Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Curhat


__ADS_3

"Ini gue, Za."


Ingin rasanya gue mengumpat kasar saat tahu siapa yang menelfon. Gue hapal betul pemilik suara ini. Anjir bener lah, gue udah deg-degan ngarep yang iya-iya, dikit, eh, tahunya yang nelfon Kak Isa. Iya, benar kakak sulung gue.


"Kenapa sih, Kak? Ganggu orang tidur aja," gerutu gue menahan kesal.


"Ya elah, galak banget sih lo, mentang-mentang lagi di Jogja, sombong lo kek artis!"


Gue langsung mendengus. "Emang gue artis kali, cuma gue sombongnya ke lo doang, Kak. And by the way, gue udah nggak di Jogja. Gue udah di Jakarta."


"Hah?! Apa lo bilang? Udah di Jakarta gimana? Jangan bercanda deh, Za! List yang gue kirim aja belum lo baca, enak aja lo bilang udah nggak di Jogja."


Spontan gue langsung menjauhkan telinga gue saat mendengar teriakan Kak Isa. Emang dasar ya, ini perempuan satu. Bener-bener deh.


"Mau bukti?" tantang gue.


"Lo seriusan udah nggak di Jogja? Kok bisa?"


Gue menghela napas. "Ya, bisa lah, Kak, gue ke Jogja cuma buat kerja doang. Promosi film, Jessie aja nggak ikut kok. Malam ini gue udah ada schedule lagi jadi ya hari ini udah harus di Jakarta."


"Terus daster batik gue gimana?"


Astaga, malah mikirin daster. Dasar emak-emak.


"Bukan urusan gue, lo bisa dateng sendiri ke Jogja atau beli online. Udah gue tutup."


Tanpa menunggu Kak Isa membalas, gue langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Di samping gue Mas Tito terkekeh.


"Siapa? Kakak sulung lo? Nitip dibeliin apa emang?"


Gue mengangguk dan mengiyakan. Lalu membuka pesan yang sempat Kak Isa kirimkan tadi, ternyata list-nya panjang juga.


"Banyak. Tapi yang paling bikin dia sedih karena nggak gue beliin daster batik."


Padahal koleksi daster batik dia tuh udah banyak, karena tiap ada kenalannya yang bisa ia suruh beliin, pasti bakalan langsung dia suruh. Cuma emang dasar Kak Isa itu tipikal emak-emak sejati yang sangat suka memakai daster jadi begitu deh.


"Kakak lo itu emang beneran kolektor daster batik sejati ya?"


Sambil terkekeh gue mengangguk dan mengiyakan. Memang begitu lah kelakuannya. Mau heran tapi dia kakak gue.


***


Kak Luna nampak kaget saat membuka pintu gerbang dan menemukan gue di sana. Gue tersenyum tipis sambil melambaikan sebelah tangan untuk menyapanya.


"Lah, kok udah di sini? Bukannya semalem masih di Jogja?" tanyanya heran. Ia kemudian mempersilahkan gue masuk setelahnya.


"Naik pesawat cepet, Kak."

__ADS_1


Kak Luna terkekeh lalu mengangguk setuju. "Kenapa nggak liburan dulu sih? Kan lumayan," komentarnya kemudian. Kami berjalan beriringan masuk ke dalam rumahnya.


"Enggak bisa, ntar malem udah ada kerjaan."


"Ya ampun, kasian banget adik aku. Kerja sampai begini nyariin siapa sih?"


Gue tertawa. "Ya nyariin diri sendiri lah, emang mau nyariin siapa lagi?" dengus gue kemudian.


Gue langsung menghempaskan tubuh gue di sofa begitu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Kak Luna berbelok menuju dapur, gue tebak buat ambilin gue minum sih.


Nah, bener kan. Begitu kembali sudah membawa segelas air putih dingin lalu menyerahkannya pada gue. Dengan perasaan senang gue langsung menerimanya, tak lupa sambil mengucapkan terima kasih.


"Makasih kakak terbaikku," cengir gue sebelum menegak air minumnya hingga setengah.


"Udah makan belum?"


Gue menggeleng sedih. "Belum, Kak."


"Aku ambilin, ya?" tawarnya kemudian. Kak Luna berniat kembali ke dapur, namun, gue cegah.


"Ntar aja lah, Kak. Biar aku ambil sendiri."


Kak Luna mengangguk paham lalu duduk di sebelah gue. "Kenapa sih? Tumbenan banget baru pulang langsung ke sini, mau nemuin ponakan kamu kan nggak mungkin dateng jam segini. Soalnya jam segini mereka masih pada sekolah."


"Eza lagi pusing nih, Kak. Butuh saran kakak."


Gue menghela napas panjang. "Kak Luna tahu kan kalau aku lagi dijodohin gitu sama fans-fans aku."


"Tahu, hobi fans sekarang gitu ya," komentar Kak Luna sambil terkekeh geli, "ada-ada aja."


Gue ikut terkekeh geli tak lama setelahnya sambil mengangguk setuju. "Iya, ada-ada aja ya, Kak."


Kak Luna menatap gue sebentar lalu bertanya. "Terus masalahnya apa?" tanyanya heran.


Bukannya langsung menjawab, gue malah meringis dan garuk-garuk kepala. Agak bingung juga mau gimana bilangnya.


"Aku kayaknya beneran naksir deh."


"Sama siapa?"


"Yang dijodohin ke aku, Kak. Rasanya dia kayak tipe aku banget gitu loh."


"Yang jadi lawan main kamu di film terbaru?"


Gue langsung menggeleng cepat. "Bukan, Kak, yang punya toko kue."


Kak Luna tidak langsung merespon. Otaknya berpikir sejenak, sepertinya mulai menebak siapa yang gue maksud.

__ADS_1


"Itu loh, Kak, yang pas Kak Luna minta aku ambil kue. Kue Albirru."


"Zea?" tebak Kak Luna ragu-ragu.


Namun, gue dengan cepat langsung mengangguk dan membenarkan.


"Terus masalahnya apa? Kenapa kamu bingung? Dia baik kok, Za, harusnya nggak sampai bikin kamu bingung."


Bibir gue merengut sedih. "Kakaknya nggak terlalu suka sama profesi aku."


"Zidan?"


Gue melotot kaget. "Kok Kak Luna kenal?"


"Aku kenal Zea-nya dari Zidan. Dan menurut aku Zidan bukan tipe yang begitu deh, Za." Kak Luna menggeleng tidak percaya dengan cerita gue.


Gue menghela napas. "Ya emang Zidan nggak terlalu mempermasalahkan banget sih, Kak, tapi Kaka Luna tahu nggak Zidan minta apa?"


Kak Luna menaikkan alis bingung. "Minta apaan emang?"


"Nikahin Zea. Kan kesannya kayak ngekode biar aku mundur langsung. Ini posisinya kita belum yang kenal-kenal banget loh, Kak."


Kak Luna terkekeh dengan ekspresi meledek. "Lah, itu sih emang dasar kamu aja yang su'udzon. Nih, ya, Za, aku kasih tahu Zidan begitu tuh cuma buat ngetes keseriusan kamu. Wajar lah, dia itu keluara satu-satunya Zea, udah sepatutnya dia selektif. Dia pasti mau yang terbaik buat adiknya, nggak mau lah kalau kamu-nya main-main doang."


Gue mengkerutkan dahi heran saat mendengar penjelasan Kak Luna. Maksud dari keluarga satu-satunya apa? Emang ke mana kedua orang tuanya?


"Maksud Kak Luna?" tanya gue bingung.


"Zea dan Zidan itu yatim piatu, kedua orang tuanya udah meninggal pas mereka masih kecil. Terus mereka diurus sama Pakde dan Bude-nya."


Gue diam saja karena masih shock.


"Jadi sekarang kamu ngerti kan kenapa Zidan begitu? Dia cuma pengen yang terbaik buat adiknya, Za. Kalau jadi Zidan aku juga bakalan begitu. Toh, pacaran itu dilarang dalam agama kita. Kamu inget aku? Aku sebelum menikah sama Mas Irwan nggak pacaran dulu, Za. Kita juga awalnya nggak kenal-kenal banget kan?"


Gue diam sebentar lalu mengangguk membenarkan. "Tapi itu kan Kak Luna, bukan aku."


"Ya, emang bukan, tapi yang menikah tanpa pacaran kan nggak cuma Kakak aja kan?"


Gue diam sambil berpikir serius. Benar juga sih, tapi tetap saja perasaan ragu-ragu itu tetap masih ada.


Saat sedang asik dengan pikiran sendiri, tiba-tiba ponsel gue berbunyi. Nomor tidak dikenal lagi? Astaga, Kak Isa?


Gue berdecak kesal lalu menjawab panggilan tersebut.


"Astaga, Kak, mau apa lagi sih?"


"Hah, Kak Eza, ini aku?"

__ADS_1


Tubuh gue seketika langsung menegang. Suara ini?


__ADS_2