
Gue seketika langsung mengalihkan pandangan gue ke asal suara, saat mendengar bunyi nada dering. Gue yang tadinya sedang sibuk memilih pakaian apa yang harus gue kenakan, kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang karena ponsel gue tergeletak di atas sana. Nama Zidan tertera pada layar.
Ngapain nih Zidan menelfon jam segini? Gue melongok ke arah jam dinding yang terletak di kamar gue. Masih pukul setengah tujuh pagi.
"Ya, halo, kenapa, Dan?" sapa gue seramah mungkin.
Meski perut masih kosong dan orderan belum nyampe-nyampe, pencitraan tetap harus dilakukan karena sedang berurusan sama calon kakak ipar. Betul tidak?
"Assalamualaikum!" Nada sapaan Zidan terdengar seperti orang yang sedang menyindir.
Mampus lah gue! Salah ngomong nih gue. Kenapa juga gue bisa-bisanya melupakan salam penting.
"Hehe, iya, assalamualaikum. Wa'allaikumsalam, Zidan. Ada yang bisa gue bantu?" tanya gue lebih hati-hati karena takut salah ngomong lagi.
Terdengar dengusan dari seberang. Seketika gue langsung menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya gue barusan telah menghancurkan image gue sendiri. Eh, tapi kalau dipikir-pikir dari awal emang image gue nggak begitu bagus sih di mata Zidan, kan Zidan nggak suka sama profesi gue. Berarti emang udah nggak bagus sih sejak awal, jadi gue tidak perlu terlalu khawatir lah ya. Harusnya sih. Tapi tahu lah.
"Ada."
Waduh, kok perasaan gue makin tidak enak ya? Ada apaan nih? Tangan gue spontan memegang dada gue yang terasa berdebar kencang.
"Apa itu?" tanya gue harap-harap cemas.
"Pertama."
Hah? Pertama? Berarti lebih dari satu dong? Seketika isi otak gue over thinking.
"Za? Lo masih di sana?" panggil Zidan mencoba memastikan keberadaan gue.
Lamunan gue seketika langsung buyar.
"Ya? Gimana, Dan? Lo ngomong apa barusan?"
Terdengar suara decakan dari seberang. "Jadi dari tadi lo nggak dengerin gue ngomong?" tanya Zidan dengan nada dengan nada kesal menahan amarah.
__ADS_1
Wajah gue seketika langsung berubah pias. Mampus lagi lah gue. Emang dari tadi Zidan udah ngomong ya? Kok gue nggak denger ya?
"Sorry, sorry, lo tadi udah ngomong?" tanya gue memastikan dengan nada hati-hati.
"Menurut lo?" semburnya galak.
Nyali gue seketika langsung menciut. "Gue tadi lagi ngomong sama nyokap gue jadi nggak begitu denger, Dan, sorry banget. Bisa lo ulangin omongan lo barusan?" ucap gue terpaksa berbohong.
Mama maafin Eza karena bohong bawa-bawa nama Mama. Eza terpaksa melakukannya demi keselamatan Eza.
"Bener-bener ya lo! Oke, gue maafin karena lo tadi lagi ngomong sama nyokap lo. Harus berterima kasih lo sama beliau, kalau enggak, gue ogah ngulangi kalimat gue."
Gue meringis. "Iya, thank you, Dan.Jadi ada apa?" tanya gue kemudian.
Zidan menghela napas. "Gue nggak bisa ikut acara amal yang diadain Zea."
Seketika gue ingin bersorak dalam hati. Wah, berita bagus nih. Tapi harus tetap gue tahan karena takut Zidan ngamuk. Sebisa mungkin gue berusaha untuk terlihat tenang.
Terdengar dengusan tidak percaya dari seberang. "Halah, jangan lo pikir gue nggak tahu ya, Za. Gue tahu kalau lo seneng karena gue nggak ikut kan?" tuduhnya tepat sasaran.
Seketika bibir gue langsung tertutup rapat. Karena khawatir gue kalau bakalan ngomong yang aneh-aneh. Kan bahaya.
"Enggak lah, kan kalau rame beneran seru," ucap gue masih berusaha berkilah.
Sekali lagi Zidan mendengus. "Gue juga cowok, Za, jadi gue tahu."
Kan, salah lagi, emang harusnya dari tadi gue diem dan mendengarkan Zidan ngomong aja.
"Oke."
"Berhubung gue nggak ikut, jangan lo berpikir bisa berbuat seenaknya sama adek gue ya, Za. Terlebih lo nggak boleh modusin dia! Karena gue bakalan kirim mata-mata ke sana. Awas aja kalau sampai lo modusin dia!" ancamnya terdengar tidak main-main.
Ya, nggak mungkin lah gue bersikap seenaknya sama Zea. Mana tega gue. Gue rasa nggak akan ada yang tega untuk berbuat seenaknya pada Zea, kecuali customernya. Gue rasa kalau mereka bisa aja sih.
__ADS_1
Tapi tunggu, sebentar, kan gue mau deketin Zea. Kalau nggak modus gimana cara gue agar dekat dengan dia? Batin gue panik.
"Wait, bro, jangan gitu lah! Kan kita sesama cowok, masa gue nggak bisa modusin sih? Gimana gue bisa deketin dia kalau lo nggak kasih izin modus?"
Kali ini terdengar decakan kesal. "Nggak usah bro-bro an, kita nggak seakrab itu untuk lo bisa panggil gue bro. Paham lo? Lagian masih banyak cara buat deketin adek gue tapi enggak dengan modusin dia kan? Masa gini aja lo nggak ngerti?"
Seketika bahu gue lemas. Zidan kayaknya bener-bener nggak menyukai gue deh. Rasa-rasanya bakalan sulit nih dapetin Zea.
"Kenapa lo diem aja?"
Gue menghela napas berat. "Ya, lo berharap gue jawab apaan?" tanya gue lesu.
"Lo bener-bener nggak ada harapan, Za, kata gue mending lo mundur aja deh. Zea nggak cocok sama lo. Gue jamin."
Emosi gue sedikit tersulut. "Yang mau menjalani hubungannya aja adek lo, Dan, kenapa lo bisa komentar begitu, bahkan bisa menjamin segala?"
Hening. Tidak ada respon dari seberang.
"Dan, gue tahu Zea adik lo, satu-satunya anggota keluarga lo. Kalau gue jadi lo, gue bakalan ngelakuin hal sama, memberikan yang terbaik buat dia. Tapi terbaik versi lo belum tentu jadi terbaik juga versi Zea."
"Gue lebih kenal Zea dibanding lo, Za, lo bahkan belum terlalu kenal adek gue. Jadi jangan berlagak kalau lo tahu segalanya. Paham?"
Gue langsung mengangguk dan mengiyakan. Sama sekali tidak ada niatan buat protes karena apa yang dikatakan Zidan adalah sebuah fakta dan kebenaran.
"Udah, gue nelfon lo cuma mau kasih tahu ini biar lo nggak macem-macem sama adek gue. Karena meski gue nggak di sana, ada banyak pasang mata yang mengawasi. Ngerti lo?"
"Gue ngerti. Dan gue anggap itu sebagai bentuk perhatian lo buat gue. Thanks, ya, karena udah peduli dan perhatian, sampai kirim orang buat mengawasi gue ntar. Gue beneran terharu."
Zidan tertawa meremehkan. "Jangan kepedean lo! Gue ngawasi lo bukan karena hal-hal yang lo sebutin, tapi karena gue nggak bisa percaya sama lo. Paham?"
Gue tersenyum. "Enggak masalah, gue tetep bakalan berterima kasih. Segala sesuatu itu tergantung pada main set dan sudut pandang, gue sih mau lihatnya dari sisi positif aja, tapi kalau niat lo yang nggak baik, ya itu bukan urusan gue," ucap gue penuh kemenangan.
Gue yakin Zidan sedang kesal saat ini. Biarin, emang dia sendiri yang bisa bikin gue kesel? Dih, gue juga bisa kali. Ngeselin.
__ADS_1