Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 19 [Sekali lagi hilang]


__ADS_3

Seakan bisa menebak kondisi hatiku, bahkan hari ini langit juga ikut cerah. Meskipun hari sudah menjelang siang, dan sang surya sudah bersinar terang, tapi bukan panas yang terasa melainkan rasa hangat yang menyirami, dan ikut membuka banyak harapan-harapan baru bagi setiap orang.


Hangatnya sinar sang surya memberikan makna rasa hangat tersendiri untuk, Zura. Dari pagi dia sudah semangat untuk menemui, Bulan lagi. Rencananya kali ini sengaja, Safa tak diberi tau, Zura ingin benar-benar mengobrol dengan Bulan, dari hati ke hati sebagai seorang adik, dan kakak. Kemarin, pertemuannya yang singkat tak bisa memecahkan celengan rindunya yang sudah terisi penuh. Jadi, hari ini Zura, akan menemui Bulan, kembali.


"Elo, salah minum obat ya? gue, perhatiin dari pas dateng ke sekolah sampe sekarang elo, senyum-senyum terus. Terus, tadi juga gue, perhatiin selama belajar elo, happy banget. Padahal, biasanya elo'kan gak suka pelajaran sejarah karena bikin ngantuk," Safa, langsung menginterogasiku ketika sampai di kantin.


"Sembarangan deh, gue banyak senyum karna mood gue, lagi bagus aja hari ini. Terus, tadi juga pelajaran sejarahnya cuman sebentar'kan, jadi gue happy," jawabku, sambil melihat daftar menu di depan grobak ibu kantin.


Safa, memincingkan matanya. "Ko, gue ngerasa ada yang elo sembunyiin sih, dari gue,"


Aku terdiam. Safa, ini instingnya memang tajam. "Jangan ngaco deh, udah sana pesen, antriannya udah panjang tuh!" ucapku, menghindari pertanyaan, Safa.


***


"Zura!"


Aku menghentikan makanku, ketika melihat Kak Abin, menghampiri mejaku dan, Safa. menerka-nerka sekiranya apa yang membuat Kak Abin, memanggilku.


"Sorry ya, gue ganggu waktu makan kalian, ada yang mau gue bicarain sama elo," ucap, Kak Abin.


"Gapapa ko, Kak." Jawabku.


"Ngomong-ngomong gue, boleh duduk dulu gak?" tanya, Kak Abin.


"Ekh, iya ... boleh-boleh Kak," ucapku, canggung.


Saat disituasi seperti ini aku berharap mulut bawel Safa, bisa berfuberfungsi dengan baik agar aku tidak terlalu merasa canggung, tapi justru Safa, malah berubah menjadi gadis pendiam yang lemah lembut. Sungguh, berbeda dengan Safa, yangku kenal.


Mungkin benar kata orang, jika Kak Abin, mempunyai aura tersendiri sehingga bisa menyihir orang di sekitarnya. Pantas saja, banyak murid perempuan yang menjadi pengemarnya, bahkan tak sedikit ada yang langsung mengungkapkan ketertarikan pada Kak Abin.


"Jadi gini, gue mau bahas soal laporan hasil kegiatan bakti sosial kemaren .... "


"Astagfirullah!" ucapku, spontan.


"Kenapa Zur?" panik, Safa.


Aku mengabaikan pertanyaan dari, Safa. "Sorry Kak, laporannya ketinggalan di rumah gue," ucapku, merasa bersalah.


Membuat laporan hasil kegiatan bakti sosial sebenarnya bukanlah tugasku, tapi bagian sekertaris yang di isi oleh Kak Maya, dari kelas dua belas sekarang sedang sibuk persiapan untuk ujian nasional. Kak Maya, meminta tolong padaku untuk menggantikan tugasnya, hanya menyusunkan laporan, Karena Kak Maya, sudah lebih dulu membuat kisi-kisinya, dia juga sudah meminta izin pada Kak Abin, untuk mengalihkan tugasnya padaku, Kak Abin yang juga kelas dua belas juga bisa memahami kondisi Kak Maya, sehingga akulah yang di tunjuk menjadi sekertaris sementara.

__ADS_1


"Gak masalah, gue juga mau bilang kalau laporannya harus dirubah sedikit, Maya pasti belum bilang ke elo'kan, bagian yang harus dirubah?" perkataan Kak Abin, membuatku sedikit lega.


aku menggeleng. "Belum, Kak."


"Gue, boleh minta nomor wats'app, elo?"


"HAH?" bukan hanya aku yang terkejut, tapi Safa, juga ikut terkejut.


"... gimana maksudnya, Kak?" Aku memastikan pendengaranku tidak salah.


"Gue, minta nomor wats'app elo. Biar, catatan bagian yang harus dirubah gue, kirimnya ke wats'app aja biar cepet," jawab Kak Abin.


aku mengangguk, kemudian menyerahkan handphoneku yang sudah tertera nomorku.


"Oke, thanks ya. Gue, cabut dulu!" Kak Abin, pergi setelah berpamitan.


"Gue, kalau ngobrol sama Kak Abin, kaya tadi deg-deg-an, takut salah ngomong," adiku pada, Safa.


Safa, mengangguk mengamini ucapanku.


Bukan hanya aku saja yang seperti itu, aku juga pernah mendengar beberapa cerita dari teman-temanku yang menjadi salah satu anggota OSIS, jika mereka kerap merasakan hal yang sama denganku, ketika berinteraksi dengan Kak Abin, padahal Kak Abin, hanya berinteraksi dengan normal, tapi tetap saja aura kepemimpinan Kak Abin, selalu terasa mengintimidasi lawan bicaranya.


***


"Gue, udah pesen Ojol. Sebentar lagi nyampe. Kalau dibatalin kasian Ojolnya," jawabku.


"Oke, gue balik duluan ya," pasrah Safa, yang gagal membujukku. "Beneran elo, gak mau pulang bareng gue nih?" Sekali lagi Safa, bertanya setelah motornya jalan satu meter.


Aku mengangguk, tetap pada pendirianku untuk menunggu Ojol, meskipun langit sudah mulai murung.


beruntung setelah beberapa saat Safa, pergi Ojol yang kupesan segera tiba, sehingga aku tidak perlu merasa bosan karena menunggu sendirian.


"Neng Bulan, ya?" tanya, bapak Ojol itu.


aku mengangguk, kemudian menerima helm yang diberikan driver Ojol tersebut. Setelah memastikan alamat tujuanku, driver Ojol itu mulai melajukan motornya.


Aku memang mengatakan pada Safa, akan pulang menggunakan Ojol, tapi aku tidak jujur, jika sebelum pulang aku akan mampir kesuatu tempat. Kaffe, tempat Kak Bulan, bekerja.


Rencanaku harus berhasil, untuk mengajak Kak Bulan, berbicara dan menanyakan alasan kenapa dia tidak mau pulang ke rumah. Apapun kondisinya, meski Mama yang jatuh sakit sekalipun.

__ADS_1


Sampai di kafe, aku tidak melihat Kak Bulan, menerima ataupun mengantarkan pesanan. Padahal, kondisi kafe cukup ramai pengunjung. kebanyakan adalah anak-anak SMA, sepertiku dan beberapa orang berjas yang kuyakini sedang melakukan meeting di kafe ini.


"Permisi, Kak! ini pesanannya." Seorang waiters yang ku perkirakan seusia Kak Bulan, mengantarkan seporsi nasi goreng, dan jus mangga pesananku tadi.


Aku memang sengaja memesan makanan, selain karena memang lapar, juga untuk bertemu Kak Bulan, karena setelah tadi beberapa menit melihat sekeliling kafe, aku belum juga berhasil menemukan sosok, Kak Bulan. Jadi, aku sengaja memesan makanan untuk menunggu Kak Bulan, yang akan datang mencatat, ataupun mengantarkan pesanan. Sayangnya, bahkan setelah pesananku datang, sosok Kak Bulan, belum terlihat juga.


"Em, maaf Kak, aku boleh tanya?" ucapku, sebelum waiters itu pergi.


"Tanya apa Kak? apa pesanannya salah?" Raut khawatir langsung terlihat di wajah waiters itu.


"Engga ko, ini emang bener pesanan, aku. Aku, cuman mau nanya Kak Bulan nya ada di dapur gak? atau Kak Bulan, hari ini masuk sift ke berapa?" tanyaku lagi.


Safa, pernah memberi tauku, kaffe ini memberlakukan dua sift kerja, pertama dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore, kemudian dari jam tiga sore sampai jam sembilan malam.


ini sudah pukul dua siang, jika Kak Bulan, tidak ada berati aku masih harus menunggu satu jam untuk bisa bertemu dengan Kak Bulan, lagi. Aku tak keberatan menunggu, asalkan berhasil menemui Kak Bulan, kembali.


"Bulan? setau saya di sini gak ada karyawan yang namanya Bulan," ucap, waiters yang baru kuketahui dari name tag nya bersama, Risa.


Tunggu! apa maksudnya tidak ada? jelas-jelas aku kemarin bertemu Kak Bulan, di kaffe ini akan mencatat pesanan teman-temanku, bahkan kami sempat mengobrol sebentar kemarin. Mustahil, jika kemarin hanya halusinasiku saja.


"Kakak aku, beneran kerja di sini ko, kemarin kita ketemu di sini," ucapku. "Nama lengkapnya Rembulan Vania Yudistira," lanjutku.


"Oh, mungkin maksud kamu, Vania." Rupanya di sini Kak Bulan, dipanggil menggunakan nama tengahnya. Pantas saja, saat beberapa waktu lalu aku mengejar orang yang mirip Kak Bulan, di sini. Ada seorang laki-laki yang aku kira adalah manager kaffe menghentikan langkahku untuk masuk ke dapur, dan saat aku mengatakan tujuanku untuk mencari Kak Bulan, laki-laki itu mengatakan tidak ada karyawan yang bernama Bulan.


Ternyata memang tidak ada yang bernama Bulan, melainkan Vania.


"Kak Bul-maksudnya Kak Vania nya ada gak di belakang?" tanyaku, memastikan.


"Vania? Vania, udah gak kerja lagi di sini." Aku terdiam, berusaha mencerna kalimat Kak Risa, barusan.


"Tapi, kemarin aku masih ketemu sama Kak Vania, ko di sini," ucapku.


"Iya, Vania baru keluar tadi pagi. Katanya, tugas kuliahnya semakin banyak jadi dia gak bisa kerja lagi di sini, itu yang manager kami sampaikan," jelas, Kak Risa.


Aku berusaha tersenyum setenang mungkin. "Makasih infonya Kak," ucapku.


Kak Risa, mengangguk. kemudian pamit.


Hilang sudah selera lapar ku, melebur bersama harapan-harapan untuk mengajak Kak Bulan, pulang. Sekarang, hanya tersisa sebuah keputusasaan. ketika Kak Bulan, hilang lagi.

__ADS_1


Hallo sahabat Jumi!


Terimakasih karena masih setia menunggu cerita ini, semoga kalian selalu sehat dan bahagia.


__ADS_2