
Meski sedikit ragu-ragu, akhirnya gue tetap melangkah dan mendekat ke arah Zidan sambil tersenyum menyapanya. Gue sedikit merasakan hawa yang kurang mengenakkan, tapi meski demikian gue tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sorry, udah lama nunggu?"
Zidan menggeleng lalu mengkode gue untuk segera duduk. Dia bahkan terlihat seolah malas untuk sekedar mengeluarkan suara.
Wow, kode warning nih. Mampus gue, abis bikin salah apaan nih gue sampe Zidan bersikap begini. Perasaan terakhir ketemu masih ramah-ramah aja, murah senyum. Kenapa sekarang mendadak kayak orang nggak suka begini? Persis seperti saat Zea waktu itu.
"Gue nggak bakalan basa-basi, Za."
Kening gue mengkerut heran. "Ya?"
Zidan mengotak-atik ponselnya sebentar lalu meletakkannya di atas dan menggesernya agar mendekat ke arah gue. Ragu-ragu gue melihat apa yang tertera di layar ponsel.
Kedua mata gue spontan membulat sempurna saat membaca judul artikel yang tertera di sana.
"Aktris cantik Jessie Wang mengaku terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya? Eza Shariq?"
Gue spontan tertawa saat membacanya. Namun, detik berikutnya senyum gue langsung lenyap saat kedua netra kami bersitatap. Ekspresi Zidan terlihat sangat mengintimidasi. Dan jujur, itu cukup membuat nyali gue menciut seketika.
"Itu cuma screenshoot, lo bisa geser buat liat berita yang lain."
Ragu-ragu gue meraih ponsel Zidan lalu menggeser layar. Seperti yang pria itu katakan, memang ada beberapa screenshoot berita tentang gue dan Jessie.
"Terlihat makin akrab netizen menyebut Jessie Wang dan aktor tampan Eza Shariq cinlok!"
"Mengaku nyaman, Jessie Wang bersedia jika dipacarin Eza Shariq."
"Pendukung 'kapal' Eza&Zea karam melihat kedekatan Jessie Wang dan Eza Shariq."
"Zea Albirru VS Jessie Wang mana yang lebih cocok dengan Eza Shariq?"
Ini maksudnya apaan?
Gue menatap Zidan diiringi helaan napas. "Jadi maksudnya lo ngajakin gue ketemu buat ini?"
Zidan menghela napas. "Gue nggak peduli dengan berita itu hanya gosip atau kebenaran, karena memang itu bukan urusan gue untuk tahu."
__ADS_1
Gue masih diam. Menunggu Zidan menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi mengingat sikap lo kemarin nemui gue dan minta restu buat deketin adek gue, gue jadi terganggu karena berita ini. Meski sebenarnya gue tahu gue nggak punya hak."
Gue mengangguk paham. Gue mengerti posisi Zidan. Sebagai pria yang memiliki saudara perempuan, gue mengerti perasaannya. Meski posisi gue sebagai seorang adik, tetap saja dulu saat ada cowok yang mendekati kakak-kakak gue, gue selalu bersikap selektif terhadap mereka. Jadi gue sangat paham maksud dan tujuan Zidan.
"Gue paham, Dan." gue mengangguk mengerti, "pertama gue bakalan meluruskan tentang berita ini semua. Gue nggak bisa menghapus semua berita ini demi mengembalikan kenyamanan lo atau agar lo nggak merasa terganggu. Meski gue bisa aja minta orang untuk menghapusnya, tapi tetap aja gue nggak bakalan bisa kalau semuanya."
"Gue nggak minta lo buat ngelakuin itu, Za."
Gue mengangguk sekali lagi lalu melanjutkan kalimat gue tadi yang sempat tertunda. "Yang kedua, gue bakal jamin 100% kalau gue sama Jessi nggak ada hubungan spesial yang merujuk ke arah sana. Gue sama dia murni berteman sebagai sesama rekan seprofesi."
"100%?" Zidan bertanya dengan nada yang terdengar sedikit menyindir. Entah ini hanya perasaan gue saja atau bagaimana, tapi menurut gue kedengarannya memang begitu.
"Lo emang orangnya percaya diri banget gini ya, Za?"
Gue mengangguk. "Kayaknya kalau gue nggak percaya diri, mungkin gue nggak bakalan nemui lo deh, Dan. Gue cuma akan deketin adek lo, kalau adek lo nggak mau, ya udah. It's over."
"Gue akui, gue suka kejujuran lo, Za. Sekarang kalau gue ikut jujur aja gimana?"
"Ada satu hal yang nggak gue suka dari lo."
Waduh.
"Apa itu? Apa gue bisa ngerubahnya?"
Zidan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mungkin iya, mungkin enggak."
Duh, kok mendadak perasaan gue nggak enak.
"Emang apa?"
"Pekerjaan lo."
Kan, kan, kan. Enggak enak.
"Sorry, kalau kalimat gue menyinggung."
__ADS_1
Gue menggeleng tidak masalah. Kenapa sih banyak orang nggak suka sama profesi gue? Emang ada masalah apa sama profesi gue? Kok kayaknya hina banget sampe pada nggak suka begini.
"It's okay, lo bukan orang pertama yang nggak suka sama profesi gue." Nada bicara gue terdengar lebih pelan karena menahan sedikit kesal.
"Gue nggak suka bukan berarti benci, Za. Cuma nggak suka aja karena hal-hal begini. Kalau nggak inget niat baik lo yang datang dan bilang serius pengen deketi adek gue, gue nggak bakalan ngomong baik-baik begini." Zidan menghela napas berat, "Zea memang sedikit banyak udah terbiasa dengan beginian karena dia juga seseorang yang aktif di media sosial. Karena dia sendiri yang udah aktif di sana, gue masih berharap kalau dia bulan dapet orang yang berkecimpung di dunia entertainment."
"Jadi, maksudnya lo lagi memperingati gue agar berhenti mendekati adek lo padahal gue belum ngapa-ngapain?"
Zidan menggeleng. Jujur itu adalah jawaban di luar prediksi gue.
"Gue pengen tahu apa yang bakalan lo lakuin nantinya kalau seandainya kalian udah dalam status hubungan." Zidan menatap gue serius, "kita udah sama-sama bisa memprediksi hal-hal yang beginian pasti bakalan terjadi kan, Za? Jadi gue pengen tahu aja nanti apa yang bakalan lo lakuin buat adek gue."
Gue menghela napas berat. Pertanyaannya sulit gue jawab. Gue menatap Zidan ragu-ragu. "Kalau boleh jujur, gue nggak tahu, Dan. Meski kita bisa memprediksi hal-hal begini bisa saja terjadi, tapi jujur gue sendiri juga nggak tahu bakal ngapain. Kalau bisa gue usahain untuk mengindari agar hal-hal beginian tidak terjadi, tapi kalau pun sudah terlanjur terjadi nantinya gue bakalan berusaha untuk lebih hati-hati lagi agar semua ini nggak terulang kembali. Menurut gue kalau soal ini adalah perkara kepercayaan, Dan. Zea pasti nggak akan masalah kalau seandainya dia percaya sama gue." gue tersenyum penuh arti, "lo nggak perlu khawatir, karena gue kalau udah dikasih kepercayaan maka akan menjaga kepercayaan itu dengan baik."
"Gue nggak kasih izin adek gue buat pacaran," ucap Zidan tiba-tiba.
Jujur gue kaget karena tadi Zidan sempat menghela napas panjang sebelum mengatakan kalimat itu.
"Zea pun juga nggak tertarik buat menjalin hubungan tidak jelas. Jadi, saran gue mumpung belum deket-deket banget, lo tanya sama diri lo sendiri, kira-kira lo beneran siap serius atau enggak."
"Kalau gue nggak serius, menurut lo, gue bakalan ada di sini, Dan?" Gue menggeleng cepat, "enggak, gue mungkin masih di kamar hotel yang ada di Jogja, tidur pulas dan nggak mikirin apapun."
"Maksud gue serius itu ke jenjang yang serius, Za. Sebuah pernikahan."
Mampus! Kok serem?
"Kenapa? Lo takut?"
Susah payah gue menelan saliva gue. Zidan tersenyum meremehkan. Ia kemudian langsung berdiri.
"Gue nggak maksa, Za, tapi gue selektif kalau menyangkut urusan adek gue. Dia adek gue satu-satunya. Gue juga nggak berharap banyak sama lo sih, jadi santai."
"Zidan!" panggil gue dengan nada sedikit tersinggung.
"Kalau emang nggak yakin, lo bisa mundur sekarang."
Mundur di saat gue belum memulai apa-apa? Tapi yang Zidan inginkan pernikahan, dan menurut gue ini bukan hal yang mudah. Ini terlalu berat buat gue. Haruskah gue mundur?
__ADS_1