
Setelah Nara bertemu dengan pengacara dan menceritakan semua masalahnya pada pengacara itu, dan pengacara bersedia menjadi pengacara yang akan membantu Nara mengurus perceraian dengan Rangga, Nara pun pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ternyata di halaman rumahnya sudah ada mobil Rangga dan mobil Mama Rena. Nara sama sekali tidak gentar melihat suami dan Mama mertuanya itu. Nara pun tetap turun dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Mama Rena langsung menghampiri Nara.
"Nara, mari kita bicara dulu. Dengarkan dulu penjelasan kami Nara." ucap Mama Rena.
"Kan udah Nara bilang kalau kalian mau menjelaskan, jelaskan saja nanti di pengadilan." jawab Nara.
"Nara-"
"Nara capek, Nara mau istirahat dulu. Huuh... Pura-pura bodoh ternyata lelah juga yah." potong Nara lalu meneruskan langkahnya berlalu dari hadapan Mama Rena.
__ADS_1
Mama Rena memberi kode dengan matanya pada Rangga agar Rangga mengikuti istrinya dan meminta maaf pada Nara.
Tanpa perlu Mama Rena kode pun Rangga sudah pasti akan mengikuti Nara dan membujuk Nara.
Kini Nara dan Rangga sudah berada di dalam kamar mereka.
"Nara, jangan begini Nara, tolong dengerin penjelasan aku dulu." ucap Rangga.
"Gak ada yang perlu di jelasin, semuanya udah jelas! Kamu sudah berselingkuh dari aku bahkan sampai selingkuhan kamu hamil. Itu kan alasan kamu selingkuhin aku, karena aku belum bisa kasih kamu anak?!" balas Nara.
"Udah deh Mas gak usah berkilah lagi! Apapun alasan kamu, mau kamu bilang kamu di jebak kek, mau kamu bilang kamu di guna-guna kek, mau kamu bilang kamu khilaf atau apapun itu, faktanya kamu sudah bersetubuh dengan perempuan itu dan kalian akan punya anak dan itu artinya kamu berselingkuh dari aku!" potong Nara.
"Makanya dengerin penjelasan aku dulu Nara." ucap Rangga.
__ADS_1
Nara menghela nafasnya kasar.
"Oke, silahkan beri aku penjelasan, tapi semua penjelasan kamu gak akan bisa mengubah keputusan aku!" ucap Nara lalu berjalan menuju sofa dan duduk dengan angkuhnya di single sofa dan Rangga pun ikut duduk di sofa.
"Awal kejadiannya di Medan, waktu acara peresmian pabrik elektronik Pak Adam, salah satu customer aku, aku mabuk dan diantar oleh Erika. Erika itu asistennya Pak Adam. Saat mabuk itu, aku gak inget apa-apa, tapi saat bangun aku udah seranjang sama Erika. Aku sama Erika pun sepakat untuk melupakan yang terjadi malam itu, karena aku juga gak inget apa-apa. Tapi dua bulan setelah itu Erika hubungi aku dan bilang kalau dia hamil. Jujur, saat itu aku gak yakin kalau itu anak aku jadi aku gak mau tanggung jawab. Tapi Erika ngancam aku akan kasih tau kamu kalau aku gak mau tanggung jawab. Aku bingung, aku panik, aku pun cerita sama Mama. Kenapa aku cerita sama Mama dan bukan kamu, karena aku takut kamu gak bisa nerima kesalahan aku itu, apalagi kalau kamu tahu Erika hamil, pasti kamu akan langsung berpikir kalau kamu tubuh kamu bermasalah karena gak belum hamil-hamil. Karena rasa takut aku itu makanya aku memilih untuk cerita sama Mama." Rangga menjeda sejenak kata-katanya untuk bernafas.
"Setelah aku cerita sama Mama, Mama pun menyarankan untuk tes DNA dulu, kalau memang anak itu anak aku, aku hanya akan bertanggung jawab pada anak itu tanpa perlu menikahi Erika. Tapi ternyata tes DNA saat bayi masih dalam kandungan itu sangat beresiko keguguran. Jadi aku memutuskan untuk menunggu sampai anak itu lahir baru tes DNA. Kenapa aku memilih menunggu anak itu lahir? Yang ada di pikiran aku saat itu, aku takut kalau setelah melakukan tes DNA anak itu gugur sedangkan hasil tes DNA menyatakan kalau anak itu adalah anak aku. Aku pasti akan sangat menyesal kalau sampai itu terjadi, makanya aku memutuskan untuk menunggu anak itu lahir baru tes DNA." Rangga kembali menjeda sejenak ceritanya.
"Akhirnya aku dan Mama memutuskan untuk buat surat perjanjian, tapi bukan surat perjanjian seperti yang Erika berikan sama kamu itu. Surat perjanjian antara aku dan Erika dan di saksikan Mama di pegang sama Mama. Isinya juga gak ada menyebutkan aku akan menceraikan kamu dan menikahi Erika kalau anak yang di kandung Erika itu anak aku. Intinya isi perjanjiannya, Erika boleh tinggal di Jakarta dan aku akan membiayai hidup Erika sampai anak itu lahir tapi setelah lahir dan anak itu memang benar anak aku, Erika harus pergi dan memberikan hak asuh anak itu sepenuhnya sama aku dan Erika gak boleh kembali dan mengungkit lagi masalah ini sampai kapan pun dan sebagai gantinya aku akan memberikan kompensasi sama Erika. Makanya aku menyewa apartemen yang di tempati Erika dan memberikan uang bulanan untuk Erika karena Erika itu tulang punggung, kalau dia tidak bekerja tidak ada yang mengirimkan uang untuk orangtuanya selama dia bersembunyi." Rangga kembali menjeda ceritanya.
"Dan soal video itu, aku berani sumpah Nara, aku di jebak. Dia kasih aku obat perangsang sama aku waktu itu. Erika itu pengen banget aku jenguk anak yang ada dalam kandungannya, tapi aku gak pernah mau, tapi malam itu, aku benar-benar sial sampai terjebak dalam permainan Erika. Aku juga berani sumpah kalau aku gak pernah setuju dengan surat perjanjian yang Erika tunjukkan sama kamu. Aku berani sumpah Nara, tolong percaya sama aku, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi Nara, kamu bisa kasih aku hukuman apa aja, kamu suruh aku kuras air laut atau kamu mau nyiksa aku pake ubur-ubur penyengat pun aku rela Nara asal kamu jangan ceraikan aku. Tolong kasih aku kesempatan Nara." lanjut Rangga sambil berlutut memohon di depan Nara.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...