Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Jatuh Cinta Beneran?


__ADS_3

Gue menggeliat saat mendengar suara notifikasi pesan singkat. Dengan sedikit ogah-ogahan gue meraba sekitar untuk menemukan di mana letak ponsel, begitu ketemu gue mengintipnya sekilas lalu kembali meletakkan ponsel gue ke tempat semula. Setelahnya gue kembali memejamkan kedua mata lalu membenarkan selimut, mencari posisi ternyaman gue.


Namun, beberapa detik kemudian gue menyadari ada sesuatu yang aneh. Spontan gue membuka mata dan bangkit dari posisi berbaring lalu gelagapan mencari keberadaan ponsel gue. Cepat-cepat gue membuka room chat dan membuka pesan yang tadi masuk.


Zea: ❤️


Gue sampai harus melotot tajam untuk memastikan penglihatan gue tidak salah. Ini beneran emoticon hati? Seolah masih tidak percaya dengan apa yang gue lihat, tangan gue langsung menggampar pipi gue sendiri. Gue mengaduh kesakitan setelahnya. Berarti bukan mimpi. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin juga Zea mengirim beginian. Pasti karena nggak sengaja kepencet.


Gue mencoba memejamkan kedua mata gue sambil menggeleng. Lalu saat membuka mata pesan itu sudah terhapus. Seketika gue langsung terbahak kencang. Umpatan samar terdengar setelahnya.


Sialan, berasa kena prank gue.


Zea : kak Eza maaf enggak sengaja kepencet😭😭😭


Gue tersenyum saat melihat emoticon menangisnya. Duh, kok gemes sih. Padahal tadi rasanya jantung gue kayak turun ke perut tiba-tiba, eh, sekarang rasanya udah kayak balik lagi aja ditambah mulai berbunga-bunga. Buset, alay banget sih gue?


Zea : 🙏🙏🙏🙏🙏


Sambil menahan senyum yang seolah tidak bisa pudar, gue kemudian mengetik balasan.


Anda: it's okay. Aku paham😂


Anda : nggak papa


Zea : 🥺 maaf banget ya, kak 🙏


Anda : iya, beneran nggak papa, Ze. Nggak perlu khawatir


Zea : aku juga mau mau minta maaf soal Kak Zidan😔


Seketika senyum gue langsung pudar. Harus banget ya Zea bahas ini sekarang? Kan gue lagi menikmati momen gemesnya dia.


Baik lah, pura-pura nggak paham aja.


Anda : ya, kenapa, Ze?

__ADS_1


Anda : ada apa sama kakak kamu?


Zea : ya soal permintaannya. Jangan terlalu dipikirin ya, Kak, dia emang suka gitu☹️


Gue tidak langsung mengetik balasan. Otak gue berpikir keras. Harus bagaimana ya, gue menjawabnya. Bingung juga gue. Di sisi lain Zidan ada benarnya juga, kalau mengingat umur kami sudah masuk kategori ideal menikah. Selain itu untuk menunjukkan seriusan gue ya memang harus dengan menikah. Tapi di satu sisi gue juga masih ragu, karena pernikahan itu bukan perkara hal yang mudah untuk diputuskan. Nggak cuma menyatukan dua hati atau dua jiwa, tapi dua keluarga. Dan gue merasa belum terlalu siap dengan hal itu.


Tak ingin membiarkan Zea menunggu balasan gue terlalu lama, gue pun akhirnya mengetik balasan tak lama setelahnya.


Anda : iya, nggak papa kok, Ze. Aku paham, kamu nggak perlu khawatir.


Zea : makasih, Kak 🥺


Duh, nggak kuat banget gue sumpah dikirimin emot gemes begini.


Anda : sama-sama😊


Tak ingin terlalu terlena bertukar pesan dengan Zea. Gue memutuskan untuk segera turun dari ranjang untuk bergegas mandi. Hari ini gue memutuskan untuk makan di luar saja, karena malas memasak dan juga malas memesan. Pilihan terbaik saat sedang malas akan dua-duanya, ya memang itu. Beli dan makan di luar.


***


Gue langsung memasang senyum terbaik yang gue punya lalu memakai seat belt. Mas Tito menyipitkan kedua matanya curiga.


"Lo sakit?" tanyanya menatap gue curiga.


Gue menggeleng cepat sebagai tanda jawaban.


"Terus?"


Gue menatap Mas Tito bingung. "Ya, enggak ada terusannya. Emang kenapa sih?" tanya gue heran, "enggak bisa banget lo liat gue seneng atau gimana sih, Mas?" decak gue kemudian. Gue agak sedikit kesal karena lagi dalam suasana mood yang bagus, eh, malah dikatain sakit.


"Ya abis, lo serem banget, baru kemarin galau sensi, bawaannya pengen ngamuk terus, eh, tiba-tiba seneng begini. Ya, kan gue sebagai manager lo khawatir jadinya."


"Ya gimana, namanya juga orang lagi jatuh cinta, Mas. Perubahan mood sewaktu-waktu lah."


Mas Tito menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menatap gue tajam. "Lo seriusan jatuh cinta? Sama Zea?"

__ADS_1


Sambil tersenyum malu-malu, gue langsung mengangguk cepat. "Kayaknya iya, Mas."


"Kok bisa?"


Ekspresi gue seketika langsung berubah datar. "Mas, gue kasih tahu, ya, namanya orang jatuh cinta ya, jatuh cinta aja. Mana peduli dia akan jatuh ke hati yang mana. Iya, kan?"


Mas Tito tidak bisa berkata-kata setelahnya. Ia menghela napas berat lalu menyalakan mobil dan mulai melajukannya.


"No komen aja lah gue."


Gue langsung mengacungkan jempol gue di hadapan Mas Tito. Ayah satu anak itu langsung berdecak sambil menyingkirkan tangan gue.


"Tangan lo ngehalangi gue, anjir!" Mas Tito berdecak sambil melirik gue sinis, "gue nggak bisa ngebayangin gimana reaksi Barra kalau tahu tentang hal ini."


"Ya, dia bakalan seneng lah karena sahabat baiknya akhirnya menemukan tambatan hatinya, Mas," ucap gue percaya diri.


Berbeda dengan gue, Mas Tito langsung mendengus. "Ya, itu menurut sudut pandang sebagai temen, tapi kalau dia melihat dari sisi bisnis, gue rasa Barra bakalan tetep ngerasa khawatir dan nggak tenang kalau liat kelakuan lo begini." ia kemudian menghela napas, "serius ya, Za, lo itu kalau lagi jatuh cinta soalnya suka nggak waras."


Kali ini giliran gue yang mendengus. "Sekarang kasih tahu gue, Mas, siapa yang orang yang jatuh cinta tapi masih tetep bisa waras? Sini kasih tahu gue, Mas, mana orangnya, biar gue ajakin dia nongkrong sambil minum kopi."


Mendengar kata kopi, Mas Tito langsung tertawa meremehkan. "Sok-sokan banget lo mau ngajak minum kopi, lo-nya sendiri aja minum kopi seujung sendok langsung asam lambung," cibirnya kemudian.


Gue merengut kesal. Sialan. Gue lupa lagi kalau sedikit kesulitan mentoleransi kafein.


"Ngomong-ngomong lo belum kasih tahu gue mau ke mana ntar akhir minggu. Jangan bilang lo mau nemuin Zea."


Gue diam saja. Mas Tito langsung berdecak kesal sambil melotot tajam ke arah gue. "Woi, ditanya jangan diem aja!" serunya kesal.


"Lah, bukannya lo sendiri yang minta gue biar nggak bilang, Mas? Ya udah, gue diem aja. Salah gue di mana?"


Mas Tito melirik gue dengan ekspresi datar. Tak lama setelahnya ia langsung menggerutu kesal, "Astaga, Tuhan, hamba sangat ingin resign dari pekerjaan ini. Hamba tidak tahan."


Tawa gue langsung pecah. "Jangan gitu lah, Mas. Ntar kalau lo resign siapa yang ngurusin gue? Masih bujang nih gue, kasian."


Mas Tito kembali mendengus. "Katanya lo mau nikahin Zea, ya nggak jadi bujang dong berarti. Yang ada jadi tuan pemilik toko kue," sindirnya kemudian.

__ADS_1


Seketika tawa gue langsung pecah. Ada-ada aja sih Mas Tito ini. Kalau pun gue nantinya jadi menikah sama Zea, ya posisi gue cuma sebatas suami si pemilik toko kue lah.


__ADS_2