
Setelah mendengar Adrian masuk Rumah sakit dari Asistennya. Ia pun menyuruh Bram menunggunya sebentar. Setelah Bram masuk dan duduk, ia pun berlari masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia hanya memoles Bedak Baby pada wajahnya dan memakai pelembab bibir di bibirnya agar tidak terlihat pucat. Ia keluar dari kamarnya dan melihat Bram yang masih setia menunggunya.
"Ayo tuan kita berangkat." Ucap Arumi pada Bram.
"Nona jangan memanggilku Tuan, nona panggil namaku saja Bram." Ucap Bram.
"Baiklah." Ucap Arumi pasrah.
Bram berjalan dan membukakan pintu mobil untuk Arumi. "Silahkan masuk Nona."
Setelah Arumi masuk kedalam mobil. Bram juga masuk ke dalam mobil di bagian kemudi dan ia menjalankan dengan kecepatan sedang kearah rumah sakit tempat Adrian di rawat.
Sesampainya dirumah sakit Bram turun dari mobil untuk membukakan pintu Arumi, namun Arumi lebih dulu membuka pintu mobil.
"Ayo Nona, aku antar ke kamar Tuan Adrian dirawat." Ucap Bram yang diangguki Arumi.
Bram berjalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan yang diikuti Arumi dibelakang Bram.
Sementara Adrian kesel menunggu Asisten nya yang begitu lama menjemput Arumi. Adrian terus melihat pintu masuk berharap Bram sudah datang membawa wanitanya ke hadapannya.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat nya tersenyum lebar.
"Masuk" Ucap Adrian semangat. Namun ketika melihat orang masuk kedalam ruangannya, ia harus menelan kekecewaan karena bukan orang yang ia harapkan datang.
"Kenapa itu muka, ngga enak banget dilihatnya." Ucap Dokter Randi.
"Ngapain lo kesini?" Ucapnya ketus.
"Ya mau lihat pasienkulah." Balas Dokter Randi.
"Bagaimana keadaanmu, apa gatalnya sudah hilang?" Tanya Dok Rendi Pada Adrian.
"Ya seperti yang lo lihat." Ucapnya lagi dan masih ketus karena orang yang ia tunggu-tunggu belum datang juga.
Tok Tok Tok
"Bram, kamu udah datang." Sapa Dok Rendi pada Bram yang baru datang sementara Adrian mencari seseorang yang ia tunggu dari tadi namun ia tidak melihatnya.
"Bram, mana Arumi?" Tanya Adrian menatap tajam Bram yang membuat Bram susah paya menelan salivanya ketika melihat Tuannya menatap kearahnya.
"Maaf Tuan.... "
__ADS_1
"Apa Bram, kamu tidak membawanya kesini." Marah Adrian yang wajahnya sudah memerah seakan siap meledak."
"Bukan begitu Tuan, Tapi.... "
"Tapi apa Bram, kenapa kamu tidak menjalankan perintah ku." Ucap Adrian geram pada Asistennya.
"Assalamu'alaikum." Ucap seorang perempuan cantik di depan pintu ruang rawat Adrian.
"Kamu datang bersamanya Bram." Ucap Adrian pelan yang diangguki Bram.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, akukan tidak usah marah-marah sama kamu Bram." Ucap Adrian tanpa dosa.
"Astaga Tuan, dari tadi aku mau bilang, tapi Tuan selalu memotong perkataanku." Ucap Bram dalam hati.
Sementara Arumi berjalan di Brankar Adrian dan ia melihat badang Adrian penuh dengan bintik-bintik merah.
"Bagaimana keadaanmu." Ucap Arumi lembut.
"Aku udah baikan, mungkin besok baru bisa pulang." Ucap Adrian lembut membuat Dok Rendi menganga mendengar Adrian bebucara lembut seorang wanita. Bahkan ketika Adrian menyentuh Arumi tidak ada menimbulkan gejalah aneh dibadangnya bahkan elerginya tidak kambu.
"Alhamdulillah kalau kaka udah baikan. Oh iya aku udah belikan kaka makanan dikantin rumah sakit. Kaka makan dulu ya. Ucap Arumi yang diangguki Adrian.
__ADS_1
Arumi membuka bubur yang ia beli dirumah sakit dan ia pun menyuapi Adrian sampai makanan itu habis.