
Adrian sudah bersiap-siap pulang. Seharusnya Adrian tidak perlu bermalam dirumah sakit. Namun Arumi bersi keras agar Adrian tetap dirawat apa lagi ia melihat bintik merah ditangan dan di kaki Adrian yang belum hilang.
"Kamu ikut ya kerumah." Ucap Adrian lembut.
"ikut ya kerumahku, dasar modus." Cibir dokter Randi.
Adrian berbalik dan menatap tajam Randi. sementara yang ditatap hanya cengir tanpa dosa.
"Pis jangan marah, nanti jodohnya jauh." Goda Randi membuat Adrian semakin melototinya. Sementara Bram hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Absurd Randi.
Adrian sudah berada di dalam mobil bersama dengan Arumi dan disupiri oleh Bram. Sementara Randi tetap berada dirumah sakit karena ia akan mengoprasi pasiennya sekitar jam 10:00.
"Kak... " Panggil Arumi yang membuat Adrian menoleh kearahnya.
"Iya ada umi" Ucap Adrian lembut.
"Umi.... "
"Iya itu panggilan kesayanganku buatmu."
"Kak, apa masih ada pekerjaan diperusahaan kakak. Biarpun Cleaning servis tidak apa-apa." Ucap Arumi serius.
"Ada, kamu bisa jadi sekretaris ku bantu Bram dikantor." Ucap Adrian yang membuat Arumi kaget.
__ADS_1
"Tapi.... "
"Tidak ada tapi-tapian, aku tahu kamu lulusan terbaik di kampusmu dan kamu juga ambil jurusan Bisnis. Dan tidak mungkin kan kamu tidak bisa kerja sebagai sekretarisku." Ucap Adrian panjang lebar dan kaget mendengar penuturan Adrian kalau ia pernah kuliah bahkan mantan suaminya pun tidak tahu.
"Dari mana kamu tahu semua itu." Tanya Arumi dengnan mata mendelik.
"Itu hal mudah untukku Umi mencari tahu tentangmu." Ucap Adrian menyombongkan dirinya.
"Iye deh Sultan ma bebas." Cibir Arumi.
Tak terasa perjalanan begitu cepat sampai di Mansion mewah Adrian. Karena Arumi tidak berhenti bicara dan Adrian suka itu.
"Mau minum apa umi." Tanya Adrian yang dijawab Arumi dengan gelengan.
Drrrrttt... Drrrrttt...
"Mas Rizal, buat apa ia menelpon ku" Guman Arumi menatap nama suaminya tertera di layar handphonenya yang sudah tinggal jaman.
"Hallo Mas." Ucap Arumi pada sebrang telpon."
"Arumi sebentar Sore kamu datang kekafe Mutiara 123." Ucap Rizal yang masih terdengar angkuh ditelingah Arumi.
Arumi menghela nafas panjang "Baik Mas."
__ADS_1
"Siapa yang nelpon umi?" Tanya Adrian.
"Kak ngagetin ajah." Arumi memegang dadanya karena kaget mendengarkan suara Adrian yang briton dibelakangnya.
"Siapa yang nelpon umi?' Tanya Adrian lagi. Walaupun ia sudah tahu siapa yang menelpon Arumi. Cuma ia mau mendengar langsung dari mulut Arumi.
" Mantan Suamiku Kak, ia mengajak aku ketemuan di kafe Mutiara 123."
"Kamu mau menemuinya." Ucap Adrian yang diangguki Arumi.
"Biar aku yang temani kamu kekafe."
"Tidak usah kak, apa lagi kaka baru sembuh." Cegah Arumi karena ia masih khawatir dengan kondisi Adrian.
"Aku akan tetap temenin ku. kalau kamu tidak pergi bersamaku kamu juga tidak boleh pergi." Ucap Adrian tegas dan tidak mau dibantah.
"Baiklah Kak." Pasrah Arumi.
"Tuan Makanannya sudah siap dimeja makan." Ucap pelayang itu dan sedikit menunduk."
"Hmmm" Adrian hanya menjawabnya dengan hmmm. Pelayan itu sudah terbiasa mendengar tuannya berbicara datar atau hanya mengeluarkan satu kata dari mulutnya.
"Ayo Umi kita makan dulu, Bibi sudah memasakkan makanan untuk kita." Ucap Adrian lembut dan menggandeng tangan Arumi menuju ke meja makan.
__ADS_1
Pelayan di mansion Adrian hanya menatap iri Arumi karena bisa berdekatan dengan pemilik rumah yang tampan dan susah didekati.