
Saat Zidan masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut dengan semerbak wangi aroma opor ayam. Ia kemudian melirik arlojinya, sudah pukul sepuluh kurang lima belas menit. Ia baru saja pulang shift sorenya tapi kenapa sang adik masih memasak? Cepat-cepat ia melangkah menuju dapur mereka dan betapa terkejutnya dia saat menemukan sang adik masih mengenakan pakaiannya yang tadi pagi, sedang sibuk di depan kompornya.
"Astagfirullah, Dek, kamu juga baru pulang?"
Zea menoleh ke arah sang kakak sebentar lalu kembali mengaduk masakannya. "Enggak, udah lumayan agak tadi kok." ia menggeser tubuhnya untuk mengambil sendok, yang ia gunakan untuk mencicipi hasil masakannya, "cobain dulu, Mas!" ucapnya sambil menyodorkan sepucuk sendok kuah opor masakannya.
"Tambahin air sedikit," ucap Zidan setelah selesai mencicipi, ia kemudian menyerahkan sendok itu kembali ke sang adik, "udah dibilang kalau masak itu jangan asin-asin, bikin darah tinggi juga."
"Astagfirullah, Mas, segini masih keasinan juga? Padahal menurut aku belum ada rasa loh ini."
Zidan langsung melotot tajam. "Itu emang dasar kamunya yang mau makan garam. Udah dibilangin berapa kali sih, kamu itu jangan terlalu suka asin, ingat segala sesuatu yang berlebih itu tidak baik. Udah lah, sekarang kamu mandi, biar ini aku yang terusin!" perintahnya berniat meraih spatula yang dipegang Zea. Namun, dengan gerakan tak kalah gesit gadis itu menghindar agar spatula nya masih tetap di tangan.
"Mending Mas Zidan yang mandi, aku selesaiin ini terus kita makan bareng. Mas Zidan baru antiseptik," ledek Zea sambil menjepit hidung manjungnya.
"Aku masih mending bau anti septik, lah kamu? Bau keringet, Dek, udah buruan kamu mandi dulu sana!"
Zea tidak mau kalah. "Nah, justru karena aku bau keringet sekalian. Jadi mending Mas Zidan mandi duluan!"
Zidan menunjuk Zea dan dirinya secara bergantian. "Aku sama kamu tuaan siapa?"
"Mas Zidan."
"Berarti siapa yang harus nurut siapa?"
Zea langsung melotot tidak terima. "Siapa yang bikin konsep begitu?" balasnya tidak terima.
"Aku. Mau apa kamu?"
Bibir Zea langsung merengut kesal. Ia kemudian mematikan kompor lalu sedikit menarik jilbab pashmina-nya. "Ya udah gini aja, kita makan dulu abis itu baru mandi lah. Toh, kamar mandi kita kan nggak satu buat gantian," ucapnya final.
__ADS_1
Zidan terkekeh geli. "Masa makan dulu baru mandi, kebalik lah, Dek."
"Makan dulu lah, Mas, biar nggak usah sikat gigi lagi. Yuk, ah, makan!" ajak Zea kemudian, "buruan Mas Zidan ambil nasinya."
"Ambil sendiri-sendiri lah, Mas mana tahu porsi makan kamu kalau jam malam begini."
Ia kemudian bergerak menuju rak piring untuk mengambil nasi. "Ada sambal nggak, Dek? Atau cabe gitu?"
"Ada. Bentar, kemarin aku abis dikirimin gitu sama salah satu temen, tapi sambel cumi, Mas. Mau nggak?"
Zidan langsung mencegah sang adik. "Enggak usah, aku makannya pake cabe aja."
Zea mengangguk paham lalu urung mengambil sambal yang ia maksud. Ia kemudian memilih untuk bergerak mengambil nasi. Lalu makan bersama sang kakak.
"Kak, katanya Bude sama Pakde mau ke Jakarta loh," ucap Zea sebelum menyuap nasinya.
"Kapan?"
Zidan mengangguk paham. "Ya udah, nanti kalau mereka udah sampe di Jakarta suruh ngabarin aja biar Mas jemput."
Mendengar kalimat sang kakak, Zea langsung mencibir. Sok bisa banget ini Mas-nya, nggak sadar diri banget. Gerutu Zea dalam hati. Sudah tahu jam kerja-nya suka tidak menentu, sok-sokan mau jemput lagi. Dasar.
"Dih, kayak kamu bisa aja, Mas, sok-sokan mau jemput."
"Ya, nanti dibisa-bisain lah."
Zea menggeleng. "Enggak usah, nanti biar Zea aja yang jemput. Jam kerja aku lebih fleksibel ketimbang Mas Zidan, jadi lebih gampang diatur."
"Dih, sombong!"
__ADS_1
"Biarin, iri bilang, bos!"
Zea dan Zidan adalah dua bersaudara yatim piatu yang diurus dan dibesarkan oleh Pakde dan Bude-nya. Kedua orangtua mereka sudah meninggal saat mereka masih kecil. Saat itu Zidan masih masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas satu, sedangkan Zea masih duduk di bangku sekolah dasar kelas empat. Begitu kedua orangtuanya meninggal, keduanya langsung pindah ke Jogjakarta ikut Pakde dan Bude-nya yang memang tinggal di sana. Mereka baru kembali pindah ke Jakarta saat mulai masuk perguruan tinggi. Awalnya, baik Zidan mau pun Zea inginnya tetap berkuliah di Jogjakarta saja, karena mengingat biaya hidup dan lain-lain mungkin akan terasa lebih berat, niat hati mereka ingin hemat. Tapi Pakde dan Bude mereka memaksa mereka agar berkuliah di Jakarta.
"Oh, ya, Dek, menurut Mas, kalau si artis itu mau modusin kamu, mending kamu jauh-jauh deh."
Kening Zea mengkerut heran. Kenapa ini sang kakak tiba-tiba membahas Eza?
"Kenapa Mas Zidan bilang begitu?"
"Soalnya menurut Mas, dia nggak terlalu serius sama kamu."
"Atas dasar apa Mas Zidan ngomong begitu? Mas Zidan punya bukti kalau Kak Eza nggak serius?"
Zidan berdecak sambil meletakkan sendoknya karena kebetulan sudah selesai makannya. "Ya karena Mas itu cowok, Mas tahu yang mana yang serius, dan yang mana yang nggak serius. Lagian ya, Dek, kalian kan nggak kenal-kenal banget, baru tahu sekilas doang. Itu pun juga gegara dijodohin sama fans-fansnya, paling juga dia deketin kamu cuma buat naikin popularitasnya aja. Industri hiburan kan emang begitu, Dek."
"Tapi aku rasa Kak Eza bukan tipe yang begitu."
"Kalau pun Eza bukan tipe yang begitu, kamu pikir agensi perusahaannya gimana? Ya bakalan begitu, rela ngelakuin apa saja demi kenaikan popularitas artisnya, Za. Ya, emang begitu konsepnya, Dek."
"Aku tahu Mas Zidan lagi ngehasut aku!"
Zea langsung menatap sang kakak dengan tatapan datarnya. Sedangkan yang ditatap langsung memasang wajah curiga dengan kedua mata menyipit.
"Kamu beneran suka Eza?"
"Sekarang aku tanya ke Mas Zidan, perempuan mana yang nggak suka sama Kak Eza?"
Zidan melongo tidak percaya. "Jadi kamu salah satu fans mereka?"
__ADS_1
Zea langsung mengangguk cepat sebagai respon. Zidan masih terlihat lumayan shock, ia pikir sang adik tidak seperti perempuan di sekililingnya yang sedang begitu mendambakan sesosok Eza. Tapi ternyata sang adik menjadi salah satu dari mereka.
Kalau dipikir-pikir memang susah sih menolak pesona Eza yang berparas tampan dengan wajah ke Arab-arabannya. Belum lagi brewok tipis yang menambah pesona pria itu. Hidung yang mancung, tubuh tinggi tegap. Yah, kalau dipikir-pikir benar juga apa yang sang adik katakan. Perempuan mana yang mampu menolak pesona Eza?