Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Ketemu Lagi


__ADS_3

Otomatis gue langsung tersenyum saat melihat keberadaan Emma di antara kerumunan. Kalau bukan karena sedang mode berbaikan dengan Barra tidak mungkin perempuan itu berada di sini. Sepertinya benar tebakan Vero kemarin, kalau keduanya kini sudah mode balikan.


Gue menyapa beberapa rekan sesama artis yang lain dulu sebelum akhirnya menyapa Barra dan juga Emma. Hari ini agensi lagi ngadain party kecil-kecilan gitu ceritanya dalam rangka mempererat kekompakan tim, katanya. Entah lah, Barra emang kalau lagi seneng suka ngadain party tiba-tiba dan gue rasa party yang diadakan malam ini dalam rangka kesenangannya sih, mungkin karena berhasil balikan sama mantan makanya ngadain party. Jadi beberapa aktris maupun aktor datang untuk berkumpul.


"Officially nih," goda gue sambil menjabat tangan Barra.


Pria itu mengerutkan dahi tidak paham. "Apanya?" tanyanya seperti orang kebingungan.


Gue kemudian menunjuk ke arah Emma yang lagi asik ngobrol dengan salah satu karyawan perusahaan.


"Enggak. Dia mau gabung aja."


"Lah?" Gue menatap Barra tidak paham, "maksudnya gimana tuh?"


"Ya, gue sama Emma belum resmi balikan. Putus nggak harus menjadikan kami musuhan kan? Dia tetap yang spesial, kita tetap berteman, dan yah, seperti yang lo liat. Gue sama Emma, ya kayak gue sama lo atau Vero juga. Enggak ada yang berubah." Barra kemudian langsung mengkoreksi kalimatnya sendiri, "ya, mungkin yang beda udah nggak bisa seintim dulu aja sih."


Gue masih loading. Mereka belum balikan tapi keliatannya udah kayak orang pacaran lagi?


"Udah nggak usah lo pikirin. Untuk sementara gue sama Emma nggak mau mikirin status hubungan kami. Kita sama-sama mau introspeksi diri sendiri sebelum nanti lanjut ke tahap serius."


Mendengar jawaban Barra, gue tidak mampu berkomentar apapun selain mengangguk paham. Meski sebenarnya kalau boleh jujur, gue ya nggak paham-paham banget sama mereka berdua. Menurut gue mereka kurang jelas, aneh, tapi ya sudah lah, gue nggak punya hak untuk menghakiminya, biarkan mereka melakukan yang terbaik versi mereka sendiri. Gue sebagai sahabat bantu dukung saja lah semoga keduanya sama-sama menemukan jalan terbaik, entah itu harus bersama atau harus berpisah.


Karena gerah, gue memutuskan untuk melepas jaket.


"Tangan lo kenapa?" tanya Barra khawatir.


"Abis jatuh," jawab gue santai.


Barra langsung melotot marah. "Kok bisa? Jatuh dari mana? Kapan?"


Gue terkekeh sebentar sebelum menjawab. Barra memang begini kalau sudah menyangkut artisnya. "Kemarin. Enggak papa, cuma lecet dikit kok."


"Terus kenapa sampe dikasih plaster gitu?"


Gue berpikir sejenak. Dalam hati kemudian menjawab, karena yang pasangin Zea makanya gue biarin masih terpasang. Tapi kayaknya nggak mungkin gue jawab gitu, bisa diamuk Barra ntar gue.


"Ya, karena biar nggak kena air," jawab gue pada akhirnya.


Barra nampak tidak puas dengan jawaban gue. "Ekspresi lo mencurigakan," komentarnya kemudian.

__ADS_1


Gue langsung tertawa sumbang. "Apaan sih? Curigaan mulu kerjaan lo."


Barra menghela napas lalu duduk di salah satu kursi. "Lo tahu kan, kalau diri lo itu aset perusahaan?"


"Emang gue iya?"


Barra berdecak sambil menatap gue datar.


"Iya, iya, bercanda doang. Biasa aja kali."


"Tapi gue serius. Lo sebagai aset perusahaan harus lebih hati-hati dalam menjaga diri, kalau lo kenapa-kenapa perusahaan juga yang rugi. Lo paham kan? Bahkan nggak cuma perusahaan doang yang rugi, Za, tapi diri lo sendiri juga. Jadi, gue harap lo lebih hati-hati jangan sembarangan ketemu banyak orang dan bikin lo kenapa-kenapa! Masa bodo kalau orang mau bilang cinta itu buta atau apapun, karena pada realitanya otak dan logika mesti harus jalan meski lo lagi jatuh cinta. Paham?"


Mulut gue seketika terkunci rapat. Mampus gue sebenernya ini udah ketahuan gitu?


"Za, jawab! Jangan cuma diem aja!"


"Iya, iya, gue bakalan lebih hati-hati ke depannya. Lo nggak perlu khawatir!"


"Gue ngomong begini bukan sebagai atasan lo doang, tapi karena lo itu sahabat gue juga, Za."


"Iya, iya, bisa berhenti bawel?"


Barra mengangguk setuju. "Ya udah, lo bisa gabung sama yang lain. Tapi inget jangan minum! Lo harus nyetir ntar buat pulang."


***


"Kak Eza ngapain di sini?"


Mendengar nama gue disebut, reflek gue menoleh. Kedua mata gue membulat kaget saat menemukan Zea berdiri di samping gue. Nada bicaranya tidak terdengar ketus tapi juga tidak terdengar lembut seperti sebelumnya pas awal-awal gue ketemu dia.


"Nyari makan," jawab gue dengan wajah bingung.


Serius gue nggak bohong, atau emang lagi dalam rangka modus. Gue datang ke sini karena pure pengen makan nasi padang. Kebetulan tempat ini menjadi tempat langganan gue kalau lagi pengen makan nasi padang.


Kedua mata Zea menyipit curiga.


Gue langsung mengangkat kedua jari gue membentuk huruf V. "Serius demi Allah, gue bahkan nggak tahu kalau lo ada di sini."


Kalau Zea tadi nggak menyapa duluan, gue mungkin nggak akan tahu kalau perempuan itu ada di sana. Karena fokus gue dari tadi sedang asik dengan ponsel.

__ADS_1


"Lo sendiri ngapain di sini?" gue kemudian garuk-garuk kepala salah tingkah, "ah, cari makan juga sih ya, pasti."


"Biasa kan ya, Mas Eza?" tanya sang pelayan, "mau bungkus apa makan di sini, Mas?" lanjutnya kemudian.


Gue menoleh ke arah Zea. "Kamu makan di sini apa bungkus, Ze?"


"Mbaknya bungkus, Mas, mau bungkus juga?"


Gue langsung mengangguk untuk mengiyakan.


"Oke, kalau bungkus bentar ya, Mas, antri. Silahkan duduk dulu, soalnya pesenan Mbaknya banyak."


Gue mengangguk sekali lagi karena tidak merasa itu sebuah masalah. Lumayan lah bisa modus ke Zea.


"Lagi beliin makan buat karyawan?"


Zea mengangguk dua kali sebagai tanda mengiyakan. "Soalnya mau lembur jadi aku beliin."


Gue mengangguk paham. "Kayaknya lagi banjir orderan nih."


"Ya, lumayan, Kak." Zea menoleh ke arah gue sekilas, "Kak Eza kenapa beli makan sendiri?"


Gue terkekeh. Merasa sedikit lucu dengan pertanyaan perempuan ini. "Emang harusnya nyuruh siapa?"


"Go-Food? Manager? Asisten?"


Gue tertawa. "Sekalian pulang, masa mau pesen Go-Food?"


"Jam segini udah pulang? Enak banget," komentar Zea terlihat seperti orang yang sedang merasa iri.


"Enak nggak enak sih, soalnya kan jam kerja aku nggak tentu. Kadang emang pulang sore, kadang nganggur bebas nggak ada kerjaan, kadang juga berangkat pagi pulang pagi juga."


"Hehe, iya juga sih."


"Lo udah nggak kesel sama gue?"


"Dikit sih sebenernya, cuma setelah aku pikir-pikir bukan sepenuhnya salah Kak Eza juga, jadi aku nggak punya hak buat marah-marah ke Kakak."


"Kalau boleh tahu apa yang bikin kamu kesel ke gue?"

__ADS_1


**Tbc,


maafkan kelabilan panggilan Eza ke Zea ya, yang kadang pake lo-gue kadang aku-kamu🙏**


__ADS_2