
Rabu di jam kedua adalah pelajaran olahraga. Syukurnya hari ini langit sedang bersahabat dengan kami. Tidak ada panas Matahari yang menyengat, tapi tidak juga terjadi mendung, dengan tambahan awan menggumpal yang membentuk pola abstrak yang indah.
Sungguh sebuah ciptaan tuhan yang indah.
Aku dan teman-teman yang lainnya melakukan pemanasan lebih dulu sebelum melakukan olahraga inti. Volly.
Aku melirik ke kiri, di sana ada Safa, yang perlahan menggeser posisi berdirinya menjadi lebih dekat padaku.
sstt...
sstt...
Sekilas aku menoleh pada Safa, yang tadi mengeluarkan kode padaku.
"Apa?" tanyaku, tanpa suara.
Safa, menunjuk menggunakan dagu. Di, samping lapangan ada anak-anak basket yang sedang istirahat, salah satunya adalah, Kak Abin.
"Terus?" tanyaku, lagi tanpa suara.
"Gue, perhatiin dari tadi Kak Abin, ngeliatin elo, mulu deh. Jangan-jangan, dia naksir sama elo," Safa, berbisik padaku.
"Jangan ngaco deh, lo. Di sini'kan ada banyak orang, mungkin kebetulan aja orang yang diliatin Kak Abin, ada di sekitar gue," jawabku, ikut berbisik.
"Tap.... "
"Safa, ada hal penting apa sampai kamu bisik-bisik saat pelajaran sedang berlangsung?" tanya, Pak Yadi—guru olahraga kami.
Safa, terdiam mendengar teguran dari, Pak Yadi. "Maaf, Pak." ucap, Safa menunduk.
"Zura, ada hal sepenting apa yang Safa, kasih tau ke kamu di tengah-tengah jam pelajaran seperti ini?" Pak Yadi, berganti menegurku.
Aku menunduk. Malu ketika semua mata tertuju pada kami. Termasuk pandangan Kak Abin.
"Maaf, Pak." Hanya, itu yang bisa aku ucapkan. Tidak, mungkin jika harus aku harus menceritakan apa yang kami obrolkan di hadapan umum, terlebih ada Kak Abin, sebagai orang yang menjadi judul obrolan kami.
"Kalian berdua, lari keliling lapangan dua puteran!" final, Pak Yadi.
Aku melirik pada Safa, sebentar. Memberinya pelotonan tanda protes karna semua ini dia yang memulai.
__ADS_1
***
"Aduh! pegel banget sih, nih kaki. Bisa-bisanya, Pak Yadi matanya tajem banget, padahal udah tua juga," grutu, Safa memasuki rumahnya. "Ekh, dari bau-baunya gue kenal nih, wangi rendang. Ini, pasti Mama, masak rendang kesukaan gue nih," lanjutnya, bersemangat.
"Mama ... anak Mama, yang paling cantik pulang!" teriak Safa, memasuki dapur.
"Kelakuan anak gadis zaman sekarang, pulang bukannya ngucap salam, malah teriak-teriak gak jelas," gumam, Buk Lani sambil geleng-geleng kepala.
"Wih, rendangnya banyak banget, aduh!" teriak, Safa karna, Buk Lani memukul tangannya yang hendak mencomot rendang di atas piring.
"Ganti baju, sama cuci tangan dulu Adek!" Safa, cengengesan saat ditegur, Mamanya.
Safa Oktaviani, atau yang sering kita panggil Safa, adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Di rumah, Adek adalah nama panggilan untuknya. Meskipun anak bungsu, dan lebih cenderung manja saat di rumah, tapi nyatanya sifat manjanya itu tak pernah terbawa ke sekolah ataupun saat ia bermain dengan teman-temanya.
Di sekolah, ataupun saat nongkrong, ia cenderung mandiri dan selalu bisa diandalkan, Safa bahkan bisa menjadi pendengar yang baik saat yang lainnya butuh tempat untuk bercerita.
"Oke. Safa, ganti baju dulu Ma, tapi rendangnya sisain buat Safa, ya!" ucap, Safa.
"Iya, adek. Dasar, penggila rendang," gumam, Mamanya Safa, ketika anak bungsunya masuk ke kamar.
Tidak butuh waktu yang lama untuk Safa, berganti baju, mungkin hanya sekitar lima menit. Tentu saja, penyebabnya karna bayangan rendang sudah menari-nari di kepalanya.
"Ma, ko, rendangnya jadi sedikit, tadi'kan banyak?" tanya, Safa saat melihat hanya ada sepiring rendang di meja makan.
Abang Rendi, adalah Kakak, ke dua Safa, yang sedang kuliah di kota bogor. Sementara, Kakak pertamanya, Rama sudah menikah, dan tinggal di kota bekasi.
Safa, menggeleng. "Adek, mau nginep di rumahnya Zura, aja deh. Adek, capek kalau pergian-pergian besoknya harus sekolah," ucap, Safa.
"Yaudah, tapi kamu harus minta izin dulu sama tante Mayang, kalau diizinin baru Mama, izinin nginep di sana," Ucap, Lani—Mamanya, Safa.
"Pasti diizinin dong Ma, Adek'kan udah kaya anak ke tiganya tante Mayang," ucap, Safa penuh percaya diri.
Lani, yang melihat kepercayaan diri yang tinggi dari anak bungsunya itu hanya bisa tersenyum sammbil menggeleng-gelengkan kepala.
Beberapa saat hanya suara deting sendok, dan garpu yang mendominasi ruang makan itu, sampai satu pemikiran tiba-tiba terlintas di benak, Safa.
"Ma?" tanya Safa, ragu-ragu.
Lani, hanya berdeham sebagai respon.
__ADS_1
"Mama, udah lama'kan kenal sama tante, Mayang?" tanya, Safa lagi.
Lani, kembali mengangguk. "Udah sejak kamu masi eSDe, Mama kenal sama Mayang, dulu'kan kita sering ngobrol-ngobrol waktu nungguin kamu, sama Zura, di sekolah," ucap, Lani setelah menelan suapan terakhirnya. "Kenapa sih, ko, tumben kamu nanyain soal tante, Mayang?"
"Mama, pasti kenal juga dong sama Kakaknya Zura, Kak Bulan?" lagi tanya Safa.
"Kenal ko, Mama pernah ketemu sama Bulan, beberapa kali, dia anaknya ramah, sopan juga," jawab, Lina.
"Mama, tau gak sih, sebenarnya Kak Bulan, itu kuliah di mana?" tanya, Safa akhirnya.
Lani, seketika terdiam. Dia, baru sadar kemana sebenarnya arah pembicaraan anak bungsunya itu.
"Mama, engga tau Dek," jawab, Lina buru-buru beranjak dari kursinya.
"Ma, tunggu dulu, Adek'kan belum selsai nanyanya!" rengek, Safa.
Dengan setengah terpaksa akhirnya Lani, kembali duduk. "Kamu, ko tumben nanyain soal, Bulan?" giliran, Lani yang bertanya.
"Safa, suka kasian kalau denger Zura, cerita tentang Kakaknya. Kak Bulan, udah lama gak pulang-pulang, sebagai Adik, pasti Zura, kangen sama Kakaknya. Apalagi, orang tuanya gak pernah ngasih jawaban pasti soal Kak Bulan," ucap, Safa panjang.
"Dek, saran Mama, kamu jangan terlalu ikut campur urusan keluarganya Zura, Mama ngerti kalau kamu ikut sedih liat sahabat kamu sedih, tapi sebagai orang luar, bukan hak kamu untuk nyari tau soal Bulan," Safa, terdiam.
"Tapi, Ma ...," ucapan, Safa terpotong.
"Mama, ngeti kamu kasian. Sebenarnya, memang ada sesuatu di keluarga Zura, dan Mama, tau apa itu..., "Zura, hendak kembali bicara, tapi Lani kembali mendahului. "Mama, cuma tau setengah dari ceritanya, jadi Mama, gak akan, dan memang gak bisa cerita sama kamu, kalaupun Zura, harus tau itu, harus langsung dari orang tuanya, bukan dari kita yang orang luar. Adek, faham'kan maksud, Mama?" Safa, mengangguk perlahan.
Rentetan kata-kata Mamanya, terus berputar di kepala Safa, bagaikan sebuah kaset rusak, bahkan hingga fajar telah tiba'pun Safa, tak kunjung terlelap.
Safa, faham betul apa maksud kata-kata Mamanya, tapi setengah dirinya juga berontak karena iba pada sang sahabat, ditambah lagi rasa penasaran juga ikut menggerogotinya, sebab sang Ibu tak kujung memberikan jawaban yang selama ini ia, dan Zura, cari.
***Hallo readers yang budiman?
Terimakasih karena masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Bagi yang menjalankan ibadah puasa, semoga ibadahnya diterima Allah, dan segala hajat kalian tercapai.
Jumi, berharap kalian selalu di keliling oleh orang-orang yang menyanyangi kalian, selalu bertambah bahagia di setiap harinya.
Semangat terus!!
__ADS_1
Dari orang yang belum terkenal.
Jumi***.