Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Saingan nih?


__ADS_3

Setelah selesai memilih pakaian yang hendak gue pakai, perut kenyang abis sarapan. Gue kemudian memutuskan untuk langsung berangkat ke lokasi acar. Selama perjalanan tidak ada kendala sama sekali dan gue berharap semua akan berjalan lancar sampai selesai acara. Harapan gue juga tidak akan muluk-muluk, minimal bisa lah banyak momen sama Zea. Atau kalau nggak banyak-banyak juga nggak papa lah. Yang penting gue punya momentum berdua sama Zea. Setidaknya itu sudah cukup, jadi orang nggak boleh serakah.


Tapi sepertinya harapan gue akan sedikit sulit terwujud. Bagaimana tidak, gue baru selesai parkir, baru mau melepas seat belt, belum gue lepas dan baru gue pegang doang, tapi gue sudah disambut pemandangan tidak mengenakkan.


Sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan sekaligus membuat emosi gue mendidih. Siapa pria itu? Kenapa terlihat akrab banget sama Zea, keduanya bahkan terlihat terlihat asik tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka tertawakan. Gue langsung mengumpat samar.


Sialan, udah ada yang curi start duluan?


Tunggu, sebentar, jangan bilang ini orang yang dimaksud Zidan?


Pucuk dicinta ulam pun tiba, baru gue sebut namanya, tahu-tahu ponsel gue berbunyi dan nama Zidan yang muncul di sana.


"Gimana? Lo udah sampe lokasi?" sapa Zidan dengan nada menyebalkannya.


Wah, kesempatan nih. Saatnya balas dendam.


"Assalamualaikum," sapa gue dengan nada menyindir. Persis seperti yang Zidan lakukan saat menelfon gue tadi.


Terdengar suara deheman dari seberang. "Wa'alaikumsalam. Gimana? Udah sampe atau masih kejebak macet lo?" tanyanya kemudian.


Gue tersenyum lalu menjepit ponsel gue untuk mempermudah gue saat melepas seat belt. "Udah, ini lagi di tempat parkir. Baru mau lepas seat belt, mau keluar dari mobil," lapor gue, "thanks ya, perhatian banget sih lo, baru nyampe udah ditanyain kejebak macet apa enggak. Emang calon kakak ipar yang baik deh lo, Dan," sambung gue kemudian.


Zidan berdecak kesal. Bagus, tujuan gue emang bikin dia kesal. Karena menurut gue sekarang, gue nggak bisa pake metode baik-baikin dia. Kita ikutin aja cara main dia sekalian.


"Jangan kebanyakan ngimpi dulu, Za, kalau nggak kesampean ntar nangis," ledeknya kemudian.


Gue tersenyum lalu membuka mobil dan turun dari sana. "Makasih banget loh, Dan, lo perhatian banget sumpah. Gue jadi bingung gimana balesnya," balas gue kurang nyambung.

__ADS_1


Kali ini terdengar dengusan tidak percaya, lalu tak lama setelahnya Zidan tertawa meremehkan. "Lo itu terlalu percaya diri, Za!"


Gue mengangkat bahu tidak peduli. "Karena emang modal utama gue adalah percaya diri, kalau gue nggak percaya diri, gue nggak akan sampai di sini, Dan."


Sekali lagi Zidan mendengus. "Gue nggak peduli, yang penting gue cuma mau ngingetin kalau ntar di sana, lo bakalan ketemu saingan lo. Yang mau jadi adik ipar gue bukan lo doang, Za. Tolong diingat!"


Pandangan mata gue kemudian langsung terfokus pada seorang pria yang tengah bersama Zea. Apakah orang itu yang dimaksud Zidan? Kalau iya, kayaknya gue patut merasa insecure. Lihat saja penampilan pria itu. Biasa aja sih sebenernya, tapi wajahnya cukup tampan dan senyumnya sangat lah manis. Tinggi badannya tidak terpaut jauh dari Zea, cocoknya jadi temen doang tuh.


"Eza! Lo itu kebiasaan banget sih?!" bentak Zidan tiba-tiba.


Hal ini membuat lamunan gue langsung buyar seketika. Buset deh.


"Lo nggak dengerin gue lagi?" tanyanya dengan nada bicara tidak percaya.


Gue menghela napas panjang. "Hm, gue lagi fokus sama apa yang lo bilang barusan."


"Maksud lo?" tanyanya bingung.


Zidan langsung tertawa samar. "Bawel banget lo sumpah, Za!"


"Kali ini gue maafin, Dan, tapi lain kali lo harus gantian berada di pihak gue," balas gue makin nggak nyambung.


"Lah, kenapa gue harus? Suka-suka gue lah mau gimana, ngapain lo yang atur? Lo nggak punya hak, Za." Kali ini giliran Zidan yang protes. Tapi gue nggak peduli.


"Bodo amat, gue tutup," ucap gue dengan nada kesal.


"Woe--"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Zidan gue langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Bodo amat kalau semisal pria itu akan semakin kesal atau lainnya, karena saat ini gue juga sama kesalnya dengan pria itu. Enak aja, emang yang bisa bikin kesel dia doang? Gue lebih jago lah. Lo liat aja ntar, Dan!


Gue kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu mulai berkaca pada kaca spion untuk memastikan penampilan gue. Setelah merasa sudah oke, gue langsung menghampiri mereka. Tak lupa dengan memasang senyum terbaik gue. Oke, udah siap ketemu calon pujaan hati.


"Assalamualaikum, Zea!" sapa gue, "sini biar gue bantu." gue kemudian langsung mengambil alih kardus yang Zea bawa. Perempuan itu nampak kaget selama beberapa saat, namun, tetap tidak memprotes.


"Wa'alaikumsalam. Kak Eza pagi amat datengnya? Kan aku bilang Kak Eza bisa datengnya agak siangan."


Gue tersenyum tipis. "Enggak papa, dari pada gabut di rumah."


"Emang nggak ada jadwal syuting?" tanyanya lagi.


Gue menggeleng cepat lalu menjawabnya dalam hati. "Pagi ini sih kosong karena gue re schedule jadi nanti malam."


Zea mengangguk paham sambil tersenyum. "Oh ya, kenalin, Kak, ini namanya dokter Pras, tim medis yang bakalan bantu periksa kesehatan anak-anak nanti."


Langkah kaki gue seketika langsung berhenti, wajah gue seketika berubah panik. Tunggu, sebentar, Zea bilang pria itu adalah dokter? Jadi ini alasan Zidan lebih mendukung pria ini ketimbang gue? Karena profesinya? Gue langsung mengumpat dalam hati. Kalau dibandingkan dengan profesi dokter, profesi gue jelas saja dianggap sebelah mata oleh Zidan. Dan pantas saja Zidan bersikap begini.


"Kak! Kak Eza!"


"Hah?" Lamunan gue langsung buyar, "ya, gimana, Ze?"


"Dokter Pras ngajak salaman, Kak," ringis Zea seperti orang yang sedang salah tingkah.


Gue mengangguk paham lalu menjabat tangan pria itu. Tak lupa sambil memasang senyum. "Eza."


"Pras."

__ADS_1


"Dokter Pras ini juniornya Mas Zidan, Kak," ucap Zea menjelaskan, "Mas Zidan hari ini nggak bisa ikut makanya minta juniornya yang dateng. Kata Mas Zidan, dokter Pras ini lulusan terbaik loh, Kak."


Gue hanya mengangguk seadanya sambil tersenyum seadanya. Sedangkan Pras, pria itu kini sedang tersenyum sok malu-malu. Dih, sok iyes banget ini orang. Padahal keliatannya biasa aja tuh.


__ADS_2