
Kini Rangga dan Nara sudah berada di ruang makan untuk sarapan.
"Semalam kamu pulang jam berapa Mas? Semalam badan aku sakit banget, jadi jam delapan aku udah tidur, jadi aku gak bisa nungguin kamu pulang." tanya Nara.
"Mm... kayaknya jam dua belas atau jam satu gitu deh." jawab Rangga berbohong.
Nara berdecih dalam hatinya mendengar jawaban suaminya.
"Oh... Maaf yah Mas semalam juga aku gak bisa layanan kamu." balas Nara sambil mengelus tangan Rangga. Tapi dalam hatinya sudah mengumpat suami-nya.
"Iya Sayang gak pa-pa." jawab Rangga.
"Oh iya, hape kamu mana? Daritadi aku gak liat hape kamu?" tanya Nara.
"Astaga! Kayaknya ketinggalan di kantor deh Sayang." jawab Rangga.
"Oh... gak pa-pa kalau gitu. Kan gak ada juga karyawan kamu yang berani masuk ruang kerja kamu sembarangan, jadi aman lah." jawab Nara.
"Jadi nanti kamu mau ke kantor atau di rumah aja atau mau kerumah Mama?" tanya Nara.
"Ke kantor lah, ngapain juga aku dirumah. Nanti kita kerumah Mama habis kamu selesai kerja." jawab Rangga.
"Jadi kamu gak usah bawa mobil yah, biar aku yang anter kamu." kata Rangga lagi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Nara.
💋💋💋
__ADS_1
Kini Nara sudah berada di kantornya.
Hal yang pertama Nara lakukan adalah mengecek lokasi Rangga dari ponsel kedua Rangga karena tadi Rangga mengantar Nara menggunakan mobil Ferrari dimana Rangga menyembunyikan ponsel keduanya.
Bukan hanya memasang pelacak di ponsel kedua Rangga itu, tapi Nara juga menyadap WhatsApp Rangga di ponsel itu.
Nara melihat pergerakan Rangga memang menuju kantornya dan WhatsApp-nya juga tidak ada pesan masuk yang dari Erika.
Dua Minggu berlalu.
Dari pelacakan Nara dan pengintaian Nara selama dua Minggu ini, tidak ada aktifitas yang mencurigakan dari Rangga. Keluar dari rumah, Rangga selalu pergi ke kantor, bahkan di saat jam makan siang pun dari informasi yang Nara dapat dari salah satu SPG di showroom, Rangga selalu memesan makanan, kalau pun keluar dari kantor, itupun untuk makan siang dengan Nara.
Kalau ada pertemuan dengan klien di luar kantor pun, Rangga menyuruh asistennya yang menemui sang klien.
Dalam waktu dua Minggu itu juga Nara enggan di sentuh oleh Rangga. Seminggu pertama memang karena Nara sedang datang bulan tapi seminggu kedua walau Nara sedang masa ovulasi dan gairah-nya juga menggebu-gebu tapi Nara ogah melayani suami-nya padahal hampir tiap malam Rangga merengek minta bercinta.
Selama dua Minggu itu juga, Nara tidak pernah mengecek email yang ia pakai untuk mendaftar di rumah sakit di Singapura, karena selain sibuk mengintai Rangga, pekerjaan Nara juga sedang banyak-banyaknya apalagi sekarang sudah akhir bulan. Ya tahu sendiri bagaimana kesibukannya orang bank kalau sudah akhir bulan.
TRING.
Saat Nara sedang fokus dengan layar komputernya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Nara pikir ada chat masuk untuk dirinya ternyata itu notifikasi chat masuk di WhatsApp ponsel kedua Rangga.
[Erika] : Mas, udah dua Minggu kamu kok gak kesini? Anak kita kangen Mas.
__ADS_1
Duar...
Bagai tersambar petir, Nara kaget bukan main membaca pesan Erika untuk Rangga. Dunia Nara seperti berhenti membaca pesan itu.
"Apa? Anak? Mas Rangga dan perempuan itu punya anak?" lirih Nara pelan.
[Erika] : Oh iya Mas, aku mau ingetin besok lusa jadwal aku kontrol bulanan loh Mas. Mas Rangga jangan lupa dateng yah. Dan satu lagi, uang bulanan aku udah habis. Ibu aku di kampung udah minta uang, segera kirim yah Mas.
Belum juga kakagetan Nara reda dengan pesan Erika yang pertama, sudah di gempur dengan pesan kedua yang membuat tubuh Nara seperti tidak bertulang, tubuh-nya lemas seketika membaca pesan kedua.
Disaat tubuh Nara sedang lemas-lemasnya, masuk lagi pesan ketiga dan kali ini pesan balasan dari Rangga.
[Rangga] : Maaf, aku gak bisa temenin kamu. Besok aku akan suruh Mama buat temenin kamu. Kalau soal uang bulanan, seperti biasa aku akan kirim lewat rekening Mama jadi nanti Mama yang transfer ke rekening kamu.
Mata Nara membulat, nafasnya tercekat seperti ada yang mencekik lehernya.
"Jadi Mama juga tahu soal perselingkuhan Mas Rangga?" lirih Nara.
"Pantes aja Mama gak nuntut anak dari aku dan Mas Rangga, ternyata Mama tau kalau Mas Rangga akan punya anak dengan wanita lain! Kalian semua jahat!" kata Nara lagi.
Nara yang tak sanggup ingin menumpahkan air matanya pun cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya lalu masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Nara menggigit lengan blazernya untuk meredam tangisnya.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1