
"Mas, ntar minta tolong mampir ke apotek dulu, ya," ucap gue sambil melirik Mas Tito sekilas. Gue kemudian kembali menyandarkan tubuh ke badan kursi penumpang, perut gue mulai terasa tidak nyaman.
"Ngapain?" tanya Mas Tito heran. Dia tidak menoleh karena fokus menyetir.
Gue menghela napas sambil memegang perut. Alhasil, mau tidak mau Mas Tito menoleh sebentar ke arah gue.
"Kenapa? Perut lo sakit? Atau nggak nyaman? Lo abis makan apaan emang?" berondong Mas Tito seolah tiada henti, "bentar, kayaknya gue nggak kasih lo makan yang aneh-aneh deh," sambungnya kemudian.
"Abis minum kopi gue."
Ciiitttt!
Secara tiba-tiba Mas Tito menghentikan mobil begitu saja dan melotot tajam ke arah gue. "Apa lo bilang?"
Gue meringis takut-takut. "Dikit doang, Mas."
Mas Tito mendengus lalu kembali melajukan mobilnya. "Dikit atau banyak sama aja, kata orang mending banyak sekalian," omelnya galak, "dibandingkan orang lain, lo lah yang paling tahu kondisi lo sendiri, Za. Gue nggak pernah cerewet soal beginian karena gue percaya lo, tapi kenapa sekarang lo bersikap ceroboh begini? Jadwal kita minggu ini masih padet, lo jangan macem-macem! Lo lupa kata Barra?"
"Ya, abis gue nggak enak, Mas."
"Ini nih yang nggak gue suka banget dari lo kalau naksir cewek, otaknya langsung turun ke dengkul."
"Mas!" panggil gue dengan nada tidak terima.
"Apa?" tantang Mas Tito tidak mau kalah, "lo itu bisa nggak sih berhenti melakukan hal-hal yang bakal merugikan diri lo sendiri cuma gara-gara nggak enak? Apa susahnya sih bilang 'sorry, gue nggak biasa minum kopi'. Udah beres, gitu doang. Sesulit itu?"
Gue langsung mengangguk cepat. "Iya, Mas, sesusah itu. Lo sih nggak tahu nggak enaknya orang nggak enakan itu."
"Udah tahu nggak enak tapi masih aja dilanjut terus," decak Mas Tito dengan wajah kesalnya, "udah mending lo tidur, siapa tahu ntar bangun enakan. Kalau sampai lo kenapa-kenapa gue juga yang bakal kena omel Barra, Za. Lo kayak nggak tahu itu orang kalau ngamuk udah ngalahin singa betina."
__ADS_1
Gue meringis. Barra emang kalau ngamuk soal kerjaan serem sih. Makanya gue selalu berhati-hati buat nggak bikin bos gue itu naik darah sebisa mungkin
Ragu-ragu Mas Tito melirik gue. "Masih kuat kan lo?"
Gue langsung tertawa. "Tenang, aman, Mas."
"Apa kita puter balik dulu buat ke dokter baru lanjut ke lokasi selanjutnya, telat dikit nggak papa, Za, yang penting lo aman. Gue ngeri deh kalau lo kenapa-kenapa. Ntar gue juga yang kena hujat fans lo kalau sampai lo kenapa-kenapa, njir."
Kali ini gue tersenyum seraya menenangkan Mas Tito. "Aman, Mas, serius. Cuma nggak nyaman dikit doang, soalnya tadi juga gue minumnya dikit kok."
Meski raut ekspresinya masih terlihat tidak tenang, pada akhirnya Mas Tito mengangguk paham lalu membelokkan mobilnya saat menemukan sebuah apotik.
***
Gue tidak dapat menahan kerutan di dahi gue, saat membuka pintu gerbang dan menemukan Barra di sana. Sedang menenteng plastik bening berisi Styrofoam, yang kayaknya dapat gue tebak apa isinya itu.
"Ngapain?"
Oke, kayaknya sedang bos mode on. Jadi gue nggak boleh banyak protes dan langsung menutup pintu gerbang sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam rumah.
"Gimana kondisi lo?"
Gue mengangguk. "Baik."
"Kata Tito lo kemarin sempet muntah-muntah pas ngisi acara, yakin lo nggak perlu ke rumah sakit?"
Ekspresi khawatir terlihat cukup jelas dari wajah Barra, meski pria itu berusaha untuk menyembunyikannya.
Gue menggeleng. "Enggak, udah enakan kok kalau sekarang. Lagian obat gue masih."
__ADS_1
"Gue beliin lo bubur ayam, tanpa kacang. Mending lo sarapan dulu!"
Barra kemudian duduk di sofa sambil membuka i-Padnya. Sedangkan gue langsung membuka plastik bawaan Barra. Tahu aja ini bos gue kalau gue belum sarapan.
"Obatnya jangan lupa diminum dulu." Barra mengalihkan pandangan i-Padnya guna melirik gue, "sebelum makan kan biasanya kalau obat maag tuh?"
"Udah gue makan."
Barra tidak berkomentar lalu mengangguk paham. Gue kemudian langsung mulai sarapan. Kami sama-sama tidak memulai obrolan setelahnya, fokus dengan kegiatan masing-masing. Sampai akhirnya Barra yang memulai pembicaraan lebih dahulu.
"Lo tahu kan, Za, jadwal promosi lo sampai ke luar kota?"
Gue mengangguk paham. Tentu saja tahu, ini kan bukan kali pertama gue promosi film, sudah hampir jadi makanan sehari-hari malah. Jadi gue nggak mungkin nggak tahu.
"Terus kenapa nekat? Kita perlu perbarui kontrak kita nggak sih, Za? Gue kasih lo aturan baru biar nggak usah pacar-pacaran dulu biar fokus ke karir lo."
"Waits, bro, santai dong! Lo jangan ngajakin gue gelud pagi-pagi lah. Lo berani kasih gue kontrak beginian gue batalin lah kontrak kita, biarin deh, bayar denda, bayar denda gue," ucap gue emosi, "lagian siapa yang pacaran woe?"
"Nah, justru karena lo belum pacaran aja begini, apa kabar kalau udah pacaran. Enggak kebayang deh gue seberapa banyak masalah yang bakal lo bikin."
Gue menatap Barra datar. Nafsu makan gue kini sudah menguap entah kemana. "Bar, lo serius giniin gue? Lo lupa siapa gue?"
Barra menggeleng. "Tapi, Za, mau lo putra bungsu Al Shariq pun, nggak akan mempengaruhi apapun. Lo tahu kenapa? Ya karena karir lo di sini nggak didukung beliau."
"Bukan itu yang gue maksud, anjir! Gue nggak berniat bawa-bawa nama keluarga gue, ya. Tapi gue ngomongin persahabatan kita. Kita udah temenan berapa tahun sih, Bar, sampai lo giniin gue?"
Barra menghela napas. "Karena gue punya firasat lo bakalan bagaimana kalau hubungan lo sama Zea berhasil. Gue kenal lo, Za. Gue sangat paham lo itu orangnya gimana. Emang lo nggak sayang sama karir lo? Karir lo lagi bagus-bagusnya, posisi lo sekarang adalah posisi yang diimpikan banyak orang."
"Gue nggak ngerti." Gue menggeleng tidak paham, "mau berhasil atau enggak hubungan gue nantinya sama Zea, nggak akan mempengaruhi karir gue."
__ADS_1
Kali ini Barra mendengus. "Percaya diri banget lo," sindirnya kemudian, "tahu lah. Terserah lo mau gimana, cuma gue nggak mau apa yang lo lakuin sekarang atau dalam waktu dekat akan mempengaruhi karir lo dan berimbas ke perusahaan agensi gue. Bisa kan?"
Dengan wajah sedikit kesal, gue mengangguk cepat. Barra tidak berkomentar apapun lalu memilih pamit pergi. Gue langsung mempersilahkan dia pergi tanpa repot-repot untuk mengantarnya. Bodo amat gue masih agak kesal dengan Barra.