Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 9 [Pasar]


__ADS_3

Bangun siang, maraton drakor yang direkomendasiin Safa, rebahan seharian. Semua rencana hari Mingguku sirna tak berbekas. Pagi-pagi sekali, tepatnya setelah sholat subuh, Mama langsung memboyongku untuk menemaninya ke pasar, lebih tepatnya aku dijadikan asisten dadakan oleh, Mama.


Katanya biar lebih banyak bergerak, dan jadi tau bahan-bahan apa saja yang menjadi kebutuhan dapur. Niat baik Mama, memang pantas diacungi empat jempol, karna di zama moderen seperti ini sudah banyak perempuan yang bahkan tidak bisa membedakan jahe, dan lengkuas.


Masalahnya, aku harus menyiapkan stok kesabaran ekstra, untuk menghadapi kebiasaan, Mama. Aku harus menemani Mama, berkeliling menyusuri pelosok pasar untuk membandingkan kualitas dan harga sayur yang sesuai dengan keinginan Mama, aku juga harus sabar menunggu Mama, mengobrol dengan relasinya, alias pedagang langgananya. Dari mulai basa basi sampai masalah pribadi selalu menjadi bahan obrolan mereka, dari yang awalnya ingin belanja jadi sekalian curhat dan berbagi pengalaman. Bagus memang, karna selain mendapat potongan harga, Mama juga bisa mendapatkan banyak tips, contohnya cara membuat bolu agar mengembang, cara agar sayuran awet dan selalu segar, sampai tips mengurus anak remaja. Ya, terkadang aku juga menjadi bahan gibah mereka. Itulah sebabnya aku selalu malas jika Mama, meminta ditemani ke pasar.


"Gem, kamu tunggu di sini dulu ya, Mama mau pilih-pilih daun bayam di lapak yang di sana." Mama, menunjuk sebuah lapak sayur yang terhalang empat lapak dari tempatku duduk.


Aku mengangguk. "Sekalian beli jagungnya juga, ya Ma," ucapku.


"Titip, Gemi ya, Bu. Saya mau beli bayam dulu,"ucap Mama, pada seorang Ibu-Ibu penjual bumbu, sala satu relasi Mama, yang lapaknya menjadi tempatku duduk.


Ibu paruh baya yang kuketahui bernama, Aminah itu mengangguk mengiyakan.


"Neng, Gemi sekarang kelas berapa?" setelah tidak ada pembeli, Bu Aminah ikut duduk di samping lapaknya bersamaku.


"Kelas dua eSeMA Buk," ucapku.


"Wah udah besar ternyata, Neng Gemi ini. Dulu waktu masih eSDe, Neng Gemi sering dibawa ke pasar sambil digendong di punggungnya, Mamanya Eneng," ucap, Bu Aminah. "Sambil digendong, Neng Gemi juga suka pegang permen lolipop cuma, sama Mamanya Neng Gemi, bungkusnya gak boleh dibuka, biar gak di makan." Aku dan Bu Aminah, sama-sama tertawa mengenang masa lalu.


Sama seperti sekarang dulu aku juga sering menolak jika Mama, membawaku ke pasar, alasanya karna dulu aku tidak suka bau pasar yang beraneka ragam, tapi karna keseringan sekarang jadi terbiasa. Untuk mengatasi aksi protesku itu Mama, selalu membujukku dengan akan membelikan aku permen lolipop di pasar, tapi syaratnya aku harus makan dulu jika ingin makan permen, alhasil permen itu selalu aku pegang sepajang Mama, belanja karna aku yang selalu susah untuk sarapan.


"Permisi Bu, saya mau beli bawang merah sama bawang putihnya seperempat-seperempat." Aku menoleh untuk memastikan si pemilik suara yang terdengar tidak asing.


Benar dugaanku, itu suara Bu Rania. "Bu Rania, apa kabar?" aku menghampiri Bu Rania, kemudian mencium tanganya.

__ADS_1


"Lho, ini nak Gemi'kan? Alhamdullialah kabar Ibu, baik. Kalau nak Gemi, gimana kabarnya?" Bu Rania, balik bertanya.


"Gemi, juga alhamdulliah baik Bu, Ibu suka belanja di pasar ini juga?" tanyaku.


Aku sedikit heran pasalnya lokasi pasar ini cukup jauh dari rumah Bu Rania, ditambah lagi ada pasar yang letaknya lebih dekat dengan rumah, Bu Rania.


"Engga ko, Nak Gemi, Ibu ke sini sesekali aja, sekalian ngambil pesenan telur bebek dari langganan, Ibu." Terjawab sudah rasa penasaranku. "Nak Gemi, juga lagi belanja ya?" tanya, Bu Rania.


"Enggak Bu, aku cuma nemenin Mama, aja. Itu Mama, aku!" Bu Rania, mengikuti arah ku menunjuk, di sana ada Mama, dan beberapa Ibu-Ibu lain yang sedang tawar-menawar dengan pedagang sayur.


Aku mengamati raut wajah Bu Rania, sayangnya aku tidak dapat mengartikan tatapan Bu Rania, pada Mamaku. Wajar memang, jika Bu Rania, menatap Mamaku tanpa ekspresi berati, mungkin semua orang juga begitu. Jika hampir semua Ibu-Ibu akan menggunakan daster untuk belanja ke pasar tradisional, Mamaku justru tampil modis dengan dres selutut, plat shoes, dan sebuah tas slempang bermerek. Mamaku, jelas salah kostum.


Ketika aku tanya alasan kenapa Mamaku selalu tampil modis jika ke pasar, ia akan menjawab dengan jawaban yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.


"Mama, pengen terlihat cantik meskipun bau keringat dan debu dari pasar," begitu katanya.


"Enggak!" aku sedikit terkejut mendengar suara Bu Rania, yang sedikit tinggi." Jangan! maksud Ibu, engga usah. Jangan sekarang, soalnya Ibu, udah ditungguin tukang ojek di parkiran," ucap, Bu Rania.


Aku mengangguk mengerti. "Yaudah, tapi kapan-kapan kalau Ibu, ke pasar ini lagi, Ibu jangan lupa mampir ke rumah aku ya, gak jauh dari pasar ini ko, di perumahan setelah pertigaan di depan. Rumah aku nomer 82," ucapku.


Bu Rania, tidak mengiyakan, tidak juga mengangguk, dia hanya tersenyum hangat seperti biasanya. "Ini uang bawangnya ya, Bu. Ibu, duluan ya, nak Gemi." pamit Bu Rania, setelah membayar bawang yang dia beli.


Dari belakang, aku bisa melihat Bu Rania, berjalan sedikit terburu-buru, setelah sebelumnya tersenyum singkat padaku.


"Gem, yuk kita pulang!" Mama, menghampiriku dengan menenteng sebuah keresek berukuran sedang.

__ADS_1


Aku mengangguk, kemudia berpamita pada Bu Aminah, sebelum membawa belanjaan yang tadi Mama, berikan padaku.


\*\*\*


"Ma, Gemi'kan tadi udah nemenin Mama, sekarang Gemi, mau istirahat sekalian bersih-bersih dulu ya, bada Gemi, udah lengket banget." Ucapku, setelah meletakan kantong belanja di atas meja dapur.


Mama, mengiyakan permintaanku tanpa tawar-menawar lagi.


Niat awalku untuk mandi terhenti saat aku tidak sengaja melihat sebuah jurnal berwarna hijau muda milikku. Seketika aku ingat, jika buku ini sengaja aku siapkan untuk mencatat poin-poin yang aku dapat tentang alasan perginya, Kak Bulan. Baru ada tiga kata yang sudah aku tulis. Mama, Papa, dan Kak Bulan. Dari tiga orang itu aku harus mencari petunjuk, tapi sayangnya itu jelas sulit, Papa dan Mama, jelas tidak akan buka mulut sekalipun aku memaksa ingin tau, mereka pasti akan mengelak.


Sementara Kak Bulan, bahkan aku tidak tau dimana keberadaanya, dihubungi lewat handphone pun, tidak pernah di balas.


Di rumah ini, hanya ada aku, Gio, Mama dan Papa. Tidak ada ART, tukang kebun, atau supir, yang mungkin bisa aku tanyai jika mereka ada, tapi memang dari aku kecil Mama, tidak mau menyewa ART, katanya ia ingin menikmati peran sebagai seoeang Ibu dan Ibu rumah tangga, Papa juga tida mempunyai supir, katanya dia lebih senang nyerir mobil sendiri dibandingkan disetirin orang lain.


Buntu. Aku tidak bisa menemukan petunjuk sedikitpun walau samar.


Sepertinya, pencarianku akan benar-benar memakan waktu panjang.


**Hallo pembaca baik hati!


Terimakasih karna sudah setia menunggu cerita ini.


Semoga kalian selalu dilimpahi kebahagian dan keberuntungan.


Tertanda orang yang penen kaya dan sukses.

__ADS_1


Jumi**


__ADS_2