
Syukurlah acara pentas seni kemarin berjalan sesuai rencana, konsumsi pun, tersedia sesuai jumlah orang yang hadir. Aku bersyukur karna Kak Abin, mengenalkanku pada Buk Rania, jadi aku bisa mendapatkan kue murah dengan rasa yang enak.
Karna acara kemarin cukup menguras tenaga, pihak sekolah memutuskan memberikan kami libur satu hari, sangat singkat memang, tapi aku bersyukur karna pada hari yang sama Papa dan Gio juga mendapatkan libur, jadi kami bisa bersantai di rumah. Istilah kerennya family time.
"Nanti Gemi, beneran mau dibeliin sepatu baru'kan?" tanyaku, memastikan keseriusan, Papa.
"Iya. Tadi'kan Papa, udah janji kalau Gemi, pijitin Papa, nanti Papa beliin sepatu baru," Papa, masih memejamkan matanya menikmati pijatanku di kakinya.
"Mama, juga dibeliin tas baru ya, Pa," Mama, membawa puding coklat dan mangga dari dapur.
"Lho, mama'kan gak ikut mijitin Papa!" protesku.
Papa, dan Mama memang menerapkan aturan setiap menginginkan sesuatu kita harus menukarnya dengan sesuatu, misalnya; ketika aku ingin handphone baru maka aku harus juara kelas lebih dulu, atau seperti sekarang ketika aku menginginkan sepatu baru, maka pertukarannya aku harus memijat Papa, dulu.
"Mama'kan udah bikinin puding buat Papa," Mama, tak mau kalah berdebat.
Urusan berdebat, memang pasti akan selalu dimenangkan oleh Mama, selaku Ibu negara. Aku pernah mengintip nama Mama, di ponselnya Gio, dan namanya Rapper Dunia, untung saja Mama, tidak tau.
"Gio, juga penge dibeliin mobil remot yang baru." Setelah tadi sibuk dengan dunianya sendiri, Gio akhirnya buka suara.
"Lha, kamu'kan gak batuin mijitin Papa, gak bikinin puding juga, dari tadi cuman main PS aja ko, minta hadiah?" tanyaku.
"Gio, juga bantuin Kak Gemi, tau. Bantu, doain biar cepet selsai." pandangan Gio, masih fokus pada layar di depanya.
Tentu saja aku kesal dengan jawaban, Gio. Licik sekali dia, saking kesalnya aku melemparkan kulit kacang yang dari tadi di sampingku.
"Aduh, Kak Gemi, apaan sih!" Gio, perotes dengan kelakuanku. "Itu namanya, KDHKA,"
"Apaan tuh?" tanyaku, yang merasa asing dengan istilah yang dipakai, Gio.
"Kekerasan Dalam Hubungan Kakak-Adik," jawab, Gio.
Selain aku, Papa dan Mama, juga ikut tertawa mendengar kata-kata amsurd dari, Gio. Andai saja Kak Bulan, ada di sini, ikut tertawa dan bercanda bersama kami, pasti family time ini jadi lebih berati.
"Lho, mau ke mana Gem? gak mau makan puding?" tanya, Mama melihatku beranjak.
"Mau ambil kue di kulkas," jawabku.
__ADS_1
Sebagai bonus karna telah memesan banyak kue, Buk Rania memberikan aku satu loyang kecil Bluebery chees cake, katanya dia sengaja membuat itu untuku karna aku terlihat menyukai kue itu.
"Mama, bikin kue?" tanya Arya—Papa,Gemitang.
Mayang, menggeleng untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Nih, Mama sama Papa, pasti suka sama kuenya." Aku, memberikan Papa, dan Mama, satu potong kue, ke piring masing-masing.
"Kuenya, enak Gem, kamu beli darimana?" terlihat dari ekpresinya, Mama menyukai kue itu.
Lain Mama, lain juga, Papa. Tak seperti Mama, yang langsung menyukai kue itu dari pertama kali mencoba, justru Papa, malah terdiam dengan pandangan kosong, aku tak mengerti harus mengartikan apa tatapan Papa, suka atau tidak suka.
"Pa, kenapa? Kuenya gak enak?" tanya, Mama yang menyadari hal tidak wajar pada suaminya.
Papa, tersenyum. "Enak. Beli dimana Gem?" Papa, kembali seperti semula.
"Di kasih orang, Pa. Kemarin lusa aku pesen kue untuk acara sekolah, terus dikasih bonus kue ini deh,"
"Baik banget orangnya, sampe ngasih bonus segala," kata Mama, memang Bu Rania, itu orang yang baik.
"Pa, Gemi boleh tau alamatnya kosan Kak Bulan gak? selama ini'kan Gemi, hubungi Kak Bulan, pake Hp gak pernah di balas, siapa tau kalau Gemi, dateng ke kosannya Kak Bulan, dan ngobrol sama Kak Bulan, Gemi bisa ngajak Kak Bulan, buat pulang ke sini. Gak perlu ngekos lagi," ucapku, berharap Papa, akan memberikan alamat kosan Kak Bulan, padaku.
Selama ini, aku hanya mengetahui nama kampus Ka Bulan. Pernah sekali aku datang ke sana dan mencari Kak Bulan, menanyai banyak mahasiwa, tapi ternyata tidak ada yang tau tentang Kak Bulan, mungkin Kak Bulan, tipe mahasiwa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, jadi tidak banyak dikenali orang lain, sekalinya ada yang bernama Bulan, itu bukan Kak Bulan.
"Gem, stop cari informasi apapu tentang Bulan, stop hubungin Bulan, Kakak kamu itu mahasiwa semeter akhir, jadi pasti dia sibuk banget. Kalau dia udah gak sibuk nanti juga pulang. Jadi, stop cari dan hubungi Bulan, Kakak kamu itu gak hilang, dia cuma lagi sibuk," bukan Papa, yang menjawa. Justru Mama, yang menjawab.
Ucapan Mama, membuatku terdiam. Kak Bulan, gak hilang, tapi entah kenapa justru aku merasa Kak Bulan, memang hilang. Mengasingkan dirinya dari kami semua, keluarganya. Dan, alasan dibalik semua itu masih menjadi misteri untukku.
"Iya, Ma." hanya itu yang bisa aku ucapkan, untuk ucapan, Mama.
\*\*\*
Ting!
Sebuah pesan dari, Safa masuk ke handphoneku.
SAFA**ri*.
__ADS_1
Zura, elo tau gak, kalau elo digosipin jadian sama Kak Abin, ketos*?
^^^ Me^^^
Elo, tau dari mana? Siapa yang
nyebarin gosipnya?
SAFAri
Gue gak tau siapa yang nyebarin gosipnya.
Yang jelas, gosip itu udah kesebar di grup
Kelas. Katanya, ada yang liay elo, sama
Kak Abin, jalan kemarin lusa.
Aku mengingat-ngingat kejadian kemarin lusa, sepertinya ada yang melihat aku dibonceng Kak Abin, waktu pulang sekolah. Padahal'kan itu waktu Kak Abin, mau menunjukanku rumah, Bu Rania. Netizen, memang sering memutuskan fakta dari apa yang mereka sangka, padahal kenyataanya jauh dari apa yang ada difikiran mereka.
... Me ...
^^^ Itu waktu gue boncengan sama^^^
^^^ Kak Abin, buat beli kue. Buat acara pensi.^^^
Rasa kantukku yang tadi sudah singgah, kembali lenyap seiring perasaanku yang menjadi tidak karuan. Kak Abin, itu selain ketos dia termasuk murid populer dikalangan murid lainya, pasti besok banyak yang akan bisik-bisik melihat kehadiranku di sekolah.
***Hallo guys, kembali lagi sama cerita dibalik hilangnya rembulan, semoga kalian engga bosen ya baca cerita dari Jumi.
Semoga kalian selalu bahagia dan dikabulkan segala keinginanya.
Terimakasih, untuk yang sudah mendukung dan meninggalkan jejak di cerita ini.
Salam sayang dari author yang pengen kaya, tapi hobby rebahan.
Jumi***.
__ADS_1