
Aku sedang sarapan ketika kurir ekspedisi datang mengantarkan sebuah paket yang entah siapa pengirimnya.
"Dari siapa Ma?" tanyaku, saat Mama membawa paket itu ke meja makan.
"Dari Bulan," jawab Mama, tenang.
"Buat siapa?" tanyaku, yang semakin penasaran.
"Buat Gio," kata Mama.
"Itu kado punya aku ya, Ma?" Gio, yang baru keluar kamar langsung heboh membuka paket itu.
Sebuah mobil remot berwarna merahlah yang menjadi kado, Gio. Ternyata benar kata Safa, aku harus berfikiran fositif tentang Kak Bulan, bukanya menghindari kami Kak Bulan, hanya sibuk sehingga belum ada waktu luang untuk pulang. Buktinya, Kak Bulan masih menunjukan perhatianya pada kami, contohnya lewat kado untuk, Gio. Setiap aku berulang tahun Kak Bulan, juga selalu memberikan aku kado, meskipun tidak mahal, tapi buatku perhatianyalah yang paling penting.
"Ma, Gemi berangkat dulu ya, gak usah dianter kaya kemarin deh, Gemi mau naik ojol aja." Pamitku, mencium punggung tangan Mama, dan Papa.
Karna hari ini aku tidak terlambat, jadi aku bisa lebih santai dari hari kemarin. Waktu yang digunakan untuk menunggu ojol aku gunakan juga untuk mencicil drakor yang baru aku lihat dua episode.
***
"Zura!" panggilan Rini, langsung menyambut kedatanganku di sekolah.
"Kenapa Rin? kangen lo, sama gue?" candaku.
"Ish, malah bercanda lagi. Soal konsumsi untuk acara pensi lusa gimana, elo udah mesen kuenya belum?" tanya, Rini.
Mati aku, aku lupa kalau aku jadi bagian konsumsi untuk acara pentas seni yang akan dilaksanakan lusa. Minggu-Minggu ini, tugas sekolah sedang tidak bersahabat, sehingga waktuku tersita cukup banyak, sampai-sampai aku tidak ingat kalau pensi, akan dilaksanakan lusa, padahal rencana ini sudah di buat dari satu bulan yang lalu.
"Belum nih, Gue lupa kalau pensi diadain besok," jujurku, yang membuat Rini, memasang wajah garang.
__ADS_1
"Gimana sih elo, kita'kan udah sepakat, elo yang urus kue, gue yang urus catring," jawab Rini, mulai sewot. Tentu saja siapa yang tidak resah jika konsumsi belum tersedia sementara acara dilaksanakan sebentar lagi. Rini, sih enak, Ibunya punya usaha catring, jadi dia tidak perlu nyari konsumsi yang harganya terjangkau, tapi rasanya enak. Sudah pasti ibunya memberikan dia diskon.
"Udah, elo tenang aja. Gue, bakalan tanggu jawab sama tugas gue ko, pokoknya lusa kue udah ready." Aku meyakinkan Rini, agar tenang. Walaupun, di hatiku aku merutuki diriku sendiri, dimana harus cari toko kue yang mau nyediain kue dalam porsi banyak dan waktu yang singkat, ditambah lagi, biaya yang murah.
"Sorry, gue denger kalian lagi bahas soal kue ya?" Kak Abin—ketua osis sekolah ini—turun dari motornya, menghampiriku dan Rini. Saking paniknya kami sampai tidak sadar jika sedang mengobrol di parkiran.
"Iya, Kak. Konsumsi kue buat lusa belum ada," jawab, Rini.
"Sorry ya Kak, ini salah gue yang kelupaan, tapi gue bakalan usaha supaya kue buat lusa bisa tersedia, Kakak tenang aja." Aku berusaha meyakinkan Kak Abin, semoga dia gak marah sama kelalaian ku.
"It's okay. Gue, justru pengen nawarin kue bikinan tetangga gue, biasanya nyokap kalau ada arisan pesennya sama dia. Kuenya enak, harganya juga terjangkau, gimana mau gak?" Tak ku sangka justru Kak Abin, memberikanku solusi alih-alih memarahi aku yang ceroboh.
"Mau Kak. Gimana caranya gue bisa pesen sama dia? Kakak, ada nomor WAnya gak?" tanyaku, antusias.
"Dia gak punya Wa. Handphoneya, handphone jadul. Gue, juga gak punya nomornya, yang punya nyokap, tapi kalau elo mau, nanti pulang sekolah bareng gue aja, rumahnya deke rumah gue, gue anterin ke rumahnya, sekalian langsung cobain kuenya, dan diskusiin soal harga," usul, Kak Abin.
"Santai aja. Gue, sekalian mau promosiin kue nya dia, dia kasian soalnya. Janda dan harus ngebiayain kuliah anaknya." Penuturan Kak Abin, membuatku dan Rini, tersenyum. Selain, bisa mendapatkan kue yang rasanya enak, kami juga bisa membantu ekonomi orang lain.
\*\*\*
"Nah, ini rumahnya Zur. Nama pemiliknya Buk Rania," Ujar, Kak Abin sebelum mengetuk pintu.
Aku memperhatikan bangunan di depanku yang sepertinya rumah kontrakan, di samping kanan-kirinya ada rumah yang berdekorasi serupa, tapi beda warna.
"Lho, ada Abin, tumben main ke sini Bin, di suruh Ibu?" tanya, Buk Rania setelah membuka pintu dan menjawab salam.
"Ekh, ayo masuk dulu, kita ngobrolnya di dalem," ujar, Buk Rania ramah. "Maaf ya, keadaan rumahnya begini," lanjutnya.
Aku dan Kak Abin, tersenyum bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Gini Buk, ini temen Abin, namanya Azura, dia mau pesen kue ke ibu untuk lusa, Ibu bisa gak kira-kira?" Kak Abin, memulai percakapan setelah Buk Rania, kembali dari dapur untuk menghidangkan teh manis pada kami.
"InsyaAllah bisa, tunggu sebentar ya, Ibu ambil daftar kue dan harganganya dulu." Buk Rania, pamit untuk kembali ke dalam.
"Ini daftar nama-nama kue, dan harganya. Ini juga ada beberapa contoh kue, nak Azura boleh cobain dulu untuk menilai rasanya, cocok atau engga," Buk Rania, kembali dengan sebuah buku dan lima macam kue beraneka jenis.
Aku mencoba semua jenis kue yang dihidangkan ada; dadar gulung, kue lupis, kue mangkok, kue sus, dan bola-bola keju.
"Di sini, bestsellernya blubery chess cake. Juara pokoknya," Ucapan Kak Abin, membuatku yang masih asik melihat-lihat daftar kue terdiam.
Lagi, aku teringat tentang Kak Bulan, dia sangat menyukai blubery chees cake, Papa sering membelikan kue itu untuk, Kak Bulan. Saking sukanya aku bahkan tidak boleh mencicipi kue itu oleh Kak Bulan.
"Ibu juga suka buat blubery chees cake?" tanyaku, iseng.
"Sebenarnya dulu Ibu, cuma buat untuk anak Ibu, kebetulan dia suka kue itu, dia bilang kue bikinan Ibu enak, kalau dijual pasti laku, makannya ibu iseng-iseng promosiin ke tetangga, Alhamdulillah, ternyata banyak yang suka," jawab, Buk Rania.
"Kakak, aku juga suka kue itu, kapan-kapan aku pesen kuenya ke Ibu deh," ucapku.
Setelah mempertimbangkan dan berunding dengan Kak Abin, akhirnya aku mengambil paket kue nomor dua yang terdiri dari; dadar gulung, bola-bola keju, kue sus, cup cake, dan satu gelas air mineral. Sebanyak 150 kotak.
"Ibu, ko liatin aku? aku makan kuenya kebanyakan ya?" tanyaku, yang merasa dari tadi diperhatikan. Setelah berdiskusi, Bu Rania mengidangkan blubery chees cake yang baru matang,pada ku dan Kak Abin, tentu saja langsung disambut ramah oleh kami,berdua. Benar kata Kak Abin, kuenya memang enak.
"Engga apa-apa, Ibu malah senang kalau kalian suka sama kue bikinan Ibu. Kalau, Ibu boleh tau nama lengkap kamu siapa?" tanya, Bu Rania.
"Azura Gemitang Yudistira." Aku melihat perubahan ekspresi pada wajah Bu Rania, setelah aku menyebutkan nama lengkapku, tapi sayangnya aku tidak tau ekspresi seperti apa itu.
"Namanya cantik. Sama seperti orangnya." Buk Rania, kembali tersenyum hangat, kemudia memberikaku tambahan kue.
Entah hanya perasaaku saja atau memang ada sesuatu, yang pasti aku merasa ada yang aneh dengan cara pandang Bu Rania, setelah mengetahui nama lengkapku.
__ADS_1