Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 7 [Gosip]


__ADS_3

Seperti dugaanku tadi malam, satu sekolah pasti akan ramai menggosip'kan aku dan, Kak Abin. Setiap aku melewati mereka, pasti mereka melihatku dengan tatapan heran, kemudian berbisik-bisik setelah aku pergi.


Mereka pasti heran, murid biasa yang bahkan tidak semua orang tau namaku bisa jadian dengan ketua OSIS, populer seperti Kak Abin, tapi itu'kan cuma gosip, kenyataanya aku saja baru sekali mengobrol sedikit banyak dengan Kak Abin, itu pun, untuk mencairan suasa ketika diperjalanan menuju rumah, Bu Rania.


Well, Kak Abin memang sosok yang humble, jadi pantas saja dia banyak mempunyai teman, dan di sukai banyak orang, tak terkecuali kaum hawa.


"Ekh, ada Bu ketos nih," ledekan Arin, langsung menyambutku saat memasuki kelas.


"Apaan sih, Rin," jawabku.


"Pake pura-pura gak tau gitu lagi, sengaja ya, biar kita gak minta teraktir?" kali ini Edo, ikut menggodaku.


"Malu-malu tuh, dia ...." Safa, juga ikut-ikutan menggodaku.


"Apaan sih, Fa jangan ikut-ikutan kemakan gosip gitu, elo 'kan tau itu cuma gosip," ucapku, memelas.


"Cuma gosip gimana maksud lo? jelas-jelas ada anak kelas sebelah yang ngeliat kalian jalan kemarin lusa," ucap, Edo.


Aku menarik nafas sejenak, mengumpulkan tambahan energi. "Kemarin lusa gue emang diboncengin Kak Abin, tapi itu bukan mau jalan-jalan. Itu waktu gue mau beli kue buat acara pentas seni, kebetulan yang jualan kue tetangga Kak Abin, jadi dia nganterin gue ke rumah orang yang jual kuenya." Aku berharap setelah aku menceritakan semuanya, mereka akan berhenti menggodaku. "Kalau gak, percaya tanya aja sama Rini, dia tau ko, kejadianya," lanjutku.


Semua pasang mata tertuju pada Rini, dari tadi sepertinya Rini, sedang mengerjakan tugas Minggu kemarin, padahal itu untuk pekerjaan rumah, tapi tetap saja ada anak-anak yang mengerjakanya di sekolah, seperti Rini, contohnya.


"Rini?" Safa, mencolek bahu Rini, karna dari tadi panggilanya diabaikan.


Rini, menoleh dan terlihat melepas irphone yang dia gunakan. "Ekh, apaan,Saf?"


"Jelasin dong Rin, kejadian kemarin lusa yang waktu kita bingung nyari kue buat acara pentas seni," ucapku.


"Oh, iya kemarin lusa kita emang kebingungan nyari kue buat acara pentas seni, apalagi waktunya mepet banget, untungnya Kak Abin, ngerekomendasiin tetangganya yang jual kue," Rini, berhenti sejenak. "Waktu itu gue juga mau ikut liat-liat kuenya, tapi pas mau berangkat, nyokap gue telpon Kakak, gue lahiran, jadi gue harus cepet pulang ke rumah," lanjut, Rini.


"Sekarang percaya'kan elo, semua?" tanyaku.


"Yah, gak jadi dapet traktiran dong," ucap, Edo memelas.

__ADS_1


"Minta sama Arin, aja tuh, dia'kan jadian sama Putra," gantian aku yang meledek, Arin.


"Ngaco, lo!" seisi kelas tertawa dengan jawaban, Arin.


Kami tau betul kalau Arin, dan Putra bagaikan air, dan minyak. Sulit untuk bersama. Setiap hari pasti ada saja hal yang mereka ributkan, entah itu karna Arin, yang selalu galak saat menagih uang infak kelas, ngomong-ngomong Arin, ini preman kelas alias bendahara, atau saat putra yang dengan sengaja mengigatkan guru jika ada tugas.


***


"Azura!" Aku sontak menghentikan lanhkahku, berbalik untuk melihat si pemilik suara.


"Ada apa, Kak?" tanyaku, ternyata sosok yang memanggilku adalah, Kak Abin.


"Boleh ngobrol sebentar? di taman mau gak?" Safa, di sampingku sudah tersenyum meledek sejak tadi.


"Boleh Kak, tapi sama Safa," ucapku, yang diangguki Kak Abin.


"Sebelumnya, elo pasti udah denger gosip yang nyebar di sekolah tentang kita'kan?" aku mengangguk, sesampainya di taman Kak Abin, langsung bicara.


"Gapapa Kak, gue ngerti ko, lagian juga gue gak terlalu perduli sama gosip itu," ucapku.


"Sebagai permintaan maaf, elo sama Safa, gue traktir deh," ucap, Kak Abin.


"Gak usah Kak, nanti gosipnya tambah panas lagi kalau mereka liat elo makan bareng gue," ucapku.


Tentu saja, aku tidak mau tambah terkenal di sekolah, karna jalur buah bibir.


"Oh, iya. Gue duluan kalau gitu," pamit, Kak Abin.


"Gue sih, yes. Kalau elo sama Kak Abin," ucap Safa, menirukan salah satu juri lomba bernyanyi.


***


"Kemarin dia dateng ke tempat kerja aku, dia ngeliat aku di sana." Sontak gadis berjilbab di sampingnya terkejut mendengar ucapan gadis berkuncir itu.

__ADS_1


"Terus, kamu temuin dia?" tanya gadis berjilbab.


Si gadis berkuncir kuda menggeleng. "Kita gak sempat ketemu. Aku berhasil menghindar," ucapnya.


"Apa engga sebaiknya kamu temuin dia?" usul, perempuan berjilbab.


Si gadis kuncir kuda menggeleng. "Ini permintaan orang itu, lagi pula aku masih belum bisa berdamai dengan keadaan," ujarnya.


"Aku ngerti, pasti berat buat kamu ngelaluin semuanya, tapi kamu jangan lupa ada aku yang selalu di samping kamu, ada tuhan yang lebih tau mana yang terbaik untuk ciptaanya," ujar, si gadis berjilbab.


Si gadis berkuncir kuda otomatis memeluk orang di sampingnya, mencurahkan tangisnya. "Kejadian itu bahkan sudah berlangsung lama, tapi sampai sekarang aku masih belum lupa rasa sakitnya. Aku terlalu dewasa untuk berhayal, berharap semua yang aku lalui hanya mimpi," setelah reda, si gadis berkuncir kuda kembali bersuara.


"Gapapa, itu manusiawi, tapi saranku kamu harus secepatnya berdamai dengan hal itu, diri kamu sudah terlalu lama menyimpan rasa sakit, sudah cukup kamu selama ini selalu berpura-pura lupa, waktu akan terus berjalan, dan semakin lama rasa sakit itu akan semakin mencekik kamu." mendengar ucapan, si gadis berkerudung tentu saja membuat air mata si gadis berkuncir itu kembali mengalir deras.


"Makasih ya, karna selama ini kamu udah jadi sahabat sekaligus Kakak, buat aku," kata si gadis berkuncir.


"It's okay, aku seneng bisa berbagi dan jadi tempat berbagi sama kamu, kita saling menasehati dan mendukung ya?" si gadis berkuncir kuda mengangguk semangat, setelah mendengarkan ucapan sahabatnya.


Ia bersyukur karna di pertemuka dengan orang sebaik itu, selalu ada disegala kondisi dirinya. Bahkan, saat ia berada di titik paling rendah hidupnya.


Rejeki itu banyak bentuknya, bukan hanya berupa uang. Keluarga yang utuh, waktu yang lapang, fisik yang sehat, serta sahabat yang selalu ada menemani juga sebuah rejeki. Hal-hal seperti itu justru sering terlupakan, padahal tak semua mendapatkan hal seperti itu, dan itu harus disyukuri.


Hallo pembaca baik hati!


Terimakasih ya, karna sudah setia menunggu cerita receh dari author.


***Semoga kalian selalu diberikan banyak kebahagian, banyak kecukupan, banyak kasih sayang, dan segala keinginan kalian cepat terkabul.


Sekali lagi terimakasih.


Salam sayang dari author yang hobby ngehalu jadi pacar oppa korea.


Jumi***.

__ADS_1


__ADS_2