
Setelah kurang lebih setengah jam di kamar mandi, Nara pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Penasaran apakah Rangga dan Mama Rena sudah pergi atau belum, Nara pun membuka cctv untuk melihat apakah mobil Mama Rena dan Rangga sudah pergi dari halaman rumah atau belum dan ternyata hanya mobil Mama Rena yang tidak ada lagi di halaman rumah, itu berarti Rangga masih ada di dalam rumah.
Nara hanya berdecih sambil geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju ruang ganti.
"Ngapain juga masih dirumah ini? Bukannya apartemen gundik kamu itu lebih menyenangkan!" gerutu Nara sambil berjalan menuju ruang ganti.
"Alasan di jebak, tapi berulang kali dateng kesana! Orang bego juga tau lah Mas kalau kamu itu bohong! Mana ada orang udah di jebak tetap ngedatengin orang yang ngejebak! Ketagihan kamu sama jebakannya!" Nara masih saja menggerutu begitu sampai di ruang ganti.
"Apa sih kurangnya aku Mas, sampe-sampe kamu milih perempuan kayak gitu jadi selingkuhan kamu! Kalau kamu gak tahan pengen punya anak kan tinggal bilang aja Mas sama aku, biar aku pilihin perempuan yang berkualitas untuk mengandung anak kamu! Masa iya aku disandingin sama perempuan model cireng melempem gitu!" cerocos Nara lagi sambil mengambil baju rumahannya.
Setelah memakai pakaiannya, Nara pun kembali ke ruang tidur. Karena sudah lelah dan masih banyak yang harus ia lakukan besok, Nara pun memutuskan untuk langsung tidur ketimbang harus keluar dari kamar dan mengusir Rangga dari rumah itu. Toh status mereka masih suami istri, jadi Rangga masih berhak tinggal di rumah itu.
💋💋💋
Keesokan Paginya.
Pukul 08.00
Setelah Nara berpakaian rapih dan siap berangkat kerja, Nara pun keluar dari dalam kamar.
"Pagi Sayang." sapa Rangga begitu Nara keluar dari kamar.
Nara tidak membalas sapaan Rangga dan melengos begitu saja dari hadapan Rangga.
__ADS_1
"Sayang, aku udah buatin sarapan, kita sarapan dulu yuk." ucap Rangga sambil mengekori Nara dari belakang.
Nara tetap tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan terus melangkah menuju garasi.
"Oke kalau kamu gak mau sarapan, tunggu aku masukin sarapan yang aku buat ke tupperware kalau gitu." ucap Rangga.
Lagi-lagi Nara hanya diam. Sedangkan Rangga, ia langsung berlari kedapur kemudian mengambil kotak bekal lalu memasukkan roti isi yang Rangga buatkan untuk sarapan mereka. Tak lupa juga susu WRP yang biasa Nara minum Rangga masukkan kedalam tumbler.
Setelah semua sudah siap, cepat-cepat Rangga menyusul Nara ke garasi sebelum Nara pergi.
Tapi terlambat, begitu Rangga sampai di garasi, Nara sudah melajukan mobilnya dan Rangga tidak bisa menghadangnya. Rangga hanya menghela nafasnya kasar melihat mobil Nara keluar begitu saja dari halaman rumah mereka tanpa membawa bekal sarapan yang sudah Rangga buat.
"Gak pa-pa Rangga, gak pa-pa, masih ada waktu nanti siang, nanti malam, besok, besok lusa untuk ngambil hati Nara lagi." lirih Rangga menguatkan dirinya.
💋💋💋
Kantor Nara.
Kini Nara sudah berada di kantornya.
Sesampainya di meja kerjanya, Nara langsung membuka roti yang tadi Nara beli di toko roti. Daripada ia memakan sarapan yang di buat Rangga, lebih baik ia beli roti di toko roti dan susu WRP dalam bentuk susu kotak.
"Tumben Mbak Nara sarapan di kantor?" tanya Indah.
"Iya Ndah, aku bangun kesiangan jadi gak sempet sarapan di rumah." jawab Nara.
__ADS_1
"Oh." Indah hanya membulatkan mulutnya.
"Oh iya Mbak, udah dapet balesan email dari rumah sakit yang di Singapura belum?" tanya Indah.
Astaga! Kok aku lupa yah sama urusan promil! Tapi biar ajalah, toh juga aku sama Mas Rangga mau cerai!
Gumam Nara dalam hati.
"Gak tahu juga Ndah, aku belum cek." jawab Nara.
"Cepetan di cek Mbak, terus segera atur jadwal, biar langsung program hamil." balas Indah.
"Iya Ndah, makasih yah udah ngingetin." jawab Nara yang ingin menutupi masalah rumah tangganya.
"Sama-sama Mbak." Indah pun meneruskan langkahnya menuju meja kerjanya.
Setelah roti dan susu kotak habis, Nara pun menyalakan komputernya. Awalnya Nara ingin langsung bekerja dan tidak mau tau lagi tentang hasil pemeriksaan kesehatan dirinya dan Rangga, tapi entah kenapa hati Nara terus bergejolak meminta Nara untuk membuka email yang ia pakai saat mendaftar di rumah sakit Singapura.
Karena paksaan dari dalam hatinya, Nara pun akhirnya membuka emai itu. Dan benar saja sudah ada pesan masuk dari rumah sakit Singapura.
Klik. Nara pun membuka pesan masuk yang rumah sakit Singapura kirimkan.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1