Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Diporotin Ponakan


__ADS_3

Mumpung hari ini gue libur, gue memutuskan untuk bermain ke rumah Kak Isa. Sebenernya kangen sama si kembar tapi masalahnya si kembar nggak lagi di Jakarta, jadi ya udah gue ke rumah Kak Isa saja daripada gabut di rumah. Mua ngajak nongkrong Vero tapi pria itu keasikan pacaran dengan sang kekasih, Barra lagi nggak di Jakarta juga. Jadi satu-satu pilihan terakhir ya ke rumah Kak Isa.


Saat gue sampai di sana, Aye, ponakan gue lagi asik main game lewat i-Pad-nya. Kebetulan karena hari ini akhir pekan jadi bocah berumur sebelas tahun itu pun bisa sepuasnya bermain gadget. Begitu lah perjanjian dengan sang ibunda tercintanya.


"Hape terossss!" sindir gue langsung menjatuhkan tubuh gue tepat di samping Aye, sengaja sampai mengenai tubuh bocah yang sebentar lagi jadi gadis remaja.


"Apaan sih Om Eza ini, dateng-dateng ganggu orang!" amuknya kesal, detik berikutnya ia langsung berteriak memanggil sang mama, "Mama! Om Eza rese!"


"Dih, dasar tukang ngaku lo!"


"Om Eza, it's me, Ayesha, nggak boleh pake lo-gue lo-guean. It is not polite."


Gue langsung mencibirnya. "Halah, sok Inggris banget sih."


"Do you have a problem?" tanyanya songong.


Gue langsung mendengus seraya memutar bola mata.


"Mama!"


Tak butuh waktu lama, sang penguasa rumah datang sambil memasang wajah tidak bersahabatnya. "Eza, plis, deh bisa nggak sih kalau dateng nggak nggak ganggu anak gue?"


"Mama!" tegur Aye dengan wajah galaknya.


Kak Isa langsung meringis salah tingkah. Ia lupa menggunakan lo-gue saat sedang di hadapan Aye. Biasanya kalau lagi ada Ayesha, kami memang lebih sering menggunakan aku-kamu saat sedang mengobrol.


"Iya, iya, Mama lupa. Maaf."


Gue hanya menertawakan keduanya lalu fokus pada layar i-Pad Aye yang sedang menampilkan game candy crush.


"Tumben main ke sini? Nggak ada jadwal?"


Gue menoleh ke arah Kak Isa sebentar lalu menggeleng. "Enggak, free hari ini, besok. Bisa banget nih kalau mau diajak keluar. Mau ngemall?" tawar gue kemudian.


"Mau," seru Ayesha semangat.


Gue langsung mendengus. "Dih, siapa yang ngajak kamu?"


Ayesha langsung merengut kesal. "Mama, Om Eza!" rengeknya kemudian.


Gue tertawa. "Lha kan emang Om Eza nggak ngajak siapa-siapa, orang Om Eza cuma nanya. Yeee."

__ADS_1


"Ya udah, ayo, pergi! Kalau gitu aku yang ngajak, aku lagi pengen makan sushi deh, Om," rengeknya, "ayo, Om, mumpung Om Eza libur!" Ayesha menggoyang-goyangkan lengan gue, i-Padnya kini sudah tergeletak di atas sofa begitu saja, terlihat sudah tidak tertarik dengan benda kotak itu.


Gue kemudian menoleh ke arah Kak Isa. "Gimana, Kak? Pergi jangan? Aku juga mumpung gabut nih bingung mau ngapain."


"Delivery aja lah, Ye, Mama males keluar nih."


Mendengar jawaban sang Mama, Ayesha langsung merengut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Iiih, Mama nggak asik!"


"Ya kalau mau pergi berdua aja sana, Mama males," tolak Kak Isa.


Kali ini giliran gue yang merengut. Gue sama Ayesha kurang akur setelah bocah itu mulai tumbuh besar. Jadi, bukan ide yang baik kalau gue sama Ayesha cuma pergi berdua doang.


Gue langsung merogoh kantong celana gue, mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Ayesha.


"Nih, pesen sendiri!"


Ekspresi Ayesha berubah senang. "Bebas kan, Om? Nggak pake batesan harus habis berapa?"


Gue mengangguk dan mengiyakan. "Terserah. Mau pesen apa aja, berapa aja, bebas. Asal nggak masuk daftar makanan larangan Mama kamu."


Soalnya Kak Isa lumayan agak rewel soal makanan yang masuk ke dalam perut sang putri semata wayang.


Gue langsung mengangguk cepat sambil mengacungkan jempol.


***


Gue hanya mampu memasang wajah melongo saat baru kembali dari kamar mandi, saat mendapati meja ruang tengah penuh dengan berbagai jenis makanan.


Gue langsung menatap tajam ke arah si pelaku yang menyebabkan meja ruang tamu penuh, sedangkan yang gue tatap sedang asik dengan i-Padnya.


"Ayesha, bisa jelasin ini apaan ya?"


Gue berkacak linggang dengan ekspresi menahan kesal. Sedangkan Ayesha hanya memasang wajah polosnya seolah nggak punya dosa.


"Om Eza nggak tahu ini apa?" Ayesha berdecak tidak percaya, "Yang Om Eza tahu itu apa sih? Ini namanya seblak, Om, terus yang ini namanya--"


"Stop! Bukan itu yang Om tanyain," potong gue kesal, "Om tahu nama semua makanan ini. Tapi ini yang jadi masalah, di mana sushinya? Bukannya tadi kamu bilang mau makan sushi?"


Tak lama setelahnya terdengar suara orang berteriak. "Go-Food! Go-Food!"

__ADS_1


"Nah, itu dia."


Gue melongo tidak percaya menatap Ayesha yang kini sudah berlari untuk mengambil pesanannya.


"Buset, Kak, anak lo." Gue berdecak tidak percaya melihat kelakuannya, itu bocah seriusan masih umur sebelas tahun?


"Itu anak emang udah pinter banget kalau disuruh delivery order gini, Za, lo sih yang salah pake manjain dia segala." Kak Isa kemudian menyerahkan dompet gue yang tadi sempat gue titipin ke dia, karena gue kebelet boker.


"Salah gue juga?"


"Ya, iya, salah lo lah, emang salah siapa lagi? Salah jodoh lo gitu?" Kak Isa terkekeh geli lalu mendekatkan diri agar lebih dekat dengan gue, "gimana sama Zea? Ada progress nggak nih? Katanya lo mau ngelamar dia."


"Sembarangan!"


Kak Isa langsung terbahak. "Kenapa nggak diamini aja sih? Enggak mau lo sama Zea? Padahal dia oke juga loh, udah cantik, pinter, ramah, jago bikin kue lagi. Duh, kalau gue laki nih ya, Za, udah gue cerein istri gue terus milih nikah sama Zea."


"Astagfirullah, Kak!" protes gue kesal dengan candaannya, yang menurut gue emang kurang sopan aja sih.


"Hehe, bercanda, kan gue perempuan. Bersyukur juga kok gue jadi perempuan, jadi nggak pengen nikung calon jodoh lo kan."


Gue menghela napas panjang mengingat hubungan gue sama Zea. Banyak fans yang menginginkan kita bersatu tapi ternyata nggak sedikit juga yang tidak menginginkan hal ini terjadi.


Wajar sih kalau nggak semua orang akan menyukai atau menghargai keputusan kita. Tapi tetap saja harus banget ya sampai begininya? Sampai membuat Zea tidak nyaman dan terganggu. Kan gue jadinya makin merasa bersalah karena hal ini.


Gue menatap Kak Isa ragu-ragu. Saat hendak mengutarakan pertanyaan gue, Ayesha tiba-tiba masuk samb teriak-teriak memanggil nama gue.


"Om Eza!"


"Apaan sih? Teriak-teriak kayak lagi di hutan aja."


Tanpa rasa malu, Ayesha langsung menodongkan telapak tangan gue. "Minta uang, itu oderannya masih kurang, minta sepuluh ribu."


Meski sambil mendengus, gue kembali mengeluarkan dompet yang tadi sempat gue masukin ke celana.


"Nih," ucap gue sambil menyodorkan uang du puluhan ribu.


Ayesha berseru kegirangan.


"Asik, bisa sekalian beli es krim keliling!" serunya sebelum melarikan diri keluar rumah. Gue hanya mampu menatap mereka tubuh dewasa dan dengan dewasa.


tbc,

__ADS_1


maaf kalo ada kalimat ngaco, soalnya ini diketik sambil tidur dan ketiduran😭


__ADS_2