begitu saja.


"Elo bener Fa, seharusnya hal kayak gini gak perlu gue fikirin terlalu jauh, apalagi sampai nyita perhatian gue buat belajar. Pasti, orang tua gue punya alasan yang bagus, tentang ini." ucapku.


"Lha, dicariin keliling sekolah, ternyata ada di sini!" Edo, dan Putra, menghampiri kami di taman, ikut duduk lesehan di atas rumput.


"ngapain elo cariin kita?" tanya, Safa.


"Dih, pura-pura amesia lagi. Kita'kan harus kerja kelompok buat tugas Matematika," ucap, Putra.

__ADS_1


"oiya, terus mau kapan nih, ngerjainnya? Sabtu udah harus dikumpulin'kan?" tanyaku.


"Siang ini gimana? setelah pulang sekolah," usul, Safa.


"Gue sih, mau aja, tapi mau di rumah siapa nih?" Edo,melihatku dan Safa, bergantian.


"Jangan di rumah deh, kita cari suasana baru. Gue, tau kaffe yang baru buka, kata yang udah pernah dateng tempatnya enek buat nongkrong dan foto-foto." Hadiah, berupa jitakan dari Edo, langsung diterima, Safa.


"Kita mau kerja kelompok. Bukan, mau nongkrong-nongkrong," ucap, Edo.


"Biarin sih, sekalian. Sekali dayung dua pulau terlampaui." Senyuman ala iklan pasta gigi, Safa keluarkan agar Edo, dan Putra, setuju.


"Oke. Berati pulang sekolah kita langsung cabut ya, jangan lupa kasih tau Windy, dia anggota kita juga'kan?" tanya, Putra.


Aku mengangguk. "siap!"


***


"Keren ya, dekorasinya gaul banget. Jadi betah gue lama-lama di sini." Windy, masih asik melihat-lihat suasana kaffe.


"Enggak salah'kan pilihan gue?" tanya, Safa pada kami.


"Udah yuk, nyari kursi! peggel nih, gue berdiri kelamaan," ajak, Edo.


Kami berlima sepakat memilih meja di ujung yang dekat dengan jendela, selain untuk menghindari banyaknya suara bising sekaligus untuk melihat pemandangan luar yang langsung mengarah ke sebuah taman minimalis, sepertinya itu dirancang khus agar pengunjung kaffe, bisa relaksasi mata.


"Mau pada pesen apa nih?" Putra, membulak-balik buku menu yang sudah tersedia di atas meja.


"Ada ice cream gak, Put?" tanyaku. Disaat panas seperti ini, ice adalah solusi yang baik menurutku.


"Enggak ada, tapi kalau ice buah ada." Putra, masih serius membaca rentetan nama makanan, mencari yang sesuai dengan kantongnya.


"Gue, pesen ice buah deh," ucapku.


"Gue juga," kata, Windy.

__ADS_1


"Gue juga sama, tapi sama mie goreng. Laper soalnya." Safa, menepuk-nepuk perutnya.


"Gue nasi goreng sama air putih deh," ucap, Edo.


"Oke, gue juga deh," Final, Putra. kemudia memanggil seorang pelayan ke meja kami.


***


"Inget ya jangan ada yang makan sebelum tugas selsai!" peringat Edo, yang langsung ditolak, Safa.


"Ko, gitu sih, gue udah laper nih." Tangan yang tadinya akan meyendok nasi goreng, kembali ditarik, Safa.


"Biar pas nanti ngerjain tuga gak ngantuk karena kekenyangan," ucap, Edo.


"Itu mah, elo kali. Gue, gak akan kaya gitu," Safa, masih mencoba berunding.


Di tengah-tengah perdebatan Edo, dan Safa, aku mengedarkan pandangan ku ke seluruh penjuru kaffe, yang benar-benar menarik, bahkan ada beberapa pengunjung yang sedang berselfi ria.


Namun, pandanganku terpaku pada sosok yang sedang membawa nampan berisi piring kotor. Meskipun hanya terlihat dari samping, tapi aku yakin itu adalah Kak Bulan, buru-buru aku bangkit untuk mengejar sosok tersebut, tanpa memperdulikan panggilan dari teman-temanku.


"Maaf, Dek, cuma staf yang boleh masuk ke dapur." Seorang laki-laki berpenampilan rapi menghentikan langkahku, mungkin itu manager kaffe ini.


"Saya cuma mau nemuin Kakak saya Pak, sebentar aja ko," mohonku.


Laki-laki itu terdiam sebentar. "Kamu tunggu di sini saja, biar saya panggilkan Kakak kamu. Siapa namanya?"


"Bulan, namanya Rembulan." Aku sudah tidak sabar untuk menemui, Kak Bulan.


Aku menunggu dengan harap-harap cemas seperti menunggu angkot yang sulit datang.


"Maaf, Dek. Mungkin kamu salah liat orang. Di dalam tidak ada yang namanya Bulan," ucap, orang itu.


Harapan ku luruh seketika. Benar yang dikatakan manager itu, pasti aku salah lihat. Lagipula aku melihat sosok yang mirip dengan Kak Bulan, itu dari samping, jadi pasti hanya mirip.


Setelah berterimakasih dan minta maaf aku kembali ke meja ku, dan menceritakan kejadian barusan pada teman-temanku. Mereka bilang aku hanya rindu jadi berhalusinasi.

__ADS_1


**Jangan lupa tinggalkan jejak dan beri dukungan untuk cerita ini ya.


Terimakasih**.


__ADS_2