Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Ada Apa Dengan Zidan?


__ADS_3

Gue langsung merebahkan tubuh gue pada kasur tepat setelah masuk ke dalam kamar hotel. Badan gue rasanya remuk, gue melirik ke arah pergelangan tangan, di mana arloji melingkar di sana. Ternyata sudah jam setengah sepuluh, pantesan rasanya gue udah capek banget plus ngantuk berat karena jadwal gue seharian ini cukup padat.


"Bersih-bersih dulu lah, Za, jangan langsung tidur!" tegur Mas Tito saat menyusul masuk ke dalam kamar tak lama setelahnya.


Ia kini sibuk menata barang-barang pemberian fans yang sengaja menemui gue pas acara nonton bareng tadi. By the way, kami saat ini sedang berada di Jogjakarta dalam rangka promosi film baru.


Gue kalau lagi kerja di luar kota begini memang jarang pesen kamar sendiri, karena gue bakalan susah dibangunin, maka dari itu kalau di luar kota atau ada kerjaan yang mengharuskan gue nginep di hotel, biasanya gue minta dipesenin kamar dengan dua ranjang biar Mas Tito sekamar dengan gue.


Ya, seperti sekarang ini. Berguna untuk mengingatkan gue melakukan ini dan itu.


"Gue mau tidur bentar dulu deh, Mas, ntar bangunin aja."


Mas Tito berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah gue lalu memukul pantat gue menggunakan bantal.


"Bangun sekarang, mandi! Nanti keburu malem. Lagian lo kalau nggak mandi sekarang yang ada lo nggak bakalan mandi," omelnya kemudian.


Dengan berat hati gue pun bangun dari posisi berbaring sambil menguap. "Besok kita balik jam berapa, Mas? Bukan pagi kan? Gue pengen bangun siang."


"Tenang, kita pulangnya siang."


Gue mengangguk paham lalu segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama, gue pun keluar tak lama setelahnya. Karena sudah malam jadi nggak mungkin kan gue mandi lama-lama.


Saat gue keluar dari kamar mandi Mas Tito nampak sibuk packing barang-barang.


"Nggak mau mandi dulu, Mas?"


Mas Tito melirik gue sekilas. "Bentar, nanggung tinggal dikit lagi."


Gue mengangguk paham lalu memilih untuk memainkan ponsel. Ternyata ada pesan dari Zidan. Cepat-cepat gue langsung membukanya.


******Bismillah, Calon Kakak Ipar****** : Za, bisa ketemu?


**********Anda********** : kapan? kalau hari ini gue nggak bisa. lagi di Jogja.


Bismillah, Calon Kakak Ipar : kalau besok?


Gue langsung menoleh ke arah Mas Tito lebih dahulu sebelum memutuskan untuk membalas chat Zidan.


"Mas, besok malem gue free?"


"Kenapa? Mau ketemu siapa lo?"


Gue berdecak kesal. Gue paling kesel kalau ditanya bukannya menjawab, eh, malah balik nanya.

__ADS_1


"Free atau enggak, Mas?" ulang gue kemudian.


Mas Tito menggeleng. "Enggak, malem ada jadwal jadi bintang tamu di acara talk show salah satu stasiun tv swasta."


"Kalau sore?"


"Free."


Gue mengangguk paham lalu mulai mengetik balasan untuk Zidan.


Anda : bisa. tapi sore sih, soalnya gue baru pulang siang. malem gue ada jadwal, nggak mungkin dicancel.


Anda : gimana? mau ketemu di mana?


Bismillah, Calon Kakak Ipar : gue kalau sore juga nggak bisa, shift sore. kelar jam 9 malem. apa kita ketemu sekitar jam 10?


Gue berpikir sebentar. Apa gue ambil penerbangan pagi aja ya?


"Mas, coba cariin tiket penerbangan buat besok pagi."


Mendengar pertanyaan gue, Mas Tito langsung menatap gue horor. "Apa lo kate?"


"Cariin tiket pesawat buat penerbangan pagi. Jam berapa aja deh yang penting besok."


"Kayaknya."


Mas Tito menaikkan sebelah alisnya heran karena jawaban gue yang terdengar ragu-ragu. "Kayaknya?" beonya kemudian.


"Gue soalnya nggak terlalu yakin. Udah lah, Mas, jangan banyak nanya, buruan cariin dulu, ada atau enggak."


Bukannya langsung melaksanakan permintaan gue, Mas Tito malah mendekat ke arah gue. "Abis chatan sama siapa lo?"


"Kepo lo."


"Kalau nggak lo kasih tahu, gue ogah cariin tiket buat penerbangan pagi."


"Ya udah, gue nyari sendiri," balas gue tidak mau mengalah.


Mas Tito mendengus. "Lo itu bener-bener ya, pengen ganti artis deh gue. Ngurusin anak bungsu dari kelurga terpandang tuh susah banget buset. Banyak banget maunya," gerutunya menahan kesal.


Dengan ekspresi cemberut, ia kemudian langsung mencari ponselnya dan mengotak-atiknya. Gue langsung tersenyum puas tak lama setelahnya.


"Makasih, Mas Tito, ntar gue kasih tahu Barra deh biar naikin gaji lo," ucap gue bersungguh-sungguh. Namun, hanya direspon dengan dengusan oleh Mas Tito.

__ADS_1


Anda : gue coba re-schedule dulu ya, semoga dapet penerbangan pagi.


Anda : nanti gue kabarin bisa atau nggaknya


Bissmillah, Calon Kakak Ipar : ya udah, kalau nggak bisa, kita ketemu seluangnya lo aja. nggak papa


Bismillah, Calon Kakak Ipar : gue paham lo sibuk


"Gimana, Mas? Dapet nggak?"


Mas Tito langsung mengangguk cepat. "Dapet."


"Alhamdulillah. Langsung pesen aja, Mas!" suruh gue kemudian.


"Lah, lo nggak mau nanya dulu jam berapa penerbangannya?"


Gue menggeleng tidak masalah. "Enggak papa. Pesen aja dulu ketimbang nggak dapet."


Mas Tito nampak tidak protes sama sekali. Ia langsung melaksanakan permintaan gue. "Udah selesai gue urus. Besok kita pulang pagi, penerbangan jam 8 kurang, jadi jam enam atau jam setengah tujuh harus udah bangun."


Seketika gue langsung menatap Mas Tito dengan tatapan horor. Gue harus bangun jam berapa barusan?


***


Gue memutuskan untuk memakai kacamata hitam begitu turun dari pesawat. Bukan untuk bergaya tapi untuk menutupi mata panda gue yang udah tidak tertolong. Gue sama Mas Tito semalem tidur sekitar pukul setengah satu dini hari karena harus menyelesaikan packing. Karena khawatir kalau kami akan kesiangan besok paginya dan belum menyelesaikan packing kan bahaya.


"Kepo banget gue sama siapa yang mau lo temui sampai bikin lo, yang males bangun pagi kalau lagi sibuk begini, sampe rela bangun pagi dan pulang lebih awal dari rencana awal. Kata gue gokil sih itu orang."


Gue tidak menggubrisnya karena kantuk yang mulai menyerang.


"Lo denger gue nggak sih?" tanya Mas Tito agak kesal.


"Jangan nanya dulu deh, Mas, gue ngantuk parah. Demi keamanan bersama kita nggak usah ngobrol dulu bisa? Gue takut tiba-tiba nyembur lo kan bahaya. Lo paham banget gue kan?"


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Mas Tito langsung mengangguk paham dan tidak mengeluarkan suara apapun. Kami berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir tanpa ada obrolan, bahkan saat di mobil pun gue memutuskan langsung tidur. Sampai akhirnya Mas Tito membangunkan gue dan memberitahu kalau kita sudah sampai.


"Mau ditungguin apa langsung pulang aja gue?"


"Tungguin lah, Mas, ntar kalau lo tinggal gue balik sama siapa?"


"Ya sama yang temui lah."


Gue mendengus samar lalu menggeleng. Gue tidak mengeluarkan suara apapun dan langsung turun dari mobil. Masuk ke dalam Cafe tempat janjian dengan Zidan.

__ADS_1


Reflek tubuh gue menegang saat kedua netra kami bertemu. Ekspresi Zidan terlihat seperti tidak suka dengan keberadaan gue. Padahal kita janjian ketemuan. Apa gue telat makanya dia bete sama gue? Cepat-cepat gue melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan lalu beralih kepada ponsel gue. Enggak telat kok, terus kenapa Zidan terlihat sangat kesal saat melihat gue?


__ADS_2