Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Kesan Baru


__ADS_3

Zea nampak terkejut saat melihat kedatangan gue. Selain terkejut, ekspresinya berubah seperti kurang suka dengan keberadaan gue. Apa kedatangan gue saat ini kurang tepat?


"Kak Eza ngapain di sini?"


For your information, saat ini gue lagi ada di sebuah panti asuhan tempat di mana Zea sedang melakukan acara amal. Gue kurang yakin sih ini disebut acara amal atau bukan, karena tidak ada wartawan atau bahkan tim dokumentasi. Gue tahu keberadaan Zea di sini karena Instastory dia yang kebetulan gue kenali itu ada di mana, makanya gue tahu.


Gue datang tanpa diundang atau tanpa pemberitahuan, jadi wajar kalau Zea kaget tapi emang tujuan gue itu, mau kasih dia surprise gitu ceritanya. Tapi sepertinya ini di luar plan.


Gue garuk-garuk kepala salah tingkah. "Mau bantu-bantu sih rencananya, tapi kayaknya di sini udah cukup ramai, ya?"


Zea mengangguk. "Enggak perlu, Kak, kita cukup orang, lagian yang kita bagiin nggak sebanyak itu sampe butuh bantuan Kak Eza. Jadi saran aku mending Kak Eza langsung pulang aja, mumpung belum ada orang yang menyadari keberadaan Kakak."


Ini usiran tegas? Gue bener-bener diusir dan nggak boleh di sini kah? Tapi kenapa? Salah gue apa?


"Aku diusir?"


Zea menatap gue datar lalu mengangguk cepat.


"Aku nggak mau terlibat berita yang enggak-enggak dengan Kak Eza. Udah cukup, Kak, aku nggak bisa. Jadi demi kebaikan bersama, saran aku mending Kak Eza pergi sekarang."


Gue jadi merasa bersalah. Mungkin memang gue yang salah karena datang tiba-tiba tanpa memberitahu. Tak ingin protes, gue pun mengangguk paham lalu pamit pergi. Namun, tepat saat badan gue berbalik dan kaki ini baru melangkah dua kali, ada yang memanggil nama gue.


"Eh, bukannya itu Kak Eza? Eza Shariq kan?"


Spontan gue menoleh ke asal suara sambil meringis canggung lalu menyapa yang memanggil gue.


"Hai!"


Perempuan yang memanggil gue itu langsung berseru heboh. "Wah, bener, iya, ini Kak Eza Shariq. Ya ampun, abis mimpi apa gue semalem bisa ketemu artis top."


Gue melirik Zea ragu-ragu. Perempuan itu nampak melotot dan mengkode agar gue cepat pergi. Namun, seolah tidak punya rasa takut, gue langsung berjalan menghampiri perempuan itu dan menyapanya dari dekat.


"Hai, ini beneran aku Eza Shariq. Nama kamu siapa?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, perempuan itu malah kembali memekik heboh sambil lompat-lompat tidak jelas. Hal ini tentu saja menarik perhatian sekitar. Jujur gue agak kaget saat melihatnya. Lalu tak lama setelahnya gue dikerumuni banyak orang sampai gue sendiri merasa kewalahan. Tubuh gue ditarik-tarik, pipi gue dicubit gemas dan itu cukup sakit, bahkan gue hampir jatuh karena belum siap.


Gue menoleh ke arah Zea, bermaksud meminta pertolongan tapi perempuan itu malah melengos pergi dan melanjutkan kegiatannya dan pergi begitu saja.


Gue melongo tidak percaya. Sedikit melamun membuat gue akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Buset, ini anak-anak panti kekuatannya nggak main-main juga ya, gue sampe kalah begini. Tapi untung tak lama setelahnya ada seorang pria datang dan membantu gue keluar dari kerumunan.


"Ayo, anak-anak yang tertib! Enggak boleh dorong-dorongan kasian itu Kak Eza-nya sampe jatuh loh, nanti kalau Kak Eza kenapa-kenapa kalian mau kalau disuruh tanggung jawab?"


"Enggak, Kak, udah nggak boleh pada ribut dan dorong-dorongan lagi, bentar lagi Kak Zea mau ajarin kalian cara bikin kue yang enak. Yuk, semua siap-siap!" intruksi pria itu dan secara ajaib semua anak-anak itu langsung menurut dan berhamburan pergi begitu saja.


Jujur, gue nggak bisa untuk nggak takjub saat melihatnya.


"Sorry, ya,maafin mereka. Lo nggak papa kan?" tanya pria itu.


Gue mengangguk paham karena kalau boleh jujur, emang udah biasa. Kebanyakan kalau orang sudah menotice kalau itu gue, yang akan gue alami ya begini. Ditarik-tarik, didorong-dorong, dicubit-cubit, bahkan kadang sampe kecakar juga kalau lagi apes.


"It's okay, salah gue juga sih kayaknya."


"Eza." Gue balas menjawab tangan pria itu.


"Iya, gue tahu. Eh, bentar, itu tangan lo kayaknya luka deh, coba gue cek." Pria yang memperkenalkan diri sebagai Zidan itu memeriksa lengan gue yang sedikit tergores, tidak dalam memang goresannya tapi lumayan lebar, "bentar, gue panggil Zea dulu, ya, buat bantu obati."


Gue langsung menggeleng cepat. "Eh, nggak perlu, lagian ini cuma kegores dikit."


Meski sebenarnya gue pengen modus, tapi kala mengingat pelototan mata tajamnya tadi, gue jadi agak ngeri juga kalau diobati Zea nantinya.


"Tapi ini lukanya agak lebar, mana kotor lagi, ntar kalau nggak dibersihin terus diobati yang ada bisa infeksi."


Tanpa menunggu jawaban gue, Zidan langsung pergi begitu saja. Butuh waktu sedikit lama dari perkiraan gue, Zea akhirnya datang dengan ekspresi cemberutnya.


"Kalau cuma mau ngerepotin orang kenapa ke sini sih?" ketusnya dingin.

__ADS_1


Eh, ke mana senyum ramahnya yang biasa gue lihat? Ini baru pertemuan ketiga kalau tidak salah, dan ini adalah pertama kalinya gue mendapati raut wajah yang tidak biasa, yang Zea tampilkan. Tunggu, sebentar, ini bukan sifat aslinya kan? Maksud gue yang biasa ditunjukkan bukan senyum palsu?


"Emang belum puas ya, Kak?"


"Ini gue abis bikin salah atau emang begini sifat asli kamu?"


"Sifat asli aku nggak perlu kamu tahu, Kak. Intinya begitu aku selesai obatin luka Kak Eza, Kak Eza bisa pergi."


"Kalau gue nggak mau?"


"Apa?"


"Gue penasaran deh sama lo, selama beberapa kali kita bales-balesan DM terus kita ketemu dua kali, menurut gue, lo bukan orang yang cuek ketus gini deh. Tapi kenapa hari ini tiba-tiba jadi begini."


"Kak Eza tanya aja sama fans-fans Kakak."


Fans gue?


"Maksudnya?"


Gue menatap Zea tidak paham. Perempuan itu berdecak sambil menekan keras luka gue, hal itu membuat gue mengaduh kesakitan.


"Aw... aw... sakit, Ze, pelan-pelan dong!"


Zea tidak membuka suara dan hanya fokus membersihkan luka gue, bedanya kini gerakannya kembali melembut.


"Meski gue nggak tahu apa yang udah dilakuin fans gue ke lo, atas nama mereka gue mau mewakili untuk minta maaf, ya. Sorry, kalau mereka udah nyakitin kamu, baik itu disengaja atau enggak."


"Udah selesai, Kak, Kak Eza bisa pergi," ucapnya mengabaikan kalimat gue setelah ia selesai memasang plaster anti air pada luka gue.


"Gue ke sini mau bantu-bantu loh padahal," ucap gue jujur.


"Enggak perlu," tolak Zea dengan suara lembutnya, "Kak Eza bisa pergi sekarang," sambungnya langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Gue hanya mampu menghela napas sambil menatap punggung Zea yang kian menjauh. Decakan samar terdengar tak lama setelahnya. Abis bikin salah apa sih gue sampai diginiin?


__ADS_2