Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Kosongin Jadwal


__ADS_3

Gue langsung menatap Kak Luna dengan ekspresi bingung saat mulai menyadari pemilik suara ini. Kayaknya gue kenal deh, tapi masa iya ini Zea. Dalam rangka apa?


"Ini aku Zea, Kak."


Astaga, Tuhan, jadi ini beneran Zea? Kok bisa? Ngapain dia menelfon? Dan dia dapet nomor gue dari mana?


"Kak Eza masih di sana?"


Lamunan gue seketika langsung buyar. Gue berdehem sebentar lalu menegakkan tubuh. "Iya, masih kok, sorry, sorry. Ada apa, Ze?"


Hening. Kini giliran Zea yang diam. Gue sedikit menjauhkan ponsel dari telinga untuk memastikan apakah sambungan telfon sudah terputus. Masih kok. Gue kembali menempelkan ponsel pada telinga dan gantian memanggil Zea.


"Ze, kamu masih di sana? Kok diem aja?"


"Anu... aduh, gimana ya, ngomongnya."


Gue tidak bisa untuk tidak terkekeh saat mendengar suaranya yang terdengar seperti orang kebingungan. Duh, kok gemes ya? Padahal suara doang loh, nggak liat mukanya. Emang bener ya kata orang, jatuh cinta tuh bikin orang jadi suka lupa diri. Contohnya gue ini, udah tua juga tapi masih kasmaran alay kayak anak SMP.


"Ngomong aja, Ze, pelan-pelan, nggak papa kok. Ada apa? Ada yang bisa gue bantu?" tawar gue kemudian.


"Ada."


"Apa itu?" tanya gue lembut.


Gue bersumpah kalau sekarang yang ada di hadapan gue Kak Isa, bukan Kak Luna, udah pasti abis gue diceng-ceng in dia. Serius. Enggak bohong gue. Tapi untung sekarang yang lagi bareng gue Kak Luna dan bukan Kak Isa, jadi gue bisa merasa aman lebih dikit. Paling cuma diketawain doang.


"Aku mau minta tolong sebenernya, tapi kayaknya Kak Eza sibuk banget. Ini aja Kak Eza juga masih di Jogja kan? Enggak usah aja deh, Kak, nggak papa. Maaf ganggu waktunya."


Kalau boleh jujur, sebenernya gue agak sensi sama orang yang begini, ngomong setengah-setengah doang begini. Tapi berhubung ini Zea, jadi pengecualian deh.


"Eh, eh, tunggu dulu dong, Ze. Aku udah nggak di Jogja kok, udah sampai di Jakarta."


dalam hati gue mengimbuhi, "bahkan udah ketemu sama kakak lo juga."


Gue cuma bisa membatin dan nggak mungkin bilang langsung.


"Hah? Kak Eza udah di Jakarta?" tanya Zea terdengar agak kaget.


Gue tetap mengangguk meski tahu Zea tidak dapat melihatnya. "Iya, ini lagi di rumah kakak aku."


"Eh, aku pikir masih ada di Jogja, Kak."


"Enggak, udah di Jakarta kok. Soalnya nanti malam ada jadwal ngisi acara."


"Kak Eza sibuk banget ya?"


"Kenapa sih emang? Dibilang sibuk banget ya, sebenernya nggak juga sih, cuma emang kalau pas lagi promo film gini lumayan sih. Aku harus bantuin apa emang?"


Suara Zea terdengar kembali ragu-ragu. Gue berusaha menyakinkan agar Zea mengatakannya. Justru gue pengennya dia nggak sungkan sama gue. Kalau sama orang lain gue nggak masalah, tapi kalau sama gue, gue berharap dia nggak sungkan.


"Bilang aja nggak papa, Ze!"


"Oke, aku bakalan bilang, cuma kalau Kak Eza beneran nggak bisa nggak papa kok. Enggak usah dipaksain ya, Kak."


Gue tersenyum sambil mengangguk sekali lagi, lalu mengiyakan. "Iya. Enggak bakalan dipaksa kok."

__ADS_1


"Jadi gini, Kak, aku sama Kak Zidan kan mau ada acara kunjungan di panti lagi minggu ini. Kali ini acaranya agak gede gitu, Kak, dan pihak panti pengen ngajak Kak Eza join. Kira-kira Kak Eza bisa nggak?"


Gue berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat jadwal gue minggu ini. Tapi nihil. Bukan, bukan karena gue nggak ada jadwal tapi masalahnya ingatan gue nihil soal itu.


"Hehe, sorry, ya, Ze, gue lupa. Ntar gue coba nanya dulu deh ke Mas Tito kira-kira ada jadwal nggak minggu ini, kalau ada bisa di re schedule ulang apa enggak. Ntar aku kabarin."


Tiba-tiba Kak Luna menyenggol kaki gue. "Kok labil?"


Gue mengerutkan dahi bingung. Namun, beberapa detik kemudian gue menyadari kalau yang Kak Luna maksud adalah panggilan gue ke Zea. Untuk satu hal ini gue emang belum bisa konsisten. Menyesuaikan reflek saja.


"Oke, Kak, makasih dulu sebelumnya. Cuma kalau emang beneran nggak bisa nggak usah dipaksa ya, Kak. Enggak papa kok, soalnya kan ini acara amal, jadi budget-nya pun sedikit."


"Enggak papa, justru karena ini acara amal. Kalau cuma acara-acara lain mah, aku nggak terlalu usahain pun, nggak masalah. Tapi berhubung ini acara amal, berarti ya emang aku harus meluangkan."


"Hehe, makasih, ya, Kak, udah coba mau meluangkan. Maaf banget lho kalau ngerepotin."


"Kan belum dapat kepastian masa udah bilang makasih dan ngerepotin?" protes gue kemudian.


"Usaha Kak Eza yang mau meluangkan waktu aja udah bikin aku berterima kasih banget, Kak. Makasih ya, aku tunggu kabar baiknya."


"Oke, abis ini aku langsung telfon Mas Tito buat konfirmasi dulu ya."


"Baik, Kak Eza. Kalau gitu aku tutup dulu ya, Kak, telfonnya. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Klik. Sambungan terputus. Gue kemudian langsung men-scroll nama kontak untuk mencari nomor Mas Tito.


"Kamu emang suka labil begitu ya, Za?"


Kak Luna tidak berkomentar setelahnya dan hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir. Gue sendiri langsung menghubungi Mas Tito begitu nomornya ketemu.


"Ya, halo, lagi di kantor nih gue. Kenapa? Minta jemput? Kalau sekarang nggak bisa, lagi nunggu Barra kelar meeting, apa perlu gue kirim supir kantor buat jemput?" berondong Mas Tito begitu sambungan terhubung. Padahal gue juga belum selesai menyapa, baru buka mulut.


"Satu-satu dulu kali, Mas. Buset deh," komentar gue kemudian, "pertama gue nggak lagi nanya lo di mana. Kedua, gue nggak minta jemput jadi lo nggak perlu ke sini atau kirim supir."


"Terus kenapa?"


"Mau nanya."


Mas Tito terdengar terkekeh. "Nanya apaan? Biasanya juga lebih suka nanya google lo, ketimbang nanya gue. Mau nanya jadwal lo?"


"Iya."


"Lah? Nanya jadwal beneran lo? Mau nanya kapan? Malem ini ada acara lo jadi bintang tamu di acara talk show stasiun tv swasta, sana Jessie."


"Minggu ini, Mas."


"Bentar, gue cek dulu."


Gue diam menunggu dan hanya mendengar suara gumaman Mas Tito.


"Oh, ada nih, lo ada syuting video bareng salah satu youtuber. Kenapa emang?"


"Bisa di re schedule ulang nggak, Mas?" tanya gue harap-harap cemas. Nyuruh atur ulang jadwal ke Mas Tito tuh gampang-gampang susah. Dan gue khawatir kalau hari ini di bagian susahnya. Tapi gue berharap enggak sih. Semoga aja Mas Tito hari ini gampang dibujuk.

__ADS_1


"Mau ada acara apaan emang? Kalau penting gue aturin, tapi kalau nggak jelas, big no!" tolak Mas Tito tegas.


"Penting, Mas. Gue minta dikosongin jadwal hari itu, ya," pinta gue dengan suara memelas. Bisa gagal acara modus gue kalau gagal membujuk Mas Tito. Soalnya gue kadang lebih takut sama Mas Tito ketimbang sama Barra.


"Sepenting apa sampe lo minta dikosongin jadwalnya? Mau nyelamatin negara apa gimana lu, hah? Sok penting banget. Enggak, gue re-scedule jadi malem atau sore, kaga ada kosongin jadwal. Enak aja."


Gue berdecak kesal. "Ya udah, nggak papa deh, pokoknya pagi sampe sore gue mau jadwal gue kosong, kerja lembur nggak papa deh," ucap gue pada akhirnya.


"Oke, sip, ntar gue atur ulang. Udah kan gini doang?"


"Hmm."


"Gue matiin kalau gitu."


Tanpa menunggu gue mengiyakan, Mas Tito langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Gue tidak protes karena habis ini gue bisa langsung punya kesempatan buat menelfon Zea.


"Ya, halo, assalamualaikum, gimana Kak Eza?"


sapa Zea dengan suara merdunya.


Duh, yang beginian mau kali gue dengerin sampe malem. Enggak bakalan protes deh kalau harus dengerin semaleman suntuk.


"Wa'alaikumsalam. Mau kasih kabar nih. Hehe."


"Eh, kok cepet banget, Kak?"


"Iya, kan langsung nelfon Mas Tito barusan."


"Oh, gitu ya? Terus gimana, Kak? Enggak bisa?"


"Bisa dong. Kan minggu."


"Yakin, Kak? Kok aku kayak nggak percaya?"


Gue pura-pura berdecak kesal. "Jadi kamu nggak percaya sama aku?" tanya gue dengan nada pura-pura merajuk, "ya udah kalau nggak percaya."


"Eh, aduh, Kak, jangan ngambek dong! Iya, iya, aku percaya kok. Makasih ya, Kak, nanti aku kabarin lebih lanjut buat detail jamnya."


"Oke."


"Udah dulu ya, Kak, aku mau bikin kue. Hehe."


"Iya, semangat bikin kue-nya ya."


"Iya, makasih, Kak. Kak Eza juga semangat buat kerja ntar malemnya, sekarang istirahat dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Klik. Senyum gue seolah tidak mau luntur padahal sambungan telfon sudah terputus. Hal ini membuat Kak Luna langsung meledek gue.


"Liat ekspresi kamu sekarang, yakin kamu, Dek, nggak mau nikahin dia dalam waktu dekat?"


Pertanyaan Kak Luna seketika langsung membuat gue tersadar. Benar juga ya.


A/N : maaf kalo ada yg bingung, ini alurnya mundur bentar sebelum part pov 3 ya😂

__ADS_1


__ADS_2