
Setelah satu jam berada di ruang observasi, Nara pun di pindahkan ke kamar rawat dimana keempat bayi-nya sudah menunggu Nara disana.
Selama di ruang observasi, pu*ing Nara di sedot untuk mengeluarkan kolostrum untuk di berikan pada si kembar.
Jadi begitu Nara sampai di kamar rawat, si kembar langsung di suapi kolostrum dengan menggunakan alat suntikan.
"Pak, sini Pak belajar suapin anaknya." pinta bidan.
Rangga pun berjalan menuju box bayi.
"Ini kolostrum yang tadi udah di pompa, satu bayi satu suntikan yah Pak." ucap bidan.
"Caranya gimana Bu bidan?" tanya Rangga.
Bidan pun mencontoh cara menyuapi kolostrum dengan suntikan, setelah itu di praktekkan oleh Rangga.
Sedangkan Nara, dia hanya bisa melihat dari ranjang dengan kesadaran yang masih diawang-awang akibat bius.
Keempat bayi pun sudah di berikan kolostrum dan sekarang keempat bayi sedang tidur pulas.
"Jadi istri saya jam berapa sudah boleh makan dan minum dok? Apa harus nunggu buang angin dulu?" tanya Rangga. Karena dulu kan peraturannya begitu.
"Gak Pak, kan operasinya memakai metode Eracs, jadi dua jam udah boleh makan, minum, udah bisa belajar duduk, belajar berdiri dan nanti delapan jam udah bisa lepas kateter. Jadi kalau Ibu-nya mau pulang besok, juga bisa." jawab dokter.
"Cepet yah dok?" kaget Rangga.
"Iya, itu metode terbaru operasi sesar, tujuannya yah untuk mempercepat pemulihan ibu pasca operasi biar ibunya bisa cepat melakukan bonding dengan anak." jawab dokter.
"Walaupun cepat, tetap saja masa nifas minimal empat puluh hari. Tapi saran dari saya enam puluh hari, tunggu rahim benar-benar kuat." kata dokter lagi.
"Iya dok, tau. Perlu banget diingetin soal itu." jawab Rangga.
Dokter terkekeh kecil mendengar jawaban Rangga.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu saya keluar dulu." pamit dokter.
"Istirahat yah Nara." ucap dokter pada Nara sambil menepuk lengan Nara.
"Iya dok, terimakasih." balas Nara dengan suara lemahnya.
Setelah dokter keluar, Rangga pun duduk di kursi sebelah ranjang. Cukup lama Rangga hanya menatap wajah Nara begitu juga dengan Nara yang hanya melihat wajah Rangga.
"Makasih yah Sayang." ucap Rangga.
Entah sudah berapa kalinya Rangga mengucapkan kata terimakasih pada Nara. Rasanya biar satu triliun ucapan terimakasih Rangga ucapkan tidak bisa membayar apa yang sudah Nara berikan padanya.
Nara hanya membalas dengan senyuman.
Ceklek. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Siapa lagi yang datang kalau bukan Mama Rena. Tapi Mama Rena datang tidak sendiri, dia datang bersama empat baby sitter yang sudah di persiapkan Rangga. Satu Minggu sebelum Nara lahiran, keempat baby sitter itu sudah ada di rumah.
"Ssst... pelan-pelan Ma, nanti si kembar bangun!" omel Rangga.
Sebelum melihat cucu-cucunya, Mama Rena menghampiri Nara terlebih dulu untuk memberi ucapan selamat pada Nara kemudian diikuti oleh keempat baby sitter yang usianya tidak jauh beda dengan Mama Rena.
Setelah memberi ucapan pada Nara, barulah Mama Rena menghampiri box bayi dan melihat dengan seksama cucu-cucu mereka.
"Anak kalian ini mukanya bener-bener perpaduan kalian berdua yah. Matanya Nara, hidungnya Rangga, rambutnya Rangga, kulitnya Nara." ucap Mama Rena.
"Ya iyalah Ma, orang bikinnya juga berdua." jawab Rangga.
"Udah punya nama buat bayi kalian?" tanya Mama Rena.
Rangga dan Nara saling pandang.
"Udah Ma." jawab Rangga lalu berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Mama Rena yang masih berdiri di depan box bayi.
__ADS_1
"Anak pertama namanya Raka Putra Wiratmaja." ucap Rangga sambil mengelus pipi anak pertamanya.
Kemudian beralih ke anak keduanya.
"Anak kedua, Rasya Putra Wiratmaja." Sambil mengelus pipi anak keduanya lalu beralih ke anak ketiga.
"Yang ketiga, Rama Putra Wiratmaja." Sambil mengelus pipi anak ketiganya.
"Dan yang keempat ini, yang paling cantik, namanya Kahiyang Putri Wiratmaja." jawab Rangga.
Sebenarnya nama untuk anak keempat baru Rangga dapatkan tadi karena Rangga dan Nara belum mempersiapkan nama untuk bayi perempuan mereka karena jenis kelamin yang belum jelas.
"Kok aku baru tau Mas?" tanya Nara.
"Baru nemu tadi." jawab Rangga.
"Namanya bagus-bagus, semoga kepribadian mereka mengikuti nama yang kalian berikan untuk putra-putri kalian." ucap Mama Rena.
Rangga kembali menghampiri Nara lalu duduk di sebelah Nara kemudian mengambil tangan Nara.
"Terimakasih Sayang. I love you." ucap Rangga lalu mengecupi punggung tangan Nara bertubi-tubi.
💋💋💋
TAMAT.
Terimakasih buat pembaca yang sudah menemani kisah rumah tangga Nara dan Rangga sampai akhir.
Jangan lupa mampir ke novel baru othor yang judulnya Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang.
Ini cerita tentang Gandhi. Inget Gandhi kan?
Kita ketemu disana yah sayang-sayang ku.
__ADS_1
...💋 Sarangbeo 💋...