
Hari ini sang surya tampak begitu ceria, tapi kumpulan awan juga hadir melindungi agar panasnya tidak terlalu menyengat saat menyentuh kulit.
Burung-burung juga beramai-ramai keluar dari sarangnya, untuk menjemput rezeki dari sang pencipta. Beberapa juga ada yang bernyanyi dengan lagam khas yang memanjakan telinga.
Sayangnya, kecerian itu justru tak dapat dirasakan oleh Safa, sahabatku yang paling ceria ini, terlihat muram sejak pertama kali datang ke sekolah. Bahkan rencana menginap tadi malam'pun ia batalkan tanpa alasan yang jelas.
"Safa? Safa? Safa!" ucapku, sedikit berteriak.
"Hah?heh, ekh, kenapa Zur?" Safa, tergagap.
"Yang kenapa itu elo? dari tadi gue perhatiin elo, diem aja," ucapku.
"Gue, gak apa-apa. Gue, cuman kepikiran sama tugas yang dikasih, Bu Indah aja," Alibi, Safa.
"Serius, elo gapapa?" tanyaku sekali lagi.
Safa, mengangguk yakin disertai senyum lebar, tapi sayangnya aku tidak percaya dengan senyuman palsu Safa, aku yakin di balik senyum itu ada sesuatu yang sedang Safa, sembunyikan.
"Pada ngumpul di sini, ternyata!" Edo, menghampiri kami di taman sekolah. "Jadi, berangkat sekarang kita?" tanyanya.
"Sebentar, kita masih nungguin Yasmin," jawab, Safa.
Edo, mengangguk saja.
Kami sepakat selah pulang sekolah akan mengerjakan tugas kelompok dari buk Indah, hari ini.
"Hai! nunggu lama ya?" ucap Yasmin, menghampiri kami.
"Enggak ko, santai aja," ucapku.
"Mau ngerjain tugas di rumah siapa nih, kita?" tanya, Yasmin.
"Gimana kalau di kafe, yang waktu itu kita ngerjain tugas bareng Windy, sama Putra?" usul, Edo.
"Boleh tuh, di sana tempatnya juga bagus buat foto-foto," Safa, menyetujui.
Aku, dan Yasmin, yang menjadi tim dengar juga ikut mengangguk atas usulan yang, Edo berikan.
***
"Perasaan waktu kita ke sini tiga Minggu yang lalu, dekorasi kafenya enggak kaya gini deh," ucap, Safa mengamati sekeliling kafe dari luar.
Aku mengangguk. "Pasti mereka sengaja rubah konsep setiap bulannya, buat ganti suasana," ucapku.
"Bagus sih, jadi gak bosenin," tambah, Edo.
"Udah yuk, masuk! gue, udah laper nih," ajak, Yasmin.
"Padahal bukan weekend, tapi kafenya rame banget," ucap, Edo.
__ADS_1
"Gak heran sih, rame. Gue, aja betah lama-lama di sini," ucap, Safa.
"Ini waitress-nya mana, sih?" Yasmin, melihat ke sekeliling.
"Kak, sini!"
Aku celingukan ingin melihat dimana waitress yang dipanggil Edo. Di sana, tepatnya dari arah kiri posisi aku duduk, aku melihat sosok itu menghampiri kami, dia tersenyum seolah tak punya beban apapun.
Dia berjalan perlahan, sesekali mengangguk saat seseorang menyapanya.
Dia, sosok yang beberapa tahun kebelakang menghilang tanpa memberikan kabar meskipun hanya sesaat, sosok yang belakangan ini aku cari keberadaannya, sosok yang sudah memenuhi celengan kerindu milikku. Dia, Kak Bulan.
"K-kak Bulan?" ucapku, lirih.
Sama halnya denganku, Kak Bulan terkejut melihatku ada di hadapannya. Bahkan, Safa sampai ternganga karena mendapat kejutan dari sosok yang kami cari.
"Kak Bulan, kerja di sini?" lagi, tanyaku. Setelah beberapa saat hanya keheningan yang mendominasi kami.
"Mau pesen apa? ini daftar menunya." Kak Bulan, memenyerahkan buku tipis bersampul hitam pada kami.
Meskipun sama-sama terkejut, tapi Kak Bulan, berhasil lebih cepat menguasai raut wajahnya. Dia, kembali tersenyum.
"Kak, kenapa kakak gak pernah mau pulang?" Aku kembali bertanya, tapi hanya dianggap angin lalu oleh, Kak Bulan.
"Kak, aku mohon kasih tau aku ada apa sebenarnya? aku tau pasti ada yang Mama, Papa, dan Kak Bulan, sembunyiin dari aku'kan?" suaraku sedikit memancing perhatian beberapa pengunjung. "Jawab, Kak! jangan terus-terusan menghindar!" lanjutku.
"Zura? Zura! hey! nafas Zura!" Safa, mengguncang bahuku.
Aku mengerjap, menarik nafas sebanyak mungkin. Pantas saja, dari tadi ruangan ini terasa semakin pengap, ternyata aku terlalu terkejut sampai lupa untuk bernafas.
"Are you okay?" tanya, Safa.
Aku tersenyum, kemudian mengangguk pelan.
"Ngerjain tugasnya, kita tunda dulu aja. Sekarang, elo tenangin diri elo, aja." Yasmin, mengusap perlahan punggungku.
Aku menggeleng. "Gue, baik-baik aja ko, kita kerjain tugasnya sekarang," ucapku.
Teman-temanku mengangguk tanpa berdebat lagi.
***
"Jadi apa yang kamu mau tau dari, Kakak?" tanya, Kak Bulan saat kami bicara berdua di taman belakang kafe.
Aku terdiam sejenak. Memandangi penataan taman minimalis menjadi lebih modern. Jika, Safa ikut bersamaku pasti dia akan betah, dan memenuhi memori handphonenya dengan foto selfie.
"Kenapa, Kakak gak pernah pulang?" tanyaku.
Akhirnya setelah sekian lama pertanyaan yang hanya bisa aku utarakan di dalam hati, bisa aku utarakan pada si tokoh utama permasalahan ini.
__ADS_1
"Kakak, mahasiswa semester akhir, sibuk. Dan, seperti yang kamu lihat, Kakak juga kerja. Jadi, gak punya waktu untuk pulang," ucap, Kak Bulan.
"Beberapa hari lalu aku ngeliat Kakak, di apotek. Kak beli testpack, apa Kakak, hamil?" tanyaku, ragu-ragu.
"Enggak. itu buat temen Kakak," jawab, Kak Bulan yakin.
Aku bisa sedikit menarik nafas lega. Jujur saja, dari beberapa hari kemarin fikiran-fikiran negatif tentang Kak Bulan, terus bermunculan di benakku.
"Kak, aku tau." Kak Bulan, memusatkan pandangannya padaku, setelah dari tadi hanya melihat ke depan.
"Aku tau Kak, aku tau ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari aku. Apa itu, Kak? hal penting apa yang berusaha kalian tutup rapat dari aku?" tanyaku, mulai meneteskan air mata.
Kak Bulan, terdiam sebentar kemudian tertawa."Jangan ngawur deh, kita gak nyembunyiin apa-apa," kata, Kak Bulan.
"Kak, pliss ... jujur sama aku, sekarang aku bukan anak kecil lagi, tolong kasih tau aku sebenarnya apa yang terjadi," ucapku.
"Makin ngawur deh, kamu. Kakak'kan udah bilang enggak ada yang Kakak, Mama, dan Papa sembunyiin dari kamu," ucap, Kak Bulan. "Sebaiknya sekarang kamu pulang, pasti temen-temen kamu udah pada nungguin," lanjutnya.
Untuk beberapa saat aku terdiam, ingin menolak, tapi aku tak punya alasan yang pas untuk tetap menggobrol dengan Kak Bulan, apalagi saat ini Kak Bulan, terus-terusan berusaha menutupi fakta yang ada.
"Oke, aku mau pulang, tapi aku mau tau dimana tempat Kakak, tinggal?" Kak Bulan, terdiam.
"Di kostan putri dekat sini," jawab, Kak Bulan.
Oke, cukup. Meskipun belum mengetahui fakta sebenarnya, tapi setidaknya aku tau dimana tempat tinggalnya, itu akan lebih mempermudah untukku menemui Kak Bulan, lagi.
"Aku pulang, assalamu'alaikum." Aku mencium menyalami, Kak Bulan.
"Wa'alaikumussalam,"
Bulan, memandangi punggung adiknya yang mulai menjauh. Rasa iba terus mengusiknya, tapi ego dan janji lebih kuat menahannya.
"Sekarang kamu udah besar dek." Tak terasa, air matanya mulai jatuh.
"Kamu benar dek, ada sesuatu yang kami tutup rapat dari kamu, dan adalah kuncinya." Bulan, menghapus jejak air matanya. Ia harus kembali ke dalam kafe dan tersenyum, pada teman-temanya. Bersikap seolah semua baik-baik saja.
...***Hallo readers yang baik hati! ...
Udah lama banget ya, cerita ini gak update,
Buat kalian yang masih setia baca cerita ini, aku ucapin makasih ya.
Doa dan harapanku untuk kalian, semoga kalian selalu dikelilingi oleh keberlimpahan dan juga kasih sayang.
Hidup itu berat, tapi harus kuat untuk orang tersayang, khususnya orang tua. Semangat!
Tertanda, Author yang lagi hoby rebahan.
Jumi***.
__ADS_1